Melawan Dominasi Gawai dengan Interaksi Nyata

Di tengah maraknya online gaming yang mendominasi perhatian generasi muda, Komunitas Bermain menawarkan alternatif: pengalaman sosial yang nyata.
Iqbal menekankan bahwa inti dari komunitas ini bukan sekadar permainan, tetapi interaksi. “Apalagi yang kita bangun tuh lebih ke pengalaman sama momennya gitu. Gimana caranya kita bisa ketawa bareng, seneng-seneng bareng,” ujarnya.
Permainan tradisional menjadi medium untuk membangun kembali interaksi yang selama ini kerap tereduksi oleh penggunaan gawai. Tanpa layar, komunikasi terjadi secara langsung, spontan, dan tanpa jarak.
Bagi sebagian peserta, pengalaman ini menjadi sesuatu yang jarang ditemui dalam keseharian. Di tengah rutinitas dan tekanan kota, ruang seperti ini menjadi tempat untuk melepas beban sekaligus membangun koneksi baru.
Komunitas ini juga berkembang pesat. Dari aktivitas kecil di Jakarta, kini telah muncul cabang di berbagai kota seperti Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Menariknya, ekspansi ini didorong oleh inisiatif peserta yang ingin menghadirkan pengalaman serupa di daerah mereka.
“Kita tuh selalu menyampaikan kalau komunitas bermain itu untuk siapapun, untuk usia berapapun, untuk rasa apapun, untuk gender apapun,” kata Iqbal.
Nilai inklusivitas ini dijaga melalui aturan yang diterapkan di setiap cabang, meskipun tantangan sosial di beberapa daerah masih ada.
Ruang Baru untuk Terhubung di Tengah Kota

Setelah berbincang, saya memutuskan ikut bermain. Dalam sekejap, peran sebagai pengamat berganti menjadi peserta. Saya mencoba berbagai permainan seperti suit monopoli, bulan-bulanan, hingga lompat karet.
Sensasi yang muncul terasa berbeda. Tawa yang tercipta spontan, interaksi yang hangat, dan suasana yang cair membuat pengalaman ini terasa lebih hidup dibandingkan interaksi virtual.
Suci, salah satu peserta yang baru pertama kali datang, mengaku tertarik setelah melihat konten viral di TikTok. “Seru banget, kayak mengenang masa kecil,” ujarnya. Ia juga menyoroti keramahan komunitas. “Orang-orangnya ramah-ramah.”
Pengalaman serupa dirasakan Amel, yang awalnya datang sendiri. “Awalnya deg-degan juga karena aku dateng sendiri, aku gak kenal siapa-siapa,” katanya. Namun rasa canggung itu hilang setelah mulai berinteraksi.
Bagi Tia, peserta lainnya, komunitas ini menjadi ruang untuk memperluas relasi. Ia melihat Komunitas Bermain sebagai tempat bertemu orang baru di tengah kehidupan kota yang cenderung individual.
Fenomena ini mencerminkan kebutuhan anak muda urban akan ruang interaksi yang lebih autentik. Terutama bagi perantau, komunitas seperti ini menjadi tempat untuk merasa terhubung tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
“Cukup bawa diri tuh udah bisa ketemu temen baru,” kata Iqbal.
Kegiatan ini rutin diadakan setiap Jumat malam di Parkir Timur GBK. Ruang terbuka yang sederhana itu perlahan berubah menjadi titik temu bagi mereka yang mencari sesuatu yang sering hilang di kota besar: tawa yang jujur dan interaksi yang nyata.