Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota

M. Reza Sulaiman

Senin, 11 Mei 2026 | 15:35 WIB
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
Potret Nyanyi Bareng Jakarta saat tampil di Sarinah, Jakarta, Jumat (8/5/2026). (Dokumentasi Yoursay/Suara.com)

Suara.com - Ada getaran yang terasa sangat istimewa ketika ratusan pita suara mengeluarkan nada dengan frekuensi yang sama. Jumat 8 Mei sore itu, di pelataran Sarinah, bukan kesempurnaan teknik paduan suara yang saya temukan, tapi kehangatan dari suara-suara yang tercipta. Nyanyi Bareng Jakarta (NBJ) berhasil menyembuhkan rasa lelah layaknya sebuah rumah.

Pukul lima sore di jantung Jakarta adalah waktu di mana ribuan kepala menyimpan lelah yang serupa. Saya salah satunya. Melangkah keluar kantor dengan ritme barisan kata yang masih berputar di kepala. Setelah sampai, tak ada kursi tersisa. Saya terpaksa berdiri di pinggiran, terjepit di antara bahu-bahu asing dengan heran, “Banyak juga ya yang datang? Satu jam sebelum dimulai pun sudah penuh dengan orang-orang berbaju maroon.” Ya, saat itu saya juga datang dengan baju maroon—dresscode yang mereka tentukan untuk mengenali identitas “warga” Nyanyi Bareng Jakarta. Sebagai penampil pembuka, NBJ naik ke atas panggung disambut oleh ledakan antusiasme dan sorakan suka cita.

Belajar Mendengar, Bukan Menghafal

Lagu "Senja Teduh Pelita" mulai mengalun. Para pemandu dari NBJ naik ke atas panggung dengan senyum yang terbuka lebar dan suara merdu yang terpancar. Seketika atmosfer berubah. Dalam hitungan detik, massa yang awalnya hanya penonton pasif bersatu menyanyikan nada yang padu.

Sebagai orang yang juga pernah terjun di paduan suara, saya terbiasa menghafal dan mempelajari tiap baris nada dengan disiplin tinggi. Namun, di tangan founder NBJ, Meda Kawu, musik menjadi urusan yang jauh lebih membumi. Ia memandu kami dengan perasaan, bukan teknik saklek atau paksaan. Tanpa notasi balok yang mengintimidasi, ia membimbing ratusan orang di hadapannya hanya dengan kekuatan pendengaran.

"Aku selalu bilang ke para fasilitator, bersuara saja," ungkap Meda, saat diwawancarai di belakang panggung. 

Baginya, identitas suara seseorang tidak melulu soal jangkauan nada, tapi soal karakter atau "warna". Pendekatan ini mampu membelah ratusan orang asing menjadi barisan sopran, alto, tenor, dan bass dalam waktu singkat.

Sarinah sore itu mendadak kedatangan choir dari berbagai penjuru Jakarta. Bahkan, ada yang rela datang dari luar kota untuk ikut bersuara. Sistemnya mudah; NBJ membagi ratusan orang menjadi 3 kelompok: A, B, dan C. Suara A adalah yang paling rendah, di sisi bagian kiri panggung. Suara B jadi suara tengah. Ia tidak terlalu tinggi, tidak juga rendah, tapi terkadang ini adalah bagian suara yang paling susah. Sementara itu, C adalah suara yang paling tinggi di sisi kanan panggung. Menggunakan sistem pecah suara sederhana, partisipan yang hadir mampu menciptakan harmoni yang sama.

Potret Nyanyi Bareng Jakarta saat tampil di Sarinah, Jakarta, Jumat (8/5/2026). (Dokumentasi Yoursay/Suara.com)
Potret Nyanyi Bareng Jakarta saat tampil di Sarinah, Jakarta, Jumat (8/5/2026). (Dokumentasi Yoursay/Suara.com)

Penawar Lelah kaum Profesional

Di balik keriuhan nada itu, ada alasan kuat mengapa NBJ tumbuh begitu organik. Salah satu founder NBJ, Gladys Santoso, melihat fenomena ini sebagai kebutuhan akan Third Space atau Ruang Ketiga.

"Orang-orang itu nggak cuma butuh first space, yaitu rumah, nggak cuma butuh second space, yaitu kantor. Tapi mereka butuh third space buat cari tahu tempat di mana mereka bisa terhubung lewat interest yang sama," jelas Gladys.

baca juga

Uniknya, mayoritas mereka yang rela "war tiket" demi bisa bernyanyi bukanlah orang-orang dari industri hiburan. Pesertanya justru didominasi oleh dokter, pengacara, hingga staf HRD. Mereka adalah individu-individu yang setiap harinya dituntut tampil sempurna secara profesional, namun menyimpan penat yang butuh disalurkan melalui suara.

Bermula dari Paksaan, Berakhir dengan Antrean

Semua bermula dari 22 April 2025 di sebuah studio di kawasan Melawai. Saat itu, Meda mengenang bagaimana ia harus sedikit "memaksa" kawan-kawannya untuk hadir. Meda Kawu bersama 2 founder lainnya, Gladys Santoso dan Jusuf Winardi, berhasil menggandeng 60 orang di event pertama.

“Waktu itu yang ikut baru 60 orang. 70 persen dari 60 orang itu adalah teman-teman kami yang kami undang. Bukan cuma diundang tapi dipaksa dikit,” ujar Meda sedikit tertawa dan mengingat masa itu tidak terbayang NBJ banyak peminatnya seperti sekarang.

Paksaan itu berubah menjadi ledakan rasa penasaran ketika dokumentasi mereka diunggah ke media sosial. Tiba-tiba saja, Jakarta terasa seperti kota yang haus akan koneksi untuk bersama-sama menyanyi. Di pertemuan kedua, antrean di aplikasi tiket sudah mengular. "Sebesar itu niat orang untuk menemukan sebuah singing club," ujar Gladys.

Di NBJ, tidak ada kurasi vokal yang kaku. Mereka menjunjung tinggi no judgement zone. Di sini, tingkat kemampuan bernyanyi ditinggalkan di pintu masuk. Hasilnya mengejutkan: NBJ berhasil mengumpulkan orang dari lintas generasi, mulai dari Gen Alpha hingga generasi senior yang datang dengan kursi roda. Bahkan, Meda dan Gladys menceritakan momen-momen manis sekaligus seru, di mana anak-anak muda rela "war tiket" demi orang tua mereka. Bagi mereka, NBJ bukan lagi sekadar tempat latihan vokal; ini adalah tempat di mana semua orang, terlepas dari usia dan profesinya, memiliki hak yang sama untuk mengeluarkan suara-suara uniknya.

Koneksi di Balik Nada

Potret Nyanyi Bareng Jakarta saat tampil di Sarinah, Jakarta, Jumat (8/5/2026). (Dokumentasi Yoursay/Suara.com)
Potret Nyanyi Bareng Jakarta saat tampil di Sarinah, Jakarta, Jumat (8/5/2026). (Dokumentasi Yoursay/Suara.com)

Layaknya pembagian suara spontan di Sarinah yang tanpa pendaftaran, kegiatan NBJ biasanya juga hampir mirip seperti itu. Namun, perbedaannya adalah setiap kegiatan mereka berlangsung dalam tiga jam dan terbagi dalam tiga sesi. Ini juga yang membuat NBJ lebih dari sekadar sesi karaoke massal.

Tiga sesi kegiatan itu adalah: Temukan Teman, Temukan Suara, dan yang paling esensial, Temukan Rasa. Gladys menekankan bahwa sebagai manusia, kita sering kali tidak membutuhkan solusi, melainkan koneksi.

"Di situ koneksi muncul, berasa nyaman, dan berasa terhubung... beban tuh bisa bareng-bareng diangkat. Itulah definisi rumah buat kita," ungkapnya.

Bagi Meda, momen paling berkesan adalah ketika energi antara penampil dan peserta saling bertukar. Ia bercerita tentang para perantau atau mereka yang memiliki isu kesehatan mental yang akhirnya berani keluar kamar karena menemukan keluarga di NBJ.

Meda menegaskan visinya, "Aku mau buktikan bahwa semua orang yang bisa ngomong, pasti bisa nyanyi. Makanya terbentuklah Nyanyi Bareng Jakarta".

“Buat aku semua momen NBJ sangat berarti karena pertukaran energi tadi yang akhirnya menjadi sinergi buat semua orang. Dan senangnya gak cuma buat aku ternyata, tapi buat orang-orang yang laporan, ‘kak makasih udah bikin NBJ’,” tambahnya.

Setiap lagu dikemas dengan ciri khas NBJ Version. Di sini, lagu bukan sekadar deretan nada, melainkan wadah bagi rasa. Sebab bagi mereka, sebuah lagu tidak akan benar-benar bercerita tanpa keterlibatan jiwa dari setiap orang yang menyuarakannya.

“Kita punya sesi temukan rasa. Kita gak cuma nyanyi bagusan-bagusan, tapi we sing dengan rasa. Misalkan lagunya kemarin sama The Lantis, Bunga Maaf. Promnya adalah ‘kata maaf kepada siapa sih yang belum sempat kamu utarakan?’ Nah jadi mereka tulis, kemudian nanti pas sesi itu kita pilih beberapa untuk dibacakan atau orangnya sharing sendiri,” ujar Gladys.

Dari sini, setiap orang yang datang bisa merasa saling menemani dan punya cerita relate dengan orang lain yang melakukan sharing, sehingga lagu yang akan dibawakan pun akan mempunyai rasa yang sama dan utuh.

Menuju Klimaks yang Baru

Ketika ditanya jika NBJ adalah sebuah lagu dan perjalanannya sudah sampai mana? Meda dan Gladys merasa NBJ baru sampai di tahap pre-chorus—sebuah jembatan dari verse menuju chorus yang masih sangat awal. Sementara itu, Jusuf mengatakan NBJ masih berjalan di intro. Banyak hal ke depannya yang akan lebih mengejutkan dengan improvisasi dan aransemen-aransemen yang menakjubkan untuk terjadi.

Meda Kawu (kiri) dan Gladys Santoso (kanan). Keduanya merupakan bagian dari founder komunitas Nyanyi Bareng Jakarta. (Dokumentasi Pribadi/Vicka)
Meda Kawu (kiri) dan Gladys Santoso (kanan). Keduanya merupakan bagian dari founder komunitas Nyanyi Bareng Jakarta. (Dokumentasi Pribadi/Vicka)

Layaknya musik jazz yang penuh dengan surprise namun terarah, NBJ akan mencoba merambah ke minat-minat lain di luar harmonisasi suara. Cluenya sudah muncul. Akan ada titik-titik yang terisi setelah huruf N yang sebelumnya "Nyanyi" untuk melengkapi namanya menjadi adik dari Nyanyi Bareng Jakarta.

“Semoga semakin banyak orang yang bisa mendapatkan obat paling ringan, yaitu hati yang gembira. Nggak cuma berkumpul lewat nyanyi, tapi berkumpul lewat interest-interest lainnya juga,” harap Gladys.

Intinya, malam itu di Sarinah, saat harmonisasi terakhir memudar di udara Jakarta, saya menyadari mengapa saya begitu menikmati liputan ini. Bukan hanya karena saya seorang anak paduan suara yang merindukan panggung, tetapi karena saya menyaksikan bagaimana sebuah kota yang sibuk dan dingin bisa mendadak hangat hanya karena orang-orangnya sepakat untuk bernyanyi bersama.

Seperti kutipan lagu Nadhif Basalamah yang disebut Meda untuk menggambarkan NBJ: "kota ini tak sama tanpamu". Dan bagi saya, Jakarta sore itu terdengar jauh lebih merdu. Jika kamu ingin merasakah vibes yang sama untuk menemukan ketenangan dan rumah sehangat pelukan di Jakarta, kamu bisa pantau terus Instagram mereka di @nyanyi.barengjkt.

(Reporter: Vicka Rumanti)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Main Karet di GBK Bareng Komunitas Bermain: Nostalgia Seru yang Kadang Terbentur Ribetnya Izin

Main Karet di GBK Bareng Komunitas Bermain: Nostalgia Seru yang Kadang Terbentur Ribetnya Izin

Your Say | Rabu, 06 Mei 2026 | 16:34 WIB

Klub Main Bareng: Tempat Nongkrong Anti-Kaku bagi Para Pencinta Kreativitas di Bangka

Klub Main Bareng: Tempat Nongkrong Anti-Kaku bagi Para Pencinta Kreativitas di Bangka

Your Say | Rabu, 06 Mei 2026 | 11:10 WIB

Komunitas Bermain: Ruang Sederhana di Tengah Kota yang Mengembalikan Masa Kecil Saya

Komunitas Bermain: Ruang Sederhana di Tengah Kota yang Mengembalikan Masa Kecil Saya

Lifestyle | Rabu, 06 Mei 2026 | 08:10 WIB

Di Tengah Ramainya Malioboro, Komunitas Andong Ini Terhubung Lewat Selapan

Di Tengah Ramainya Malioboro, Komunitas Andong Ini Terhubung Lewat Selapan

Your Say | Senin, 04 Mei 2026 | 17:45 WIB

Promo hingga Fun Run Ramaikan Helloversary ke-4 Hello Store

Promo hingga Fun Run Ramaikan Helloversary ke-4 Hello Store

Foto | Minggu, 26 April 2026 | 06:00 WIB

Ketum TP PKK Soroti Pentingnya Keamanan Perempuan di Semua Ruang, Termasuk Dunia Digital

Ketum TP PKK Soroti Pentingnya Keamanan Perempuan di Semua Ruang, Termasuk Dunia Digital

News | Minggu, 26 April 2026 | 16:00 WIB

Terkini

Jalani Tes Calon Hakim Tipikor MA, Letkol Sudiyo Janji Bawa Budaya Peradilan Militer

Jalani Tes Calon Hakim Tipikor MA, Letkol Sudiyo Janji Bawa Budaya Peradilan Militer

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:07 WIB

Lawan Patriarki! 5 Novel Populer Ini Berisi tentang Kritik Feminisme

Lawan Patriarki! 5 Novel Populer Ini Berisi tentang Kritik Feminisme

Your Say | Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:05 WIB

Dari Sampah Jadi Berkah: Kisah Armawati Gerakan Perubahan

Dari Sampah Jadi Berkah: Kisah Armawati Gerakan Perubahan

Bisnis | Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:03 WIB

Review Di Tanah Lada: Cerita Anak dan Kekerasan dalam Keluarga

Review Di Tanah Lada: Cerita Anak dan Kekerasan dalam Keluarga

Your Say | Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:00 WIB

Skin Tint Somethinc Apa Cocok untuk Kulit Sawo Matang? Ini 12 Pilihan Shade-nya

Skin Tint Somethinc Apa Cocok untuk Kulit Sawo Matang? Ini 12 Pilihan Shade-nya

Lifestyle | Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:59 WIB

El Nino Menguat di Tengah Krisis Iklim, Apa Dampaknya bagi Dunia?

El Nino Menguat di Tengah Krisis Iklim, Apa Dampaknya bagi Dunia?

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:55 WIB

Dari Tradisi Jadi Prestasi: Cerita di Balik Bangkitnya Desa Wisata Kemiren

Dari Tradisi Jadi Prestasi: Cerita di Balik Bangkitnya Desa Wisata Kemiren

Your Say | Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:49 WIB

4 Contoh Teks Amanat Pembina Upacara Hari Pramuka yang Singkat dan Menyentuh Hati

4 Contoh Teks Amanat Pembina Upacara Hari Pramuka yang Singkat dan Menyentuh Hati

Lifestyle | Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:48 WIB

Prestasi Merosot, Timnas Indonesia Mulai Kehilangan Kepercayaan Suporter?

Prestasi Merosot, Timnas Indonesia Mulai Kehilangan Kepercayaan Suporter?

Your Say | Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:45 WIB

Rupiah Kembali Melemah, Investor Tunggu Inflasi AS dan Pengumuman MSCI

Rupiah Kembali Melemah, Investor Tunggu Inflasi AS dan Pengumuman MSCI

Bisnis | Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:42 WIB

×