Di Gang Sempit, River Ranger Jakarta Ajarkan Prinsip Sustainable Living Tanpa Menggurui

M. Reza Sulaiman

Selasa, 21 April 2026 | 11:32 WIB
Di Gang Sempit, River Ranger Jakarta Ajarkan Prinsip Sustainable Living Tanpa Menggurui
Kegiatan eco-enzyme di Sanggar Kemala, Duren Tiga (Dokumentasi/River Ranger Jakarta)

Suara.com - Aroma fermentasi khas dari kulit jeruk langsung menyambut saya begitu melangkah masuk ke Sanggar Kemala, Duren Tiga. Siang itu, saya sengaja menyambangi Kelurahan Duren Tiga dengan maksud melakukan wawancara mendalam dengan komunitas River Ranger Jakarta. Kebetulan, mereka sedang mengedukasi warga RW 03 untuk membuat eco-enzyme.

Saat saya tiba, ibu-ibu dan bapak-bapak Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) serta Pokja 3 warga setempat sedang larut dalam keasyikan membuat cairan serbaguna tersebut. Mereka terlihat begitu antusias mencari tahu manfaat dari eco-enzyme ini. Ada cairan untuk pembersih rumah tangga alami hingga penjernih air, bahkan ampasnya bisa diolah menjadi bantalan kesehatan. Tidak ada formalitas kaku di sini, yang saya temukan hanyalah diskusi hangat dan proses belajar yang penuh kesabaran.

Tersesat: Awal dari Sebuah Perjalanan yang Tepat

Kegiatan eco-enzyme di Sanggar Kemala, Duren Tiga (Dokumentasi/River Ranger Jakarta)
Kegiatan eco-enzyme di Sanggar Kemala, Duren Tiga (Dokumentasi/River Ranger Jakarta)

Jika diingat lagi, sampai di lokasi ini saja saya sudah bersyukur karena sebelumnya saya sempat tersesat akibat arahan Google Maps yang kurang akurat. Masalahnya sepele namun fatal: phone holder di motor saya sudah longgar. Setiap kali melewati gundukan atau jalan berlubang, ponsel bergeser dari pandangan. Alhasil, saya hanya mengandalkan instruksi suara melalui earphone, yang justru membawa saya ke arah yang salah.

Namun, pengalaman nyasar ke SMA 55 dan Puskesmas justru terasa seperti prolog yang pas. Seperti halnya River Ranger Jakarta yang membangun gerakan dari ketidakterdugaan, kedatangan saya di gang ini pun dimulai dari ketersesatan yang berujung pada pertemuan menyenangkan.

Tepat di rumah Bu LMK, sang tuan rumah sekaligus host kegiatan, pemandangan hangat menyambut saya. Di sini, saya merasakan energi warga yang sangat luar biasa. Tawa dan semangat berbagi mengalir tanpa sekat ruang rapat formal. Bagi saya, ini adalah cerminan nyata dari esensi River Ranger Jakarta.

Sejak awal berdiri, komunitas ini memang tidak berpegang pada aturan baku yang kaku. Sang inisiator, Syahiq, bersama Koordinator Kurikulum, Nana, tidak membawa materi yang harus ditelan mentah-mentah oleh warga. Mereka lebih memilih menyatu dengan permasalahan, mengobservasi apa yang kurang, lalu membangun solusi bersama secara organik.

Pengalaman di gang sempit ini mengajarkan saya bahwa untuk menemukan solusi, kita memang harus rela sedikit tersesat. Nana menceritakan bahwa jiwa komunitas ini lekat dengan hobi Syahiq Harpi yang gemar bertualang ke kawasan Indonesia Timur. Karakter itu sangat terlihat dari cara mereka berbicara dan memperhatikan hal-hal kecil.

Syahiq dan Nana tidak hanya hadir, tapi benar-benar terlibat secara emosional. Mereka menyambut saya dengan senyuman tulus. Syahiq dengan luwes menghidupkan suasana bersama warga, ditimpali tawa yang memenuhi ruangan. Satu momen yang membekas adalah saat Syahiq menyadari kalung salib yang saya pakai. Tidak ada rasa canggung, justru pancaran toleransi terasa sangat natural. Ia bercerita bahwa ia teringat teman-temannya di Papua. Pengalaman hidup itulah yang membentuk karakternya menjadi sosok membumi dan berhati terbuka.

baca juga

"River Ranger Jakarta itu senang banget tiba-tiba tersesat ke mana, tinggal di sana, observasi, lalu bikin kegiatan tanpa plan," ungkap Nana. Gaya kerja organik inilah yang membuat mereka sangat fleksibel di lapangan.

Adaptasi di Lapangan: dari Hama hingga Literasi Teknologi

River Ranger Jakarta melakukan edukasi di Trans Patoa (Instagram/@riverrangerjakarta)
River Ranger Jakarta melakukan edukasi di Trans Patoa (Instagram/@riverrangerjakarta)

Di Trans Patoa, Sulawesi Utara, Syahiq menemukan bahwa masalah utama warga bukan sekadar sampah plastik, melainkan hama yang menyerang kebun cengkeh dan cabai mereka. Ilmu pengetahuan yang terbatas membuat warga tidak tahu harus berbuat apa. Mereka tidak mampu membeli pestisida atau pupuk kimia yang mahal.

“Di sana kan banyak jeruk, dan jeruk itu nggak ada harganya sama sekali. Bisa Rp4.000 atau Rp3.000 per kilo,” ungkap Syahiq.

Melihat banyaknya jeruk yang membusuk dan terbuang karena harga jualnya rendah, Syahiq melihat peluang. "Aku ajak mereka untuk bikin eco-enzyme. Eco-enzyme itu kan banyak fungsinya ya. Fungsinya sebagai kayak membasmi hama, seperti fungisida ataupun pestisida," jelasnya. Dengan bahan alami yang ada di sekitar, warga akhirnya bisa melindungi tanaman mereka dengan cara yang lebih murah dan aman bagi tubuh.

Prinsip "customize" atau penyesuaian ini kembali diuji saat Syahiq menginjakkan kaki di Desa Syurdori, Papua. Awalnya, ia berniat membawa materi waste management. Namun, realita di lapangan berbicara lain. Warga di sana ternyata lebih membutuhkan literasi teknologi.

"Aku nggak bisa maksain tentang program. Aku udah nggak mampu menjalankan program itu. Karena yang dibutuhkan bukan itu saat itu," kenang Syahiq.

Alhasil, meski jauh dari visi-misi utama River Ranger yang berfokus pada lingkungan, ia memutuskan untuk mengajar komputer kepada guru-guru setempat. Baginya, memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat adalah pintu masuk untuk membangun kepercayaan. Ini juga masih sejalan dengan tujuan awal pembentukan River Ranger, yakni sebagai wadah untuk belajar.

Saat menceritakan ini, saya bisa merasakan ketulusan mereka. Mimik wajah Syahiq terlihat sangat merindu pada teman-teman di Timur. Dengan mata berbinar, ia tampak sangat bersemangat bisa membantu orang lain belajar.

Mengingat Sungai yang Pernah Hidup

Seorang anak yang belajar dan memperjuangkan kemerdekaan sampah bersama River Ranger Jakarta (Instagram/@riverrangerjakarta)
Seorang anak yang belajar dan memperjuangkan kemerdekaan sampah bersama River Ranger Jakarta (Instagram/@riverrangerjakarta)

Nah, kembali ke akarnya. Syahiq bercerita bahwa awalnya, gerakan yang digaungkan River Ranger Jakarta memang tidak langsung menyentuh isu lingkungan. Bersama Nana, yang sebelumnya mengelola taman baca, Syahiq membuka kelas bahasa Inggris, fotografi, hingga matematika dan bahasa Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka menyadari ada masalah yang lebih mendesak. Masyarakat pinggiran sungai tidak lagi hidup selaras dengan alamnya.

Inilah yang membuat fokus River Ranger bergeser menjadi pendidikan sustainable living. Mereka membawa anak-anak pergi ke kebun untuk belajar di pinggiran sungai.

“Jadi ngelihat sendiri, ini loh tanaman-tanaman yang cuma ada di sini, endemik Condet, bahkan yang nggak ada di luar. Seperti Buni asli Condet, Salak, Gandaria, Menteng, Kuweni, Kedoya, Bintaro, semua yang ada di nama-nama jalanan yang mereka cuma tahu itu sebagai nama jalanan, padahal buahnya masih ada di Condet,” ujar Nana.

Pengenalannya pun dimulai dari yang paling dasar agar anak-anak memahami bagaimana kerusakan ini bisa terjadi dan apa yang menyebabkan kerusakan itu. Jujur saja, saya juga baru tahu kalau nama-nama jalan yang ada di Jakarta ini ternyata adalah buah.

“Jadi kita kenalkan mereka sama sungai. Ini loh sungai kalian tuh yang tadinya berbatu-batu, bersih, bisa mandi di dalamnya, sekarang warnanya keruh, coklat, banyak sampah, dan kita coba untuk ajak mereka mengenali sampah di sekitar situ,” cerita Nana. Dari sini, anak-anak akhirnya melihat sendiri bahwa sampah plastik yang ada, tidak terurai walaupun sudah bertahun-tahun lamanya.

Mendengar itu, saya merasa sedih. Kenyataan ini terasa seperti pil pahit. Jika tidak berubah, mungkin 40 tahun lagi sungai kita hanya akan menjadi saluran pembuangan raksasa yang mati.

Empati sebagai Nadi Perubahan

River Ranger Jakarta belajar di Kebun Kumara (Instagram/@riverrangerjakarta)
River Ranger Jakarta belajar di Kebun Kumara (Instagram/@riverrangerjakarta)

Dengan tidak menarik tarif atau rate card, River Ranger Jakarta membuktikan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten. Perjalanan mereka bukan hanya tentang membersihkan air yang keruh, melainkan tentang memulihkan hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Nana percaya bahwa setiap individu memiliki kekuatan untuk memengaruhi sekitarnya.

“Semua langkah besar pasti dimulai dari satu langkah. Be a change, jadi contoh buat orang lain, dan kamu akan rasakan semua orang akan berubah gara-gara satu orang," pesannya dengan penuh semangat.

Ini berdampak nyata bagi saya. Setelah kegiatan selesai, kami sempat makan bersama, dan di situlah saya melihat sendiri bagaimana prinsip Nana dipraktikkan tanpa perlu banyak bicara. Tanpa menggurui, mereka menunjukkan cara hidup minim sampah dengan menolak sedotan plastik, menggunakan tumbler, hingga memilah sampah organik dan anorganik.

Melihat aksi nyata itu, saya tersadar bahwa “menjadi contoh” bukan soal bicara besar, tapi soal pilihan kecil yang dilakukan berulang kali. Membawa tumbler, menolak sedotan, serta membawa wadah makan dari rumah kini menjadi gaya hidup baru bagi saya. “Rupanya, efek menular dari kebaikan itu benar-benar ada,” pikir saya kemudian.

Pada akhirnya, seperti yang dikatakan Syahiq bahwa perjuangan ini bermuara pada satu nilai inti yang sering kali terlupakan: kerusakan lingkungan itu bukan salah sampahnya, tapi dari hilangnya rasa empati yang dimiliki manusia.

Jadi, yuk, mulai kembalikan empati itu dari diri sendiri! Mungkin tidak perlu langsung mengubah dunia, tapi cukup mulai dengan mengubah cara kita memandang sampah sebagai tanggung jawab bersama.

Jika Anda ingin tahu lebih banyak atau ingin ikut merasakan pengalaman “tersesat” untuk kebaikan, komunitas ini dapat dijangkau melalui Instagram mereka @riverrangerjakarta. Mari bergerak, sebelum sungai-sungai kita benar-benar kehilangan denyut nadinya!

(Reporter: Vicka Rumanti)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Di Kertabumi Recycling Center, Saya Menyaksikan Bagaimana Sampah Akhirnya Mendapat 'Nyawa Kedua'

Di Kertabumi Recycling Center, Saya Menyaksikan Bagaimana Sampah Akhirnya Mendapat 'Nyawa Kedua'

Lifestyle | Selasa, 21 April 2026 | 10:13 WIB

Pemerintah Segera Tutup Praktik Open Dumping di Seluruh TPA

Pemerintah Segera Tutup Praktik Open Dumping di Seluruh TPA

Bisnis | Minggu, 19 April 2026 | 11:17 WIB

Sampah Jadi Pundi Rupiah: Cara Warga Kutawaru Ubah 240 Ton Limbah Jadi Destinasi Wisata

Sampah Jadi Pundi Rupiah: Cara Warga Kutawaru Ubah 240 Ton Limbah Jadi Destinasi Wisata

News | Jum'at, 17 April 2026 | 15:01 WIB

Dari Rumah Hingga ke Sekolah, Bagaimana Strategi River Ranger Jakarta Bangun Gerakan Minim Sampah

Dari Rumah Hingga ke Sekolah, Bagaimana Strategi River Ranger Jakarta Bangun Gerakan Minim Sampah

Lifestyle | Jum'at, 17 April 2026 | 12:30 WIB

Krisis Lingkungan Mengintai, Bagaimana Melibatkan Generasi Muda Agar Mau Bergerak?

Krisis Lingkungan Mengintai, Bagaimana Melibatkan Generasi Muda Agar Mau Bergerak?

Lifestyle | Kamis, 16 April 2026 | 11:15 WIB

Pulihkan Sungai, River Ranger Jakarta Ajak Warga Mulai dari Diri Sendiri

Pulihkan Sungai, River Ranger Jakarta Ajak Warga Mulai dari Diri Sendiri

Lifestyle | Kamis, 16 April 2026 | 10:13 WIB

Terkini

Pertamax Berpotensi Tembus Rp20 Ribu! Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi  Sebelum Terlambat

Pertamax Berpotensi Tembus Rp20 Ribu! Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi Sebelum Terlambat

News | Selasa, 15 September 2026 | 23:46 WIB

1765 Pelari dari 15 Negara Ramaikan Tangkuban Perahu

1765 Pelari dari 15 Negara Ramaikan Tangkuban Perahu

Sport | Selasa, 15 September 2026 | 23:05 WIB

Peringatan Bahaya di Makkah dan Jeddah Usai Rentetan Serangan Rudal

Peringatan Bahaya di Makkah dan Jeddah Usai Rentetan Serangan Rudal

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:59 WIB

YLBHI Kecam Pengiriman Anak Demonstran ke Barak Militer: Ini Preseden Berbahaya!

YLBHI Kecam Pengiriman Anak Demonstran ke Barak Militer: Ini Preseden Berbahaya!

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:55 WIB

Mau Liburan ke Luar Negeri? BRI dan Golden Rama Kasih Diskon hingga Rp1 Juta!

Mau Liburan ke Luar Negeri? BRI dan Golden Rama Kasih Diskon hingga Rp1 Juta!

Bri | Selasa, 15 September 2026 | 22:45 WIB

Awas! Lima Titik Karhutla di Cianjur Terjadi Hampir Bersamaan

Awas! Lima Titik Karhutla di Cianjur Terjadi Hampir Bersamaan

Jabar | Selasa, 15 September 2026 | 22:35 WIB

Kronologi Lengkap Kasus ATR/BPN, Peran Fahd A Rafiq Diduga Jadi Pengepul Terakhir Uang Haram

Kronologi Lengkap Kasus ATR/BPN, Peran Fahd A Rafiq Diduga Jadi Pengepul Terakhir Uang Haram

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:35 WIB

Gibran 'Blusukan' di Tengah Krisis: Ubah Citra Politik, Ambil Celah yang Luput dari Prabowo?

Gibran 'Blusukan' di Tengah Krisis: Ubah Citra Politik, Ambil Celah yang Luput dari Prabowo?

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:31 WIB

Gibran Temui Korban Keracunan MBG di Karo, Akademisi Dorong Evaluasi Menyeluruh

Gibran Temui Korban Keracunan MBG di Karo, Akademisi Dorong Evaluasi Menyeluruh

Sumut | Selasa, 15 September 2026 | 22:29 WIB

Sopir Truk KM Virgo Transport 8 Belum Ditemukan, Istri di Tulungagung Setia Menunggu Kabar

Sopir Truk KM Virgo Transport 8 Belum Ditemukan, Istri di Tulungagung Setia Menunggu Kabar

Jatim | Selasa, 15 September 2026 | 22:21 WIB

×