- Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan 1 Dzulhijjah 1447 H pada 18 Mei 2026 dan Iduladha pada 27 Mei 2026.
- Umat dianjurkan menjalankan puasa Dzulhijjah karena keutamaannya di 10 hari pertama.
- Muncul pertanyaan apakah puasa harus 9 hari berurutan atau boleh tidak penuh.
Sementara itu, khusus mengenai puasa Dzulhijjah, terdapat hadis riwayat Sunan Abu Dawud yang menyebut Rasulullah SAW biasa berpuasa pada sembilan hari pertama Dzulhijjah.
"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari 'Asyura (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, …" (HR. Abu Daud no. 2437)
Hadis tersebut menjadi dasar bahwa puasa di awal Dzulhijjah merupakan amalan sunah yang dianjurkan.
Meski begitu, para ulama menjelaskan tidak ada ketentuan yang mewajibkan puasa itu dilakukan tanpa jeda selama sembilan hari berturut-turut.
Jika seseorang hanya mampu berpuasa beberapa hari saja, maka ia tetap mendapatkan pahala sunah sesuai niat dan amal yang dikerjakannya.
Di antara puasa yang paling dianjurkan pada bulan Dzulhijjah adalah puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah.
Dalam hadis riwayat Sahih Muslim, Rasulullah SAW menyebut puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Selain itu, umat Islam juga dilarang berpuasa pada 10 Dzulhijjah karena bertepatan dengan Hari Raya Iduladha.
Larangan tersebut berdasarkan hadis Nabi SAW yang menjelaskan bahwa Idulfitri dan Iduladha merupakan hari makan, minum, dan bergembira bagi umat Islam.
Karena itu, puasa Dzulhijjah sebaiknya dipahami sebagai ibadah sunah yang fleksibel dan tidak memberatkan.
Selama dilakukan dengan ikhlas dan sesuai kemampuan, puasa di bulan Dzulhijjah tetap menjadi amalan yang memiliki keutamaan besar di sisi Allah SWT.