Suara.com - Festival Literasi Nasional (FLN) 2026 menjadi ruang perayaan karya siswa dan guru dari berbagai daerah Indonesia melalui rangkaian Awarding FLN 2026, peluncuran buku, dan Pentas Karya yang digelar di Kota Surakarta, Sabtu.
Mengusung tema “10 Tahun Bergerak, Terbitkan Dampak”, FLN 2026 menempatkan karya sebagai pusat perayaan. Tidak hanya sebagai hasil akhir dari proses literasi, karya juga menjadi bukti keberanian siswa dan guru dalam membaca, menulis, berpikir, mencipta, serta menyampaikan gagasan kepada publik.
Rangkaian utama Awarding FLN 2026 berlangsung di Ballroom Hotel Solo Paragon, sementara Pentas Karya digelar di halaman Pasar Antik Triwindu Surakarta mulai pukul 19.30 WIB. Dua lokasi ini menjadi ruang berbeda untuk merayakan literasi: dari panggung penghargaan hingga ruang publik yang dekat dengan denyut budaya Kota Surakarta.
Dalam laporan kegiatan, Imam Subchan, Ketua Festival Literasi Nasional 2026, menyampaikan bahwa FLN bukan hanya tentang siapa yang menang dan menerima penghargaan. Lebih dari itu, FLN merupakan ruang untuk merayakan proses panjang siswa, guru, dan sekolah dalam menumbuhkan budaya literasi.
“Puncak acara hari ini bukan sekadar seremoni. Hari ini adalah panggung apresiasi bagi semua yang telah bergerak, berkarya, dan menerbitkan dampak,” ujar Imam.
Ia menambahkan, sepanjang tahun 2025, program literasi Nyalanesia telah melibatkan lebih dari 2.080 sekolah peserta dari 33 provinsi, dengan lebih dari 203.000 siswa berkarya, lebih dari 12.000 guru berkarya, serta 2.080 judul buku antologi sekolah yang diterbitkan.
Menurut Imam, rangkaian FLN 2026 menunjukkan bahwa literasi tidak berhenti di atas kertas. Literasi hidup dalam karya, percakapan, perjalanan, dan keberanian untuk terus belajar.
“Ketika siswa berani berkarya, guru percaya pada muridnya, dan sekolah berani bergerak, maka dampak pendidikan sedang kita terbitkan bersama,” tambahnya.
Pemerintah Kota Surakarta turut menyampaikan apresiasi melalui sambutan Wali Kota Surakarta yang dibacakan oleh Heni Ermawati, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surakarta. Dalam sambutan tersebut, Pemerintah Kota Surakarta menyampaikan bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga pembentukan cara berpikir, kreativitas, karakter, dan perubahan nyata bagi masyarakat.
“Dengan tema 10 Tahun Bergerak, Terbitkan Dampak, kita diingatkan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi tentang membangun cara berpikir, menumbuhkan kreativitas, memperkuat karakter, dan menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat,” demikian sambutan Wali Kota Surakarta yang dibacakan Heni.
Kepada para siswa, Pemerintah Kota Surakarta juga berpesan agar terus membaca, menulis, berpikir kritis, dan berani menyampaikan gagasan.
“Karya kalian sangat berarti. Teruslah menulis, membaca, berpikir kritis, dan berani menyampaikan gagasan. Karena masa depan Indonesia membutuhkan generasi yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kaya empati, kreatif, dan mampu menghadirkan solusi bagi lingkungan sekitarnya,” ujarnya.
Agenda Awarding FLN 2026 menjadi bentuk apresiasi kepada siswa, guru, sekolah, dan peserta yang telah menunjukkan prestasi serta kontribusi terbaik dalam berbagai kategori sayembara dan kompetisi dari program-program Nyalanesia. Penganugerahan ini menjadi ruang untuk merayakan proses panjang para peserta dalam menghasilkan karya dan menampilkan potensi terbaiknya di tingkat nasional.
Selain awarding, perayaan karya juga hadir melalui peluncuran buku-buku karya siswa dan guru serta yang tidak kalah spesial, adalah peluncuran buku Tim Nyalanesia. Buku-buku tersebut menjadi bukti bahwa literasi dapat melahirkan warisan gagasan yang terdokumentasi, dapat dibaca, dan dapat menginspirasi lebih banyak orang.
Helmy Yahya, entrepreneur, kreator, penulis, dan pakar komunikasi, menegaskan pentingnya memberi ruang kepada anak-anak Indonesia untuk percaya pada dirinya sendiri. Menurutnya, sekolah perlu menjadi tempat lahirnya karya, kreativitas, dan masa depan.