- Presiden Timor-Leste, Jose Ramos-Horta, menekankan pentingnya rekonsiliasi nasional sebagai fondasi stabilitas dalam kuliah kepemimpinan di Jakarta, Senin (2/6/2026).
- Rekonsiliasi menjadi kunci keberhasilan Timor-Leste mengubah pihak yang pernah berseberangan menjadi mitra kerja sama yang produktif di masa depan.
- Hubungan harmonis antara Timor-Leste dan Indonesia menjadi bukti nyata bahwa keberanian berdamai dengan masa lalu membawa dampak positif.
Suara.com - Di tengah dunia yang semakin penuh konflik dan perpecahan, Presiden Timor-Leste sekaligus peraih Nobel Perdamaian Jose Ramos-Horta justru menawarkan pelajaran yang sederhana namun tidak mudah dijalankan: berdamai dengan masa lalu.
Dalam sebuah kuliah kepemimpinan di Jakarta, Ramos-Horta membagikan pengalaman panjang negaranya keluar dari konflik dan memilih jalan rekonsiliasi dibanding balas dendam. Baginya, keputusan itu menjadi fondasi penting yang membuat Timor-Leste mampu membangun masa depan yang lebih stabil.
Perjalanan Timor-Leste menuju kemerdekaan bukanlah kisah yang mudah. Negara muda di Asia Tenggara itu pernah mengalami konflik berkepanjangan yang meninggalkan luka mendalam bagi masyarakatnya.
Namun alih-alih terus terjebak dalam kemarahan, Timor-Leste memilih jalan yang berbeda.
"Kami memilih jalan rekonsiliasi nasional," kata Ramos-Horta saat menjadi pembicara dalam ERIA School of Government Leadership Lecture Series di Jakarta, Senin (2/6/2026).
Menurut peraih Nobel Perdamaian 1996 itu, rekonsiliasi bukan berarti melupakan masa lalu. Sebaliknya, rekonsiliasi membutuhkan keberanian untuk mengakui luka yang pernah ada, sambil tetap membuka ruang bagi hubungan yang lebih baik di masa depan.
Ramos-Horta menilai stabilitas yang sesungguhnya bukan hanya tentang berhentinya konflik, melainkan kemampuan mengubah pihak yang pernah berseberangan menjadi mitra yang dapat bekerja sama.
"Stabilitas kawasan yang sesungguhnya bukan hanya tentang tidak adanya konflik, tetapi tentang upaya bersama untuk mengubah pihak-pihak yang pernah berseberangan menjadi mitra yang dapat bekerja sama demi masa depan yang lebih baik," ujarnya.
Pelajaran dari Hubungan Timor-Leste dan Indonesia
Salah satu contoh yang menurut Ramos-Horta paling nyata adalah hubungan Timor-Leste dan Indonesia saat ini.
Meski memiliki sejarah yang kompleks, kedua negara kini menjalin hubungan yang erat. Ia bahkan menyebut rekonsiliasi Indonesia dan Timor-Leste sebagai salah satu kisah perdamaian paling penting di Asia Tenggara.
Ramos-Horta mengenang bagaimana banyak warga Timor-Leste diterima dengan baik di Indonesia, baik untuk belajar maupun bekerja. Pengalaman tersebut memperkuat keyakinannya bahwa hubungan antarmanusia sering kali lebih kuat daripada konflik politik.
Mengapa Pesan Ini Relevan untuk Kehidupan Sehari-hari?
Meski berbicara dalam konteks hubungan antarnegara, pesan Ramos-Horta sebenarnya terasa dekat dengan kehidupan banyak orang.
Dalam hubungan keluarga, pertemanan, maupun pekerjaan, konflik sering kali meninggalkan luka dan rasa kecewa. Namun menurut Ramos-Horta, masa depan sulit dibangun jika seseorang terus hidup dalam kemarahan terhadap masa lalu.
Ia percaya dialog dan kemauan untuk memahami pihak lain tetap menjadi cara terbaik untuk menyelesaikan perbedaan.
Di tengah era media sosial yang sering memperbesar polarisasi dan perdebatan, pesan tersebut terasa semakin relevan: tidak semua konflik harus berakhir dengan kemenangan satu pihak. Terkadang, kemajuan justru lahir ketika orang memilih untuk saling mendengar dan membangun kembali kepercayaan.
Menjelang bergabung penuh dengan ASEAN, Timor-Leste ingin membawa pengalaman tersebut ke tingkat yang lebih luas. Bagi Ramos-Horta, keberhasilan sebuah komunitas—baik negara, organisasi, maupun hubungan antarmanusia—bergantung pada kemampuan untuk berdamai dengan masa lalu dan bekerja sama demi masa depan yang lebih baik.