- Dr. Catherine Soebroto menjelaskan penuaan kulit terjadi karena berkurangnya kolagen akibat faktor usia dan paparan sinar ultraviolet.
- Collagen stimulator jenis PLLA-SCA digunakan untuk memicu produksi kolagen alami agar struktur kulit menjadi lebih tebal kembali.
- Perawatan ini memberikan hasil pengencangan wajah secara bertahap dan alami yang mampu bertahan hingga lebih dari dua tahun.
Salah satu yang saat ini banyak digunakan adalah PLLA-SCA (Poly-L-Lactic Acid Skin Collagen Activator). Perawatan ini termasuk biostimulator yang bekerja merangsang sel fibroblast untuk menghasilkan kolagen alami tubuh.
“Ini adalah collagen stimulator, yang bekerja menstimulasi kolagen tipe I dan III, sehingga lapisan kulit kembali tebal dan naik. Secara internasional, orang-orang di luar negeri sangat suka dengan biostimulator karena hasilnya alami,” terang dr. Catherine.
Keunggulan utama collagen stimulator dibandingkan berbagai perawatan anti-aging lainnya adalah kemampuannya memperbaiki kualitas kulit dari dalam.
Jika teknologi berbasis alat umumnya memberikan efek pengencangan melalui stimulasi jaringan yang sudah ada, collagen stimulator membantu membangun kembali fondasi kulit yang telah melemah akibat hilangnya kolagen.
Dengan kata lain, bukan hanya mengencangkan, tetapi juga memperbaiki ketebalan, kekuatan, dan kualitas jaringan kulit secara menyeluruh.
PLLA-SCA juga memiliki mekanisme yang berbeda dibandingkan dermal filler. Jika filler bekerja dengan memberikan volume instan melalui bahan yang disuntikkan, collagen stimulator tidak langsung mengubah bentuk wajah setelah tindakan.
Perubahan terjadi secara bertahap karena tubuh memproduksi kolagen baru secara alami.
Tidak seperti dermal filler biasa yang memberikan volume instan secara buatan, PLLA-SCA bekerja dari dalam dengan memicu produksi kolagen baru.
Hasilnya adalah perbaikan struktur kulit, penambahan volume yang hilang akibat penuaan, penyamaran kerutan, hingga pengencangan wajah yang berlangsung secara bertahap dan natural.
“Setelah tiga bulan, kulit akan naik, pigmentasi berkurang, smile line lebih tersamar, kulit di sekitar mata lebih naik, dan dagu pun naik sehingga jaw line lebih terlihat,” papar dr. Catherine.
Karena hasilnya berkembang secara perlahan, wajah tidak tampak berubah drastis atau berlebihan. Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa tren global saat ini mulai mengarah pada penggunaan biostimulator. Banyak pasien menginginkan wajah yang tampak lebih segar dan muda tanpa terlihat seperti baru menjalani prosedur estetika.
PLLA-SCA dari Galderma sendiri telah digunakan oleh dokter estetika di berbagai negara selama lebih dari 25 tahun dan dikenal sebagai salah satu collagen stimulator terkemuka di dunia. Produk ini mulai tersedia di Indonesia sejak Oktober tahun lalu.
“Obat yang usianya sudah lebih dari 10 tahun, keamanan dan efektivitasnya sudah teruji, karena kalau tidak, pasti sudah tidak produksi lagi,” tutur dr. Catherine.
Meski memerlukan beberapa sesi penyuntikan dan tidak memberikan hasil instan, collagen stimulator menawarkan keunggulan lain berupa daya tahan yang lebih panjang. Setelah disuntikkan, PLLA-SCA akan terurai secara alami karena bersifat biodegradable dan hilang sepenuhnya dari tubuh.
Namun kolagen baru yang terbentuk tetap bertahan sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka waktu lama.
“Dia merangsang produksi kolagen, lalu hilang, jadi tidak perlu takut sama sekali,” tegas dr. Catherine.
Kolagen yang terbentuk dari proses stimulasi tersebut bahkan dapat bertahan hingga sekitar 25 bulan atau lebih dari dua tahun. Hal ini menjadikan collagen stimulator sebagai pilihan yang menarik bagi mereka yang menginginkan hasil anti-aging jangka panjang tanpa harus terlalu sering melakukan tindakan berulang.
Meski demikian, keberhasilan perawatan tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk yang digunakan. Kompetensi dokter yang melakukan tindakan juga menjadi faktor yang sangat penting untuk menjamin keamanan dan hasil yang optimal.
“Obatnya sudah bagus dan aman, tapi kalau yang menyuntik bukan ahli, berisiko terjadi berbagai efek samping. Penting sekali untuk memilih dokter dan klinik yang tepat,” tutup dr. Catherine.