- Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni membuka Indofest 2026 di Jakarta pada 4 Juni untuk mendukung tren aktivitas luar ruang.
- Pemerintah meluncurkan platform digital Ayo ke Taman Nasional guna mempermudah akses informasi dan pembelian tiket masuk kawasan konservasi.
- Indofest 2026 merayakan satu dekade penyelenggaraan sebagai ajang pertemuan komunitas serta pameran produk lokal untuk mendukung gaya hidup petualangan.
Suara.com - Meningkatnya minat masyarakat terhadap aktivitas luar ruang bukan lagi sekadar tren sesaat. Dalam beberapa tahun terakhir, mendaki gunung, berkemah, trekking, hingga menjelajahi taman nasional semakin akrab dengan keseharian anak muda.
Aktivitas yang dulu identik dengan komunitas pecinta alam kini berkembang menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih luas. Fenomena tersebut tercermin dari terus bertambahnya jumlah kunjungan ke taman nasional di berbagai daerah di Indonesia.
Di tengah dominasi kehidupan digital dan penggunaan gawai yang semakin tinggi, tren ini dinilai menjadi kabar baik karena menunjukkan semakin banyak generasi muda yang memilih berinteraksi langsung dengan alam.
Menteri Kehutanan Republik Indonesia Raja Juli Antoni menyebut aktivitas luar ruang kini telah menjadi bagian dari gaya hidup yang semakin populer di kalangan masyarakat.
"Kunjungan ke taman nasional selalu naik setiap tahunnya. Ini menunjukkan tren yang menggembirakan bahwa anak-anak kita tidak hanya bermain handphone di kamar masing-masing, tetapi outdoor activities telah menjadi sebuah hal yang bersifat mainstream," ujar Raja Juli Antoni saat membuka Indonesia Outdoor Festival (Indofest) 2026 di Hall B JICC Senayan, Jakarta, Kamis (4/6).
Pernyataan tersebut sejalan dengan semangat yang diusung Indofest 2026. Memasuki usia ke-10 tahun, festival outdoor terbesar di Asia Tenggara itu tidak hanya menjadi ajang pameran perlengkapan petualangan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara komunitas, industri, dan para pencinta alam yang jumlahnya terus bertambah.

Project Director Indofest 2026, Niken Saraswati Ratnaningtyas, melihat meningkatnya minat terhadap aktivitas luar ruang sebagai bagian dari perubahan gaya hidup, khususnya di kalangan generasi muda.
"Secara global, generasi Z menjadi salah satu kelompok yang memiliki ketertarikan tinggi terhadap aktivitas outdoor. Fenomena yang sama juga terlihat di Indonesia. Aktivitas luar ruang semakin diminati karena mudah diakses, beragam, dan sesuai dengan kondisi alam serta iklim Indonesia," ujarnya.
Seiring meningkatnya minat masyarakat untuk berkunjung ke kawasan konservasi, pemerintah juga berupaya memperbaiki pengalaman wisata yang lebih mudah dan nyaman. Salah satu langkah yang dilakukan adalah percepatan transformasi digital di taman nasional.
Raja Juli mengakui bahwa ketika dirinya mulai menjabat sekitar satu setengah tahun lalu, sebagian besar sistem layanan wisata masih dilakukan secara manual, termasuk dalam pengelolaan tiket masuk.
"Sistem ticketing-nya juga masih sistem sobek. Saya merasa bahwa ini tidak efektif, tidak efisien, sekaligus tidak transparan dan tidak akuntabel," katanya.
Menurut Raja Juli, saat ini sekitar 93 persen taman nasional telah menjalankan digitalisasi layanan. Sebagai bagian dari transformasi tersebut, Kementerian Kehutanan meluncurkan platform digital baru bernama Ayo ke Taman Nasional dalam rangkaian pembukaan Indofest 2026.
Aplikasi ini dirancang sebagai platform terpadu yang memudahkan masyarakat memperoleh informasi destinasi sekaligus membeli tiket taman nasional secara lebih praktis.
"Kalau dulu mau ke Komodo ada aplikasinya sendiri, ke Rinjani ada sendiri, ke Gunung Gede Pangrango ada sendiri. Sekarang kami mencoba melakukan transformasi digital sehingga masyarakat memiliki satu platform yang lebih sederhana," ujar Raja Juli.
Peluncuran platform tersebut di Indofest menjadi simbol bahwa pertumbuhan budaya petualangan di Indonesia kini diiringi pembenahan sistem pendukungnya.
Pemerintah tidak hanya mendorong masyarakat untuk lebih dekat dengan alam, tetapi juga berupaya membuat akses menuju kawasan konservasi menjadi lebih mudah.
Indofest 2026 sendiri berlangsung pada 4–7 Juni 2026 dan menandai satu dekade penyelenggaraan festival sejak pertama kali digelar pada 2016.
Chief Executive Officer COS Event, Disyon Toba, mengatakan perjalanan tersebut tidak lepas dari upaya membangun ekosistem outdoor yang melibatkan industri, komunitas, hingga pemerintah.
"Perjalanan 10 tahun Indofest tidaklah mudah. Tantangan terbesar adalah menyatukan produsen, pelaku industri outdoor, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memiliki visi dan tujuan yang sama," ujarnya.
Tahun ini, sekitar 80 merek perlengkapan outdoor berpartisipasi dalam Indofest, dengan sekitar 80 persen di antaranya merupakan brand lokal.
Selain menghadirkan berbagai produk dan inovasi terbaru, festival juga menampilkan mini museum perjalanan Indofest, program sosial pengumpulan pakaian layak pakai, berbagai sesi komunitas, serta hiburan dari musisi seperti Fiersa Besari, Mocca, Ten 2 Five, dan Souljah.
Perpaduan antara meningkatnya minat generasi muda terhadap aktivitas outdoor, penguatan komunitas, serta transformasi digital yang dilakukan pemerintah menunjukkan bahwa wisata alam Indonesia tengah memasuki babak baru.