Suara.com - Bagi sebagian orang, memilih jurusan kuliah adalah langkah awal menuju pekerjaan impian. Namun bagi Mutia Hanifah, jalan itu justru dimulai dari keraguan.
Perempuan yang akrab disapa Mudi ini tidak pernah membayangkan akan menghabiskan waktunya berbicara tentang konservasi, mengedukasi publik lewat media sosial, atau mengajak anak-anak mengenal satwa dan alam.
Latar belakang pendidikannya bahkan jauh dari bayangan tersebut.
Sebelum masuk perguruan tinggi, Mudi merupakan lulusan SMK Farmasi. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan ke jurusan Biologi Konservasi di Universitas Nasional. Namun, keputusan itu bukan sepenuhnya pilihannya sendiri.
Ketika Jurusan Kuliah Menjadi Tanda Tanya
“Biologi ini bukan salah satu jurusan yang aku mau karena ini jurusan permintaan dari orang tua. Jadinya merasa, ini benar enggak sih jalan yang diambil?” ujarnya.
Perasaan itu tidak hilang begitu saja. Selama menjalani perkuliahan, Mudi mengaku sempat mempertanyakan apakah dirinya benar-benar cocok berada di dunia konservasi.
Keraguan itu terus terbawa hingga masa pandemi COVID-19 pada 2020–2021, ketika aktivitas lapangan dibatasi dan ruang gerak menjadi lebih sempit.
Di masa itulah, tanpa ia sadari, pandangannya mulai berubah.
Alih-alih berhenti, Mudi memilih mengisi waktu dengan menjadi relawan yang membantu mengumpulkan data perdagangan satwa liar, khususnya owa.
Ia membaca laporan, mengikuti pemberitaan, dan mempelajari berbagai informasi mengenai perdagangan, kelahiran, hingga kematian satwa tersebut dari tahun 2013 hingga 2021.
Satu Berita yang Mengubah Arah
Sampai kemudian, satu berita membuatnya berhenti.
“Ada satu berita yang ngebuat aku nangis. Aku baca berita terkait Owa Jawa dijual cuma seharga Rp150 ribu, yang dimana aku sudah ngerasain sendiri gimana cari owa Jawa di habitatnya itu susah banget. Sedangkan di pasar hewan itu dijual murah,” ungkapnya.
Pengalaman itu menjadi titik balik. Di satu sisi, ia merasa sedih melihat satwa yang sulit ditemui di habitat alaminya justru diperdagangkan dengan harga murah. Di sisi lain, ia merasa bingung karena belum tahu apa yang bisa dilakukan.
“Jadi ini yang ngebuat aku sedih banget, dan aku di situ bingung karena aku masih enggak tahu apa yang mau aku lakuin,” katanya.
Perasaan tersebut kemudian berubah menjadi dorongan untuk mencari peran yang bisa ia ambil.
Menemukan Peran Lewat Edukasi
Sejak 2021, Mudi mulai lebih serius menekuni isu konservasi, terutama perdagangan satwa liar. Ia bergabung dengan sejumlah organisasi nonpemerintah dan lembaga lingkungan.
Namun, bukan penelitian lapangan yang akhirnya membuatnya bertahan.
Ia menemukan bahwa hal yang paling ia nikmati justru berbicara dengan orang lain.
“Ternyata aku menyukai edukasi. Aku menyukai anak-anak. Aku menyukai jalan-jalannya. Jadi aku memutuskan pekerjaan yang sekarang, yaitu membuat konten edukasi di media sosial,” ujarnya.
Hari ini, Mudi bekerja sebagai content creator di penerbit buku anak sekaligus aktif menjadi edukator konservasi di berbagai sekolah alam dan program lingkungan.
Di media sosial, ia menggunakan bahasa yang ringan untuk mengenalkan satwa, konservasi, dan kebiasaan sederhana yang lebih ramah lingkungan.
Mengajak Orang Datang ke Alam dengan Cara yang Berbeda
Di luar itu, Mudi juga menyebut dirinya sebagai eco-traveler—cara bepergian yang menurutnya tidak hanya menikmati alam, tetapi juga menghormatinya.
“Aku lebih menekankan ke eco-traveler. Jadi kita bisa jalan-jalan tapi tetap bertanggung jawab untuk lingkungan, bawa botol minum, tempat makan sendiri, dan meminimalisir karbon yang dihasilkan,” tuturnya.
Bagi Mudi, konservasi tidak selalu dimulai dari penelitian besar atau ekspedisi jauh.
Kadang, ia dimulai dari rasa ingin tahu. Dari mengenal satwa yang hidup di sekitar. Dari belajar tidak meninggalkan sampah saat berkunjung ke alam.
Bukan Sekadar Menikmati, tetapi Menjaga
Karena pada akhirnya, yang ingin ia dorong bukan sekadar membuat orang datang ke alam—tetapi membuat mereka belajar menghormatinya.
“Aku pengen masyarakat itu saat main ke alam enggak cuma buat hiburan aja, tapi mereka coba lebih menghormati alam, lebih belajar tentang alam. Yang paling penting adalah mereka ikut menjaga dan mengambil peran terhadap konservasi di Indonesia,” katanya.
Penulis: Natasha Suhendra