Mudi dan Cara Baru Mengenalkan Konservasi: Tidak Selalu dari Hutan, Bisa dari Media Sosial

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 10 Juni 2026 | 13:00 WIB
Mudi dan Cara Baru Mengenalkan Konservasi: Tidak Selalu dari Hutan, Bisa dari Media Sosial
Potret Mutia Hanifah atau Mudi (Dok.pribadi/Mutia Hanifah)

Suara.com - Bagi sebagian orang, memilih jurusan kuliah adalah langkah awal menuju pekerjaan impian. Namun bagi Mutia Hanifah, jalan itu justru dimulai dari keraguan.

Perempuan yang akrab disapa Mudi ini tidak pernah membayangkan akan menghabiskan waktunya berbicara tentang konservasi, mengedukasi publik lewat media sosial, atau mengajak anak-anak mengenal satwa dan alam.

Latar belakang pendidikannya bahkan jauh dari bayangan tersebut.

Sebelum masuk perguruan tinggi, Mudi merupakan lulusan SMK Farmasi. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan ke jurusan Biologi Konservasi di Universitas Nasional. Namun, keputusan itu bukan sepenuhnya pilihannya sendiri.

Ketika Jurusan Kuliah Menjadi Tanda Tanya

“Biologi ini bukan salah satu jurusan yang aku mau karena ini jurusan permintaan dari orang tua. Jadinya merasa, ini benar enggak sih jalan yang diambil?” ujarnya.

Perasaan itu tidak hilang begitu saja. Selama menjalani perkuliahan, Mudi mengaku sempat mempertanyakan apakah dirinya benar-benar cocok berada di dunia konservasi.

Keraguan itu terus terbawa hingga masa pandemi COVID-19 pada 2020–2021, ketika aktivitas lapangan dibatasi dan ruang gerak menjadi lebih sempit.

Di masa itulah, tanpa ia sadari, pandangannya mulai berubah.

Alih-alih berhenti, Mudi memilih mengisi waktu dengan menjadi relawan yang membantu mengumpulkan data perdagangan satwa liar, khususnya owa.

Ia membaca laporan, mengikuti pemberitaan, dan mempelajari berbagai informasi mengenai perdagangan, kelahiran, hingga kematian satwa tersebut dari tahun 2013 hingga 2021.

Satu Berita yang Mengubah Arah

Sampai kemudian, satu berita membuatnya berhenti.

“Ada satu berita yang ngebuat aku nangis. Aku baca berita terkait Owa Jawa dijual cuma seharga Rp150 ribu, yang dimana aku sudah ngerasain sendiri gimana cari owa Jawa di habitatnya itu susah banget. Sedangkan di pasar hewan itu dijual murah,” ungkapnya.

Pengalaman itu menjadi titik balik. Di satu sisi, ia merasa sedih melihat satwa yang sulit ditemui di habitat alaminya justru diperdagangkan dengan harga murah. Di sisi lain, ia merasa bingung karena belum tahu apa yang bisa dilakukan.

“Jadi ini yang ngebuat aku sedih banget, dan aku di situ bingung karena aku masih enggak tahu apa yang mau aku lakuin,” katanya.

Perasaan tersebut kemudian berubah menjadi dorongan untuk mencari peran yang bisa ia ambil.

Menemukan Peran Lewat Edukasi

Sejak 2021, Mudi mulai lebih serius menekuni isu konservasi, terutama perdagangan satwa liar. Ia bergabung dengan sejumlah organisasi nonpemerintah dan lembaga lingkungan.

Namun, bukan penelitian lapangan yang akhirnya membuatnya bertahan.

Ia menemukan bahwa hal yang paling ia nikmati justru berbicara dengan orang lain.

“Ternyata aku menyukai edukasi. Aku menyukai anak-anak. Aku menyukai jalan-jalannya. Jadi aku memutuskan pekerjaan yang sekarang, yaitu membuat konten edukasi di media sosial,” ujarnya.

Hari ini, Mudi bekerja sebagai content creator di penerbit buku anak sekaligus aktif menjadi edukator konservasi di berbagai sekolah alam dan program lingkungan.

Di media sosial, ia menggunakan bahasa yang ringan untuk mengenalkan satwa, konservasi, dan kebiasaan sederhana yang lebih ramah lingkungan.

Mengajak Orang Datang ke Alam dengan Cara yang Berbeda

Di luar itu, Mudi juga menyebut dirinya sebagai eco-traveler—cara bepergian yang menurutnya tidak hanya menikmati alam, tetapi juga menghormatinya.

“Aku lebih menekankan ke eco-traveler. Jadi kita bisa jalan-jalan tapi tetap bertanggung jawab untuk lingkungan, bawa botol minum, tempat makan sendiri, dan meminimalisir karbon yang dihasilkan,” tuturnya.

Bagi Mudi, konservasi tidak selalu dimulai dari penelitian besar atau ekspedisi jauh.

Kadang, ia dimulai dari rasa ingin tahu. Dari mengenal satwa yang hidup di sekitar. Dari belajar tidak meninggalkan sampah saat berkunjung ke alam.

Bukan Sekadar Menikmati, tetapi Menjaga

Karena pada akhirnya, yang ingin ia dorong bukan sekadar membuat orang datang ke alam—tetapi membuat mereka belajar menghormatinya.

“Aku pengen masyarakat itu saat main ke alam enggak cuma buat hiburan aja, tapi mereka coba lebih menghormati alam, lebih belajar tentang alam. Yang paling penting adalah mereka ikut menjaga dan mengambil peran terhadap konservasi di Indonesia,” katanya.

Penulis: Natasha Suhendra

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mengenal Mudi, Edukator Konservasi Muda yang Ubah Scroll Jadi Aksi Lingkungan

Mengenal Mudi, Edukator Konservasi Muda yang Ubah Scroll Jadi Aksi Lingkungan

Lifestyle | Rabu, 10 Juni 2026 | 11:02 WIB

Manfaatkan Teknologi iNaturalist, Cetak Naturalis Muda dan Data Konservasi Digital

Manfaatkan Teknologi iNaturalist, Cetak Naturalis Muda dan Data Konservasi Digital

Tekno | Sabtu, 06 Juni 2026 | 15:03 WIB

Bukan Pembersihan Biasa! Butuh 6 Bulan untuk Bikin Tugu Monas Kembali Kinclong

Bukan Pembersihan Biasa! Butuh 6 Bulan untuk Bikin Tugu Monas Kembali Kinclong

News | Senin, 01 Juni 2026 | 09:01 WIB

Terkini

Membaca Jakarta dari Ruang Hijau: Catatan Sehari Bersama Ayo ke Taman

Membaca Jakarta dari Ruang Hijau: Catatan Sehari Bersama Ayo ke Taman

Lifestyle | Rabu, 10 Juni 2026 | 14:05 WIB

Banyak Ibu Mengalaminya, Ini Kisah Bangkit dari Kerontokan Rambut Pascapersalinan

Banyak Ibu Mengalaminya, Ini Kisah Bangkit dari Kerontokan Rambut Pascapersalinan

Lifestyle | Rabu, 10 Juni 2026 | 13:39 WIB

Daftar Harga BBM BP Hari Ini di Jabodetabek dan Jawa Timur, BP Ultimate Tembus Rp17.240

Daftar Harga BBM BP Hari Ini di Jabodetabek dan Jawa Timur, BP Ultimate Tembus Rp17.240

Lifestyle | Rabu, 10 Juni 2026 | 13:39 WIB

Weton Tulang Wangi Apa Saja? Ini Alasan Dilarang Keluar di Malam 1 Suro

Weton Tulang Wangi Apa Saja? Ini Alasan Dilarang Keluar di Malam 1 Suro

Lifestyle | Rabu, 10 Juni 2026 | 13:19 WIB

4 Lipstik Merah Transferproof yang Tidak Nempel di Gelas saat Minum, Tetap Bold Sepanjang Hari

4 Lipstik Merah Transferproof yang Tidak Nempel di Gelas saat Minum, Tetap Bold Sepanjang Hari

Lifestyle | Rabu, 10 Juni 2026 | 13:18 WIB

4 Shio dengan Hari Kurang Beruntung pada Juni 2026, Simak Prediksinya

4 Shio dengan Hari Kurang Beruntung pada Juni 2026, Simak Prediksinya

Lifestyle | Rabu, 10 Juni 2026 | 13:15 WIB

Apa Itu Solid Perfume? Ini Kelebihan dan Kekurangannya Dibandingkan Parfum Cair

Apa Itu Solid Perfume? Ini Kelebihan dan Kekurangannya Dibandingkan Parfum Cair

Lifestyle | Rabu, 10 Juni 2026 | 12:31 WIB

5 Cushion Terlaris di TikTok, Penjualannya Tembus Jutaan Produk

5 Cushion Terlaris di TikTok, Penjualannya Tembus Jutaan Produk

Lifestyle | Rabu, 10 Juni 2026 | 12:29 WIB

7 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Kering dan Pecah-Pecah

7 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Kering dan Pecah-Pecah

Lifestyle | Rabu, 10 Juni 2026 | 12:13 WIB

Harta Kekayaan Chatib Basri, Dirumorkan Gantikan Posisi Menkeu Purbaya

Harta Kekayaan Chatib Basri, Dirumorkan Gantikan Posisi Menkeu Purbaya

Lifestyle | Rabu, 10 Juni 2026 | 12:06 WIB