- Pernikahan Jennifer Coppen dan Justin Hubner menjadi sorotan, terutama setelah Justin memeluk Islam sebelum menikah.
- Warganet mengaitkan hal itu dengan kisah mualafnya mendiang Dali Wassink sebelum menikah dengan Jennifer.
- Perbincangan berkembang pada pertanyaan mengenai pahala bagi orang yang mengajak atau menjadi perantara seseorang masuk Islam menurut ajaran Islam.
Suara.com - Pernikahan Jennifer Coppen dan Justin Hubner yang digelar pada Sabtu, 13 Juni 2026, menjadi salah satu kabar yang banyak diperbincangkan publik.
Selain momen bahagia keduanya, perhatian netizen juga tertuju pada keputusan Justin Hubner yang memeluk agama Islam sebelum menikah.
Nama Jennifer Coppen pun ramai dibahas di media sosial karena dinilai memiliki peran dalam proses mualafnya Justin Hubner.
Tak sedikit warganet yang mengaitkan hal tersebut dengan kisah Jennifer saat mendampingi Almarhum Dali Wassink yang juga menjadi mualaf sebelum keduanya menikah.
Fakta bahwa Jennifer dua kali mendampingi pasangan yang kemudian memeluk Islam membuat perbincangan semakin meluas.
Sebagian netizen bahkan penasaran mengenai pandangan Islam terhadap orang yang mengajak atau menjadi perantara seseorang untuk mengenal dan memeluk agama Islam.
Lantas, bagaimana sebenarnya pahala bagi orang yang mengajak atau menjadi jalan bagi seseorang untuk masuk Islam menurut ajaran agama?
Berikut penjelasan mengenai keutamaan dan pahala menjadikan orang mualaf dalam Islam.
Pahala Mengajak Orang Masuk Islam
![Ilustrasi pria mualaf. [Freepik]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/04/15/92928-ilustrasi-pria-mualaf-freepik.jpg)
Mengajak orang masuk Islam atau mengenalkan ajaran Islam kepada orang lain merupakan salah satu bentuk dakwah yang sangat dianjurkan dalam agama.
Namun, hidayah tetap sepenuhnya berada di tangan Allah SWT, sementara manusia hanya berkewajiban menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik dan penuh hikmah.
Menurut penjelasan Dr. K.H. Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc. di Rumaysho, dalam Islam, pahala mengajak seseorang kepada hidayah disebut sangat besar.
Rasulullah SAW bahkan menjelaskan bahwa keberhasilan mengajak satu orang masuk Islam lebih berharga daripada harta benda yang paling bernilai di dunia pada masanya.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Ali bin Abi Thalib. Rasulullah SAW bersabda, "Demi Allah, jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui perantaraanmu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah." (HR. Bukhari dan Muslim).
Unta merah pada masa itu merupakan harta yang sangat berharga sehingga hadis ini menunjukkan betapa besarnya keutamaan mengajak orang kepada Islam.
Selain itu, orang yang mengajak kepada kebaikan juga akan memperoleh pahala dari amalan yang dilakukan oleh orang yang mengikutinya.
Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun." (HR. Muslim).
Artinya, ketika seseorang menjadi sebab orang lain mengenal Islam, menjalankan salat, berpuasa, bersedekah, atau melakukan berbagai amal saleh lainnya, ia berpeluang mendapatkan pahala dari amalan tersebut.
Keutamaan ini terus mengalir selama orang yang mendapat hidayah tetap menjalankan kebaikan yang diajarkan kepadanya.
Meski demikian, dakwah tidak boleh dilakukan dengan paksaan atau cara yang merendahkan orang lain.
Islam mengajarkan agar ajakan kepada agama disampaikan dengan kelembutan, keteladanan, dan argumentasi yang baik sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan lapang dada.
Karena itu, pahala mengajak orang masuk Islam tidak hanya terletak pada hasil akhirnya, tetapi juga pada usaha untuk menyampaikan kebenaran sesuai tuntunan syariat.
Jika Allah SWT memberikan hidayah kepada seseorang melalui perantara dirinya, maka itu merupakan salah satu karunia dan pahala yang sangat besar bagi seorang Muslim. Wallahu a'lam bishawab.