- Sepatu lari umumnya perlu diganti setelah menempuh jarak tertentu untuk mencegah risiko cedera kaki.
- Tanda fisik sepatu yang rusak meliputi sol tengah mengeras, sol luar menipis, serta bagian atas yang melar.
- Munculnya rasa nyeri pada lutut, betis, atau telapak kaki saat berlari menjadi indikator bahwa sepatu harus diganti.
Suara.com - Sepatu lari memiliki umur pakai yang terbatas, sehingga menggunakannya melewati batas optimal dapat meningkatkan risiko cedera kaki.
Namun mengetahui kapan harus mengganti sepatu lari sering kali membingungkan bagi sebagian besar orang.
Banyak pelari pemula yang hanya mengandalkan tampilan visual luar tanpa memeriksa fungsi bantalan sepatu. Performa bantalan sepatu akan menurun seiring waktu.
Lantas, kapan sebaiknya harus ganti sepatu lari? Berikut ulasannya.
Tanda Harus Ganti Sepatu Lari
1. Patokan Jarak Tempuh
Secara umum, sepatu lari didesain untuk bertahan pada jarak tertentu.
Pelari sekaligus pengulas sepatu A Rachman, menyebutkan bahwa rata-rata sepatu harus diganti setelah menempuh jarak 400 hingga 800 kilometer.
"Benchmark saya pribadi itu 500 (km) lah, itu udah masuk kategori yang normal dan bahkan agak awet," ujar Rachman dalam video di kanal YouTube pribadinya.
Ia juga mengingatkan bahwa umur sepatu tidak hanya dihitung dari seberapa sering dipakai, tapi juga bagaimana cara menyimpannya.
Sepatu yang jarang dipakai dan hanya disimpan terlalu lama justru bisa membuat materialnya rusak.
2. Tanda Fisik
Selain jarak tempuh, berat badan pelari dan jenis permukaan jalan seperti aspal juga mempercepat penurunan performa sepatu.
Ada beberapa tanda fisik yang menunjukkan bahwa sepatu lari sudah tidak layak digunakan.
Karakteristik paling nyata adalah sol bagian tengah atau midsole yang mulai terasa keras dan kehilangan daya membal.
Apabila komponen foam sudah mati, fungsi penyerapan benturan tidak akan berjalan dengan optimal.
Dampak buruknya, beban hantaman kaki akan langsung diteruskan ke area lutut dan tumit pelari.
Kondisi sol bagian luar atau outsole yang mulai botak dan menipis juga menjadi indikator krusial. Keausan yang tidak merata pada sol luar ini dapat mengubah gaya lari alami seseorang.
Struktur bagian atas sepatu atau upper yang melar dan longgar juga menyimpan potensi bahaya.
Komponen upper yang rusak tidak mampu lagi mencengkeram kaki dengan stabil, sehingga meningkatkan risiko terkilir.
3. Timbul Rasa Sakit
Indikator paling valid adalah sinyal dari tubuh Anda sendiri. Jika Anda mulai merasakan nyeri di lutut, betis, atau telapak kaki padahal intensitas latihan tidak bertambah, bisa jadi sepatulah penyebabnya.
Tips Agar Sepatu Lari Lebih Awet
Untuk memperpanjang umur sepatu, A Rachman membagikan beberapa tips praktis:
Jangan gunakan untuk aktivitas harian: Gunakan sepatu lari khusus hanya untuk lari, bukan untuk jalan-jalan ke mal atau ke kantor.
Cara mencuci yang benar: Jangan gunakan detergen keras dan hindari menjemur di bawah matahari langsung. "Keringkan secara alami pakai kipas angin. Jangan dijemur matahari karena bakal bikin lemnya gampang copot," jelasnya.
Rotasi Sepatu: Jika memungkinkan, miliki lebih dari satu pasang sepatu untuk dipakai bergantian agar busa sepatu memiliki waktu untuk "beristirahat" dan kembali ke bentuk semula.
Demikian penjelasan mengenai kapan harus ganti sepatu lari. Apakah tanda-tanda di atas sudah muncul pada sepatu lari kesayanganmu?