- SPL merupakan singkatan dari sillage, projection, dan longevity yang menjadi tolak ukur parfum.
- Sillage mengukur jejak aroma, projection menentukan daya pancar wangi, serta longevity menunjukkan ketahanan parfum.
- Kualitas wangi dapat dioptimalkan dengan memilih konsentrasi minyak tinggi, memperhatikan bahan, dan menyimpan di tempat yang tepat
Suara.com - Bagi para pencinta wewangian, istilah SPL pasti sudah tidak asing lagi. Saat membaca ulasan produk di media sosial, tiga huruf ini sering kali menjadi tolok ukur utama sebelum seseorang membeli parfum.
Namun, apa sebenarnya kepanjangan dan makna dari SPL? SPL merupakan singkatan dari Sillage, Projection, dan Longevity.
Ketiganya merupakan pilar utama yang menentukan performa atau cara kerja sebuah parfum setelah disemprotkan ke tubuh.
Berikut ini penjelasan masing-masing istilah tersebut.
1. Sillage (Jejak Aroma)
Sillage berasal dari bahasa Prancis yang berarti "jejak". Dalam dunia wewangian, sillage adalah jejak aroma yang tertinggal di udara saat penggunanya bergerak atau berjalan melewati suatu tempat.
Pernahkah kamu mencium aroma wangi di dalam lift yang sudah kosong? Itulah contoh nyata dari sillage yang kuat dari orang yang berada di sana sebelumnya.
2. Projection (Daya Pancar)
Jika sillage mengukur jejak saat bergerak, projection mengukur seberapa jauh aroma parfum memancar dari tubuh saat dalam posisi diam.
Projection menciptakan radius wangi di sekitar. Parfum dengan proyeksi yang kuat dapat tercium oleh orang lain dalam jarak satu hingga dua meter, bahkan sebelum mereka mendekat.
3. Longevity (Daya Tahan)
Longevity adalah durasi atau seberapa lama aroma parfum dapat bertahan di kulit atau pakaian hingga benar-benar hilang.
Daya tahan ini sangat dipengaruhi oleh konsentrasi minyak wangi (fragrance oil).
Jenis Extrait de Parfum biasanya memiliki longevity tertinggi (bisa lebih dari 8 jam) dibandingkan dengan Eau de Toilette atau Body Mist.
Cara Memilih Parfum Berdasarkan SPL
1. Pahami Konsentrasi Parfum
Jika mencari longevity yang tinggi, pilihlah jenis Eau de Parfum (EDP) atau Extrait de Parfum karena memiliki kadar minyak wangi yang tinggi.
Sebaliknya, Eau de Toilette (EDT) atau Eau de Cologne (EDC) cocok untuk aroma ringan yang menyegarkan, tetapi perlu disemprot ulang setelah beberapa jam.
2. Perhatikan Notes (Aroma Dasar)
Parfum dengan base notes yang pekat seperti vanilla, amber, musk, oud, atau woody (kayu-kayuan) secara alami memiliki daya tahan (longevity) dan jejak (sillage) yang jauh lebih kuat dibandingkan aroma buah (fruity) atau jeruk (citrus) yang mudah menguap.
Cara Mempertahankan Aroma Parfum agar Tahan Lama
Setelah menemukan parfum yang cocok, gunakan trik berikut agar aromanya memancar maksimal dan tidak cepat hilang.
1. Gunakan Pelembap Sebelum Menyemprot
Parfum akan lebih mudah menguap jika disemprotkan pada kulit yang kering.
Oleskan lotion tanpa aroma (unscented body lotion) atau petroleum jelly pada titik semprot terlebih dahulu. Kulit yang lembap akan mengunci molekul parfum lebih lama.
2. Semprotkan pada Titik Nadi
Semprotkan parfum di area yang menghasilkan panas tubuh alami, seperti pergelangan tangan, leher, belakang telinga, dan bagian dalam siku.
Panas tubuh di titik-titik ini akan membantu memancarkan aroma (projection) secara berkala sepanjang hari.
3. Jangan Gosok Pergelangan Tangan
Kebiasaan menggosokkan kedua pergelangan tangan setelah menyemprot parfum justru akan memecah molekul top notes (aroma awal) dan membuat parfum lebih cepat menguap. Cukup semprotkan dan biarkan mengering alami.
4. Simpan Parfum di Tempat yang Tepat
Faktor eksternal bisa merusak kualitas cairan parfum. Hindari menyimpan botol parfum di kamar mandi atau tempat yang terkena sinar matahari langsung.
Simpanlah di tempat yang sejuk, kering, dan gelap (seperti di dalam lemari atau kotak kemasannya) agar aromanya tidak berubah.