- Mama adat di Kampung Sereh, Sentani, melestarikan tradisi Finukhu, yakni papeda yang dibungkus menggunakan daun Fotefea khusus.
- Teknik pembungkusan ini merupakan warisan pengetahuan leluhur untuk menjaga kualitas pangan secara alami selama beberapa hari.
- Generasi muda Sentani didorong mempelajari pembuatan Finukhu untuk mempertahankan identitas budaya di tengah arus modernisasi makanan.
Ia melihat papeda bungkus sebagai bukti bahwa leluhur Sentani telah memiliki pengetahuan pangan yang maju jauh sebelum konsep penyimpanan modern dikenal luas. Finukhu dapat bertahan selama beberapa hari tanpa pengawet dan tetap aman dikonsumsi.
“Finukhu menjadi bukti bahwa leluhur kami punya pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup dari alam yang mereka jaga,” ujarnya.
Menjaga Finukhu, menjaga hubungan manusia dan alam
Bagi Elo, hilangnya kebiasaan mengonsumsi pangan lokal bukan sekadar perubahan menu makan. Yang dipertaruhkan adalah hilangnya sebagian identitas budaya.
Di tengah arus modernisasi, ia percaya menjaga pangan lokal tidak berarti menolak perubahan. Justru sebaliknya—menghidupkan kembali tradisi bisa menjadi cara agar generasi muda tetap memiliki pijakan saat menghadapi masa depan.
Belajar membuat Finukhu, mengenal daun Fotefea, atau kembali menikmati papeda bersama keluarga mungkin terdengar sederhana. Namun dari tindakan kecil itu, sebuah pengetahuan yang telah hidup berabad-abad bisa terus berlanjut.
Sebab bagi Masyarakat Adat Sentani, Finukhu bukan sekadar papeda yang dibungkus daun.
Ia adalah cara leluhur menitipkan hubungan antara manusia, alam, dan adat—agar tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.