- Brand DUST merayakan 37 tahun eksistensinya dengan menampilkan koleksi denim di Mall Living World Cibubur pada 12 Juni 2026.
- Perayaan tersebut menampilkan evolusi desain koleksi denim sejak 1989 serta menyoroti strategi brand dalam menghadapi berbagai krisis ekonomi.
- DUST menerapkan prinsip keberlanjutan melalui penggunaan material ramah lingkungan dan pemberdayaan tenaga kerja lokal asal Jawa Tengah.
Suara.com - Dalam beberapa tahun terakhir, fashion tidak lagi hanya dipahami sebagai urusan gaya dan tren musiman. Industri ini bergerak ke arah yang lebih sadar—di mana pilihan bahan, proses produksi, hingga dampak lingkungan menjadi bagian penting dari percakapan. Konsumen pun semakin kritis, tidak hanya melihat desain, tetapi juga nilai di balik sebuah produk: apakah diproduksi secara etis, bagaimana jejak lingkungannya, dan sejauh mana sebuah brand melibatkan komunitas lokal dalam prosesnya.
Di tengah perubahan itu, denim tetap menjadi salah satu material paling ikonik yang tidak pernah kehilangan tempatnya di dunia fashion. Dari workwear hingga streetwear, denim berkembang menjadi bagian dari gaya hidup lintas generasi. Namun kini, denim juga mulai diposisikan ulang sebagai bagian dari narasi keberlanjutan—melalui penggunaan material yang lebih ramah lingkungan, efisiensi produksi, hingga pemberdayaan tenaga kerja lokal.
Perubahan arah inilah yang juga terlihat dalam perayaan 37 tahun DUST di Mall Living World Cibubur, 12 Juni 2026. Mengangkat perjalanan koleksi denim sejak 1989, brand ini menampilkan 30 looks yang merepresentasikan evolusi desain sekaligus konsistensi dalam mempertahankan karakter denim lokal Indonesia.
Acara tersebut tidak hanya menjadi panggung fashion show, tetapi juga ruang refleksi perjalanan industri denim lokal yang mampu bertahan melewati berbagai fase ekonomi. Dalam sesi Denim Talkshow, Dino Augusto menyoroti ketahanan brand tersebut yang telah melalui berbagai tantangan besar.
“Perjalanan 37 tahun ini bukan hal yang sederhana. Mereka melewati krisis moneter 1998, krisis global 2008, hingga pandemi 2020. Bertahan sampai sekarang bukan hanya soal eksistensi, tapi ada strategi dan konsistensi yang kuat,” ujarnya.
Lebih dari sekadar nostalgia, perayaan ini juga memperlihatkan bagaimana fashion lokal mulai merespons isu keberlanjutan secara lebih konkret. Salah satunya melalui workshop Scent of Denim, yang menghadirkan pengalaman berbeda dengan menerjemahkan material denim seperti katun, rayon, ecovero, dan tencel ke dalam bentuk aroma parfum.
Pendekatan ini menjadi cara baru untuk mendekatkan konsumen dengan material fashion, sekaligus memperkenalkan kembali pentingnya pemilihan bahan yang lebih ramah lingkungan dalam industri tekstil.
Puncak acara ditandai dengan fashion show koleksi denim sejak 1989 yang dibawakan oleh 18 model pria dan wanita. Koleksi ini menampilkan perjalanan desain dari masa ke masa, mulai dari siluet klasik hingga interpretasi modern yang lebih minimalis dan relevan dengan gaya hidup saat ini.
Di balik panggung kreatif tersebut, Head of Brand DUST, Novi Ardiyani, menegaskan bahwa konsistensi menjadi kunci utama perjalanan panjang brand ini.
“Dari awal hadir di department store hingga kini berdiri mandiri, ini bukan hanya soal pertumbuhan bisnis, tetapi juga tentang menjaga kualitas, nilai, dan kepercayaan pelanggan,” ujarnya.
Ia juga menekankan komitmen terhadap lokalitas, di mana lebih dari 60 persen tenaga kerja produksi berasal dari Jawa Tengah. Para penjahit lokal menjadi bagian penting dalam menjaga detail craftsmanship setiap produk denim yang dihasilkan.
Di tengah meningkatnya kesadaran terhadap isu lingkungan, perjalanan denim lokal seperti ini menunjukkan bahwa masa depan fashion tidak hanya bertumpu pada estetika, tetapi juga pada keberlanjutan. Perpaduan antara desain, material yang lebih bertanggung jawab, dan pemberdayaan komunitas menjadi fondasi penting bagi industri fashion lokal untuk terus relevan di masa depan.