- Menteri Kehutanan mengerahkan tiga helikopter water bombing di Gunung Bromo sejak dua hari lalu untuk memadamkan api.
- Petugas gabungan darat membuat sekat bakar sepanjang enam kilometer dan membentuk incident commander guna memperkuat koordinasi penanganan.
- Operasi pemadaman udara pada hari Minggu ditargetkan mencapai 30 kali namun terkendala oleh kondisi cuaca dan angin kencang.
Suara.com - Tiga helikopter water bombing dikerahkan untuk mempercepat pemadaman kebakaran di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. Operasi udara difokuskan pada titik api di lereng yang sulit dijangkau tim gabungan melalui jalur darat.
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan tiga helikopter tersebut telah beroperasi sejak dua hari terakhir. Pemadaman dari udara menjadi salah satu strategi untuk menjangkau area yang terkendala kondisi medan.
"Ada tiga helikopter yang sudah beroperasi dari dua hari lalu, mohon doanya supaya cuaca tetap baik sehingga api bisa dipadamkan, terutama di lereng yang tidak bisa dijangkau oleh pasukan darat," kata Menhut Raja Juli di Gunung Bromo, Minggu.
Untuk hari ini, operasi water bombing ditargetkan dilakukan sebanyak 30 kali. Hingga Minggu, penyiraman dari udara telah dilakukan sebanyak 17 kali.
Namun, target tersebut masih bergantung pada kondisi cuaca. Raja Juli mengatakan hembusan angin menjadi salah satu kendala utama dalam pelaksanaan pemadaman melalui udara.
Karena itu, ia meminta masyarakat terus memberikan dukungan agar kondisi cuaca memungkinkan operasi udara berjalan maksimal.
"Mohon doa supaya cuaca tetap baik sehingga bisa genap 30 kali dan titik api bisa dipadamkan," ujarnya.
Sekat Bakar Dibuat 6 Kilometer
Selain mengandalkan helikopter, pemadaman tetap dilakukan tim gabungan melalui jalur darat. Petugas juga membuat sekat bakar sepanjang enam kilometer untuk mencegah api kembali meluas.
Raja Juli mengatakan kebakaran sebelumnya dapat meluas dengan cepat akibat kondisi medan dan angin kencang.
"Kejadian kemarin (meluasnya kebakaran di Bromo) karena faktor kelerengan dan hembusan angin yang sangat tinggi akhirnya membuat api loncat," tutur dia.
Untuk memperkuat koordinasi penanganan, pemerintah juga membentuk incident commander di lokasi kebakaran.
Menurut Raja Juli, mekanisme tersebut dibuat agar kebutuhan, kendala, dan strategi pemadaman dapat dikoordinasikan secara lebih terstruktur.
"Tadi kami sudah rapat membuat incident commanders, semua kebutuhan dan tantangan bisa dikoordinasikan sehingga pemadaman ini akan lebih baik," tuturnya.