- Pengusaha Sandiana Soemarko mendanai pembangunan Kapela St. Antonius Padua di Fatumetan, Nusa Tenggara Timur, untuk meningkatkan fasilitas ibadah warga.
- Sandiana menyalurkan bantuan kebutuhan pokok bagi masyarakat terdampak bencana di wilayah Sumatera selama masa tanggap darurat hingga pemulihan.
- Aksi filantropi Sandiana bertujuan memperkuat solidaritas sosial serta mendorong pembangunan yang inklusif melalui kolaborasi aktif dengan berbagai pihak.
Suara.com - Di tengah perkembangan dunia usaha nasional, kiprah Sandiana Soemarko tidak hanya dikenal sebagai pengusaha, tetapi juga sebagai filantropis Indonesia yang aktif mendorong berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan. Melalui sejumlah inisiatif yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, ia menunjukkan bahwa kepedulian sosial dapat diwujudkan melalui aksi nyata yang memberi manfaat berkelanjutan.
Salah satu bentuk kontribusi yang mendapat perhatian adalah dukungannya terhadap pembangunan Kapela St. Antonius Padua di Fatumetan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Bantuan tersebut diberikan untuk mempercepat pembangunan rumah ibadah sekaligus menghadirkan fasilitas yang lebih layak bagi masyarakat dalam menjalankan aktivitas keagamaan.
Bagi Sandiana, rumah ibadah bukan sekadar tempat berdoa, tetapi juga ruang yang mempererat persaudaraan, memperkuat nilai kemanusiaan, dan menjadi pusat kebersamaan masyarakat.
“Saya percaya bahwa setiap orang berhak memiliki tempat yang layak untuk beribadah dan membangun kebersamaan. Ketika kita membantu menghadirkan fasilitas yang lebih baik, kita juga ikut mendukung tumbuhnya harapan dan semangat masyarakat,” ujar Sandiana Soemarko di Jakarta, Minggu (21/6/2026).
Selain mendukung pembangunan fasilitas keagamaan, Sandiana juga terlibat dalam berbagai aksi kemanusiaan, termasuk penyaluran bantuan bagi masyarakat yang terdampak bencana di wilayah Sumatera. Bersama berbagai pihak, ia menyalurkan kebutuhan pokok untuk membantu meringankan beban warga selama masa tanggap darurat hingga proses pemulihan pascabencana.
Berbagai kegiatan tersebut mencerminkan pandangan Sandiana bahwa filantropi tidak hanya sebatas memberikan bantuan, melainkan juga menciptakan dampak positif yang dapat memperkuat ketahanan sosial masyarakat. Karena itu, ia menilai keberhasilan di dunia usaha semestinya berjalan seiring dengan tanggung jawab untuk berkontribusi kepada sesama.
“Bisnis bukan hanya tentang pertumbuhan dan keuntungan, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Jika kita memiliki kesempatan untuk membantu, maka sudah sepatutnya kesempatan itu dimanfaatkan untuk kebaikan bersama,” tuturnya.
Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui semangat kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari komunitas lokal, lembaga sosial, hingga organisasi kemasyarakatan. Menurutnya, kerja sama lintas sektor akan membuat program sosial lebih efektif, tepat sasaran, dan mampu menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan.
Kiprah Sandiana Soemarko menjadi contoh bahwa perempuan Indonesia memiliki peran penting dalam mendorong perubahan sosial. Dengan memadukan aktivitas bisnis dan kepedulian terhadap masyarakat, ia menunjukkan bahwa kesuksesan dapat menjadi sarana untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas.
Di tengah berbagai tantangan sosial yang masih dihadapi Indonesia, praktik filantropi yang dilakukan Sandiana memperlihatkan bahwa kontribusi individu maupun dunia usaha dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat solidaritas, membangun harapan, dan mendorong pembangunan yang lebih inklusif bagi masyarakat.