- BPS mencatat Indeks Kegemaran Membaca Indonesia turun dari 72,44 pada 2024 menjadi 54,80 pada 2025.
- CEO Ziyadbooks Rubiyanta menyatakan penerbit menghadirkan inovasi buku interaktif untuk menghadapi dominasi gawai digital.
- Ziyadbooks meraih penghargaan Brand Indonesia Excellence Award 2026 kategori Stationery dan Books dari INFOBRAND.ID serta TRAS N CO.
Suara.com - Minat baca masyarakat Indonesia masih menghadapi tantangan. Di tengah semakin kuatnya dominasi gawai dan konten digital, pelaku industri penerbitan buku anak berupaya menghadirkan inovasi agar buku tetap menjadi bagian dari keseharian anak-anak.
Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia masih menjadi perhatian berbagai pihak. Data UNESCO yang kerap dirujuk menyebutkan tingkat minat baca Indonesia berada di angka 0,001%, sementara survei Perpustakaan Nasional yang diolah Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indeks Kegemaran Membaca turun dari 72,44 pada 2024 menjadi 54,80 pada 2025.
Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan bagi dunia pendidikan maupun industri penerbitan untuk mendorong budaya membaca sejak usia dini.
Anak-anak saat ini tumbuh di tengah derasnya arus konten digital. Gawai dan tayangan audiovisual menjadi bagian dari keseharian mereka, sehingga buku harus bersaing untuk mendapatkan perhatian.

CEO Ziyadbooks, Rubiyanta, mengatakan tantangan terbesar penerbit buku anak saat ini bukan hanya menerbitkan buku, tetapi juga membuat buku mampu menarik minat anak di tengah dominasi perangkat digital.
"Anak-anak sekarang tumbuh bersama gawai. Maka, tugas kami adalah membuat buku yang tidak kalah menarik dari layar gadget. Ada ilustrasi hidup dan pengalaman interaktif yang membuat mereka betah berlama-lama," kata Rubiyanta.
Menurutnya, buku anak perlu terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan fungsi utamanya sebagai media belajar.
Selama lebih dari dua dekade, Ziyadbooks mengembangkan berbagai jenis buku anak, mulai dari board book untuk balita, buku cerita bergambar, ensiklopedia, hingga sound book interaktif yang memadukan buku dengan teknologi audio.
Rubiyanta menambahkan, upaya meningkatkan literasi tidak dapat dilakukan penerbit sendirian. Kolaborasi dengan orang tua, guru, sekolah, hingga jaringan mitra penjualan menjadi bagian dari strategi untuk memperluas akses buku kepada anak-anak.
"Kami juga terus memperluas jangkauan. Kolaborasi dengan orang tua, guru, sekolah, dan ribuan mitra penjualan menjadi bagian penting dari upaya ini," ujarnya.
Upaya tersebut turut mendapat pengakuan melalui penghargaan Brand Indonesia Excellence Award 2026 untuk kategori Stationery & Books yang diberikan dalam ajang yang diselenggarakan INFOBRAND.ID bersama TRAS N CO Indonesia.
Meski demikian, Rubiyanta menilai penghargaan bukanlah tujuan akhir. Menurutnya, tantangan membangun budaya membaca membutuhkan komitmen jangka panjang dari seluruh pemangku kepentingan.
Ia berharap semakin banyak keluarga yang menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari, sehingga anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga nilai-nilai kehidupan melalui buku.
"Kami berharap semakin banyak anak Indonesia yang tumbuh dengan buku sebagai sahabatnya. Karena dari buku, mereka belajar tidak hanya pengetahuan, tetapi juga nilai-nilai kehidupan. Itu yang membuat kami terus bergerak, meskipun jalannya panjang," tutupnya.