- Dokter Feni Fitriani menyatakan musim kemarau meningkatkan debu dan polusi yang memicu infeksi saluran pernapasan.
- Kementerian Kesehatan mencatat kunjungan pasien infeksi saluran pernapasan mencapai 676.404 kasus pada Januari hingga Juli 2026.
- Masyarakat diimbau menjaga kesehatan, menghindari pembakaran sampah, serta memakai pelindung saat beraktivitas di luar rumah.
ISPA merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan berbagai infeksi yang menyerang saluran pernapasan, baik bagian atas maupun bawah. Gangguan tersebut dapat melibatkan hidung, tenggorokan, sinus, bronkus, hingga paru-paru.
Berdasarkan informasi Kementerian Kesehatan, ISPA dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, seperti virus, bakteri, maupun jamur. Sementara itu, paparan polusi udara dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan turut memicu masalah pada saluran napas.
Sejumlah gejala ISPA yang perlu diwaspadai antara lain batuk, pilek, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, demam, sesak napas, suara serak atau hilang, sakit kepala, serta nyeri otot dan sendi.
Feni mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala tersebut, khususnya jika dialami oleh kelompok rentan.
Balita, lanjut dia, termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian, selain lansia serta orang yang memiliki penyakit paru-paru dan penyakit jantung.
Jika gejala gangguan pernapasan muncul pada kelompok tersebut, Feni menyarankan agar segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.