- Siswa SDN Pelambuan 4 Banjarmasin menciptakan Papan Kompas untuk mengurangi ucapan kasar dan menumbuhkan sikap saling menghargai.
- Siswa SMP Negeri 1 Lubuk Pakam mengembangkan aplikasi Perisai Pintar agar siswa bisa menyampaikan keluhan secara anonim kepada guru BK.
- Kedua inovasi tersebut merupakan bagian dari Program GENERASI Trakindo 2026 yang melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolah ramah anak.
Hasil observasi menunjukkan sekitar 60 persen siswa mendukung pengembangan Perisai Pintar. Dalam prosesnya, siswa juga belajar membuat aplikasi berbasis AI dan mengembangkan situs tersebut bersama tim.
Perwakilan siswa, Angelika Patresia Gultom, mengatakan aplikasi tersebut dapat menjadi ruang bagi siswa untuk menyampaikan persoalan yang sulit dibicarakan secara langsung.
“Kalau ada Perisai Pintar ini, kami punya tempat untuk berkeluh kesah,” ujarnya.
Guru BK SMP Negeri 1 Lubuk Pakam, Mennusuriani Saragih, mengatakan pendekatan Challenge Based Learning (CBL) mendorong siswa bekerja sama dan bergotong royong dalam menyelesaikan persoalan di sekolah.
Anak Dilibatkan dalam Menciptakan Perubahan
Kedua inovasi tersebut merupakan bagian dari Program GENERASI Trakindo 2026, yang menggunakan pendekatan CBL untuk mendorong siswa mengenali masalah, merancang solusi, dan menciptakan perubahan bersama warga sekolah.
Hingga 2026, Program GENERASI telah menjangkau 205 sekolah di 18 provinsi, terdiri atas 30 SDN dan SMPN mitra serta 175 sekolah imbas. Sejak 2021, program ini telah mendorong lahirnya lebih dari 150 inovasi.
Corporate Communication & CSR Manager PT Trakindo Utama, Candy Sihombing, mengatakan keterlibatan siswa menjadi bagian penting dalam menciptakan sekolah ramah anak.
“Ketika siswa diberikan ruang untuk memahami persoalan di sekitarnya dan dipercaya untuk mencari solusi, mereka belajar bahwa suara dan gagasan mereka dapat memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekolah,” ujarnya.
Menurut Candy, keberhasilan program tidak hanya diukur dari inovasi yang dihasilkan, tetapi juga dari tumbuhnya kepedulian dan kepercayaan diri siswa.
Kisah Papan Kompas dan Perisai Pintar menunjukkan bahwa sekolah ramah anak dapat tumbuh dari hal-hal sederhana: anak didengar, diberi ruang untuk bersuara, dipercaya mencari solusi, dan dilibatkan dalam menciptakan perubahan.