Suara.com - Ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi, api hampir selalu dipandang sebagai ancaman yang harus segera dipadamkan. Namun, pengalaman masyarakat Dayak Iban di Sungai Utik, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, menunjukkan bahwa penggunaan api memiliki konteks yang lebih kompleks.
Di komunitas tersebut, api digunakan dalam sistem perladangan gulir balik (swidden agriculture) yang diwariskan lintas generasi. Namun, api bukan satu-satunya unsur dalam sistem tersebut. Ada pengetahuan lokal, aturan sosial, teknik pengendalian, serta pemahaman mengenai kondisi lingkungan.
“Untuk memahami api, kita perlu melihat sistem di balik api tersebut,” ujar Prof. Endah Sulistyawati, S.Si., Ph.D., Guru Besar Kelompok Keahlian Teknologi Kehutanan, SITH Institut Teknologi Bandung (ITB), saat mengunjungi komunitas Dayak Iban Menua Sungai Utik.
Api hanya satu bagian
Dalam sistem perladangan gulir balik, lahan yang digunakan umumnya berasal dari hutan sekunder bekas ladang yang telah ditinggalkan selama beberapa tahun. Selama masa tersebut, lahan mengalami suksesi atau pemulihan alami.
Masyarakat memiliki pengetahuan untuk menentukan kapan lahan dianggap cukup pulih dan dapat kembali digunakan.
Saat lahan dipersiapkan, pohon ditebang dan vegetasi bawah ditebas. Biomassa direbahkan, sementara kayu yang masih bernilai dimanfaatkan sebagai bahan bangunan atau kayu bakar.
Pembakaran dilakukan dengan memperhatikan arah angin, membuat sekat bakar, serta dilakukan secara bertahap. Anggota masyarakat juga berjaga untuk mengantisipasi kemungkinan api keluar dari area yang ditentukan.
Luas pembakaran relatif kecil, sekitar dua hektare atau kurang, dan dapat berlangsung sekitar dua jam.
Setelah padi dipanen, lahan tidak terus digunakan. Lahan memasuki masa bera dan kembali mengalami suksesi. Vegetasi tumbuh, bahan organik terakumulasi, dan tanah perlahan memulihkan kesuburannya.
“Lahan akan memasuki masa bera dan kembali mengalami proses suksesi,” kata Endah.
Menjaga pangan dan pengetahuan
Sistem perladangan tersebut juga berkaitan dengan ketahanan pangan dan keragaman hayati.
Berdasarkan dokumentasi Hardiyanti pada 2025, dari sekitar 30 bilik yang disurvei di Rumah Panjang Sungai Utik ditemukan 237 jenis padi lokal, termasuk padi biasa dan padi pulut.
Keragaman varietas tersebut dapat membantu masyarakat menghadapi ketidakpastian lingkungan. Setiap varietas memiliki karakteristik berbeda sehingga ketika satu jenis tidak tumbuh optimal, varietas lain masih dapat menjadi pilihan.
Benih juga perlu terus ditanam dan diperbarui agar tidak hilang.
Karena itu, ladang bukan sekadar tempat memproduksi pangan. Ia juga menjadi ruang untuk mempertahankan sumber daya genetik, pengetahuan, dan budaya yang diwariskan antargenerasi.
Pelajaran untuk pencegahan karhutla
Pengalaman Sungai Utik tidak dapat digeneralisasi untuk seluruh praktik penggunaan api di Indonesia. Kondisi ekosistem, skala, teknik pengendalian, dan karakter masyarakat di setiap wilayah berbeda.
Namun, pengalaman tersebut memberikan perspektif penting: pencegahan karhutla tidak cukup hanya dengan melihat keberadaan api.
Pertanyaan yang perlu diajukan juga mencakup mengapa api digunakan, bagaimana pengendaliannya, dalam kondisi apa api menjadi berisiko, dan sistem pengelolaan apa yang berada di belakangnya.
Pendekatan kontekstual ini dapat membuka ruang bagi kebijakan yang tetap mengutamakan keselamatan dan pencegahan karhutla, sekaligus mempertimbangkan pengetahuan masyarakat yang telah lama berinteraksi dengan lingkungannya.
“Api mungkin hanya berlangsung sekitar dua jam. Namun, sistem yang melatarbelakanginya berlangsung selama bertahun-tahun,” ujar Endah.
Penulis: Chairunisa