Belajar Menjaga Hutan dari Cara Masyarakat Dayak Iban Mengelola Api

Bimo Aria Fundrika

Senin, 31 Agustus 2026 | 18:32 WIB
Belajar Menjaga Hutan dari Cara Masyarakat Dayak Iban Mengelola Api
Ilustrasi Hutan (pexels.com/mali maeder)

Suara.com - Ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi, api hampir selalu dipandang sebagai ancaman yang harus segera dipadamkan. Namun, pengalaman masyarakat Dayak Iban di Sungai Utik, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, menunjukkan bahwa penggunaan api memiliki konteks yang lebih kompleks.

Di komunitas tersebut, api digunakan dalam sistem perladangan gulir balik (swidden agriculture) yang diwariskan lintas generasi. Namun, api bukan satu-satunya unsur dalam sistem tersebut. Ada pengetahuan lokal, aturan sosial, teknik pengendalian, serta pemahaman mengenai kondisi lingkungan.

“Untuk memahami api, kita perlu melihat sistem di balik api tersebut,” ujar Prof. Endah Sulistyawati, S.Si., Ph.D., Guru Besar Kelompok Keahlian Teknologi Kehutanan, SITH Institut Teknologi Bandung (ITB), saat mengunjungi komunitas Dayak Iban Menua Sungai Utik.

Api hanya satu bagian

Dalam sistem perladangan gulir balik, lahan yang digunakan umumnya berasal dari hutan sekunder bekas ladang yang telah ditinggalkan selama beberapa tahun. Selama masa tersebut, lahan mengalami suksesi atau pemulihan alami.

Masyarakat memiliki pengetahuan untuk menentukan kapan lahan dianggap cukup pulih dan dapat kembali digunakan.

Saat lahan dipersiapkan, pohon ditebang dan vegetasi bawah ditebas. Biomassa direbahkan, sementara kayu yang masih bernilai dimanfaatkan sebagai bahan bangunan atau kayu bakar.

Pembakaran dilakukan dengan memperhatikan arah angin, membuat sekat bakar, serta dilakukan secara bertahap. Anggota masyarakat juga berjaga untuk mengantisipasi kemungkinan api keluar dari area yang ditentukan.

Luas pembakaran relatif kecil, sekitar dua hektare atau kurang, dan dapat berlangsung sekitar dua jam.

baca juga

Setelah padi dipanen, lahan tidak terus digunakan. Lahan memasuki masa bera dan kembali mengalami suksesi. Vegetasi tumbuh, bahan organik terakumulasi, dan tanah perlahan memulihkan kesuburannya.

“Lahan akan memasuki masa bera dan kembali mengalami proses suksesi,” kata Endah.

Menjaga pangan dan pengetahuan

Sistem perladangan tersebut juga berkaitan dengan ketahanan pangan dan keragaman hayati.

Berdasarkan dokumentasi Hardiyanti pada 2025, dari sekitar 30 bilik yang disurvei di Rumah Panjang Sungai Utik ditemukan 237 jenis padi lokal, termasuk padi biasa dan padi pulut.

Keragaman varietas tersebut dapat membantu masyarakat menghadapi ketidakpastian lingkungan. Setiap varietas memiliki karakteristik berbeda sehingga ketika satu jenis tidak tumbuh optimal, varietas lain masih dapat menjadi pilihan.

Benih juga perlu terus ditanam dan diperbarui agar tidak hilang.

Karena itu, ladang bukan sekadar tempat memproduksi pangan. Ia juga menjadi ruang untuk mempertahankan sumber daya genetik, pengetahuan, dan budaya yang diwariskan antargenerasi.

Pelajaran untuk pencegahan karhutla

Pengalaman Sungai Utik tidak dapat digeneralisasi untuk seluruh praktik penggunaan api di Indonesia. Kondisi ekosistem, skala, teknik pengendalian, dan karakter masyarakat di setiap wilayah berbeda.

Namun, pengalaman tersebut memberikan perspektif penting: pencegahan karhutla tidak cukup hanya dengan melihat keberadaan api.

Pertanyaan yang perlu diajukan juga mencakup mengapa api digunakan, bagaimana pengendaliannya, dalam kondisi apa api menjadi berisiko, dan sistem pengelolaan apa yang berada di belakangnya.

Pendekatan kontekstual ini dapat membuka ruang bagi kebijakan yang tetap mengutamakan keselamatan dan pencegahan karhutla, sekaligus mempertimbangkan pengetahuan masyarakat yang telah lama berinteraksi dengan lingkungannya.

“Api mungkin hanya berlangsung sekitar dua jam. Namun, sistem yang melatarbelakanginya berlangsung selama bertahun-tahun,” ujar Endah.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

248 Hektare Lahan Sumut Terbakar Dalam 8 Bulan! Terparah Labuhanbatu

248 Hektare Lahan Sumut Terbakar Dalam 8 Bulan! Terparah Labuhanbatu

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 17:58 WIB

Kebakaran lagi, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Kembali ditutup

Kebakaran lagi, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Kembali ditutup

Foto | Senin, 31 Agustus 2026 | 16:41 WIB

Sepak Terjang Masrupah Syarifuddin Istri Sekda Kalsel yang Ingin 'Kembali Muda' di Tengah Karhutla

Sepak Terjang Masrupah Syarifuddin Istri Sekda Kalsel yang Ingin 'Kembali Muda' di Tengah Karhutla

Entertainment | Senin, 31 Agustus 2026 | 16:20 WIB

Terkini

Paru-Paru Dunia dalam Kepungan Asap: Hak Bernapas di Tengah Krisis Karhutla

Paru-Paru Dunia dalam Kepungan Asap: Hak Bernapas di Tengah Krisis Karhutla

Your Say | Senin, 31 Agustus 2026 | 18:29 WIB

Rumor Panas! Persija Bakal Gaet Bomber Timnas Kroasia Eks Parma, Bos Besar Buka Suara

Rumor Panas! Persija Bakal Gaet Bomber Timnas Kroasia Eks Parma, Bos Besar Buka Suara

Bola | Senin, 31 Agustus 2026 | 18:28 WIB

Masyarakat Bisa Protes Jika Data Desil Tak Sesuai, Begini Caranya

Masyarakat Bisa Protes Jika Data Desil Tak Sesuai, Begini Caranya

Bisnis | Senin, 31 Agustus 2026 | 18:26 WIB

Kemarau Panjang Belum Usai, Hujan Mulai Turun di Musi Rawas dan Wilayah Sumsel

Kemarau Panjang Belum Usai, Hujan Mulai Turun di Musi Rawas dan Wilayah Sumsel

Sumsel | Senin, 31 Agustus 2026 | 18:26 WIB

Gaya Hidup Berkelanjutan Mulai Dilirik, Brand Ramah Lingkungan Punya Peluang Besar di Indonesia

Gaya Hidup Berkelanjutan Mulai Dilirik, Brand Ramah Lingkungan Punya Peluang Besar di Indonesia

Lifestyle | Senin, 31 Agustus 2026 | 18:25 WIB

Jogja dan Mitos Slow Living: Ketika Kota Santai Harus Tegang Mengejar Hidup

Jogja dan Mitos Slow Living: Ketika Kota Santai Harus Tegang Mengejar Hidup

Your Say | Senin, 31 Agustus 2026 | 18:23 WIB

Daftar Motor Matik yang Sudah Dilengkapi USB Type C dari Honda Scoopy Sampai Yamaha NMAX

Daftar Motor Matik yang Sudah Dilengkapi USB Type C dari Honda Scoopy Sampai Yamaha NMAX

Otomotif | Senin, 31 Agustus 2026 | 18:23 WIB

Hasil Timnas Indonesia U-20: Garuda Muda Gagal Jinakkan Malaysia, Buang Sejumlah Peluang Emas

Hasil Timnas Indonesia U-20: Garuda Muda Gagal Jinakkan Malaysia, Buang Sejumlah Peluang Emas

Bola | Senin, 31 Agustus 2026 | 18:22 WIB

DPR Desak Polisi Usut Peran Ormas di Balik Pengeroyokan Maut Warga Pejompongan

DPR Desak Polisi Usut Peran Ormas di Balik Pengeroyokan Maut Warga Pejompongan

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 18:20 WIB

80% Distribusi Energi Jawa Bagian Barat Lewat RU VI Balongan, Kapal Siaga 24 Jam

80% Distribusi Energi Jawa Bagian Barat Lewat RU VI Balongan, Kapal Siaga 24 Jam

Bisnis | Senin, 31 Agustus 2026 | 18:19 WIB

×