- DermNet NZ menyatakan bahwa sabun cuci muka berbusa melimpah dan terlalu keras dapat mengganggu fungsi skin barrier serta lipid alami kulit.
- American Academy of Dermatology mengingatkan bahwa pembersih wajah yang terlalu agresif dapat memicu iritasi dan meningkatkan produksi minyak berlebih.
- Cleveland Clinic menyarankan untuk mencuci wajah dua kali sehari menggunakan produk lembut agar kulit tidak kering dan tetap sehat.
Suara.com - Sabun cuci muka berbusa melimpah sering dianggap lebih ampuh mengangkat minyak dan kotoran dari wajah. Sensasi “kesat” setelah mencuci muka bahkan kerap dianggap sebagai tanda bahwa kulit sudah benar-benar bersih.
Namun, anggapan tersebut tidak selalu benar. Pada kondisi tertentu, sabun cuci muka yang terlalu keras justru dapat membuat kulit terasa semakin berminyak setelah beberapa waktu.
DermNet NZ menjelaskan bahwa surfaktan dalam produk pembersih memang bekerja dengan mengikat minyak dan kotoran sehingga dapat dibilas dengan air. Namun, proses pembersihan yang terlalu agresif juga dapat menghilangkan sebagian lipid alami kulit dan mengganggu fungsi skin barrier.
Lantas, mengapa kulit bisa terasa semakin berminyak setelah menggunakan sabun cuci muka yang menghasilkan banyak busa?

Busa Melimpah Tidak Sama dengan Daya Bersih yang Lebih Baik
Hal pertama yang perlu dipahami adalah jumlah busa bukan indikator langsung bahwa sebuah facial wash lebih efektif membersihkan kulit.
Busa dihasilkan oleh surfaktan tertentu. Menurut DermNet NZ, surfaktan memiliki bagian yang dapat berinteraksi dengan minyak dan kotoran serta bagian yang berinteraksi dengan air sehingga kotoran tersebut dapat dibilas. Beberapa jenis surfaktan anionik, misalnya, memang dikenal menghasilkan banyak busa.
Artinya, facial wash yang sedikit berbusa belum tentu kurang membersihkan, sementara produk dengan busa sangat banyak belum tentu lebih baik untuk kulit.
Yang lebih penting adalah seberapa lembut formula tersebut terhadap skin barrier.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Dermatology Research and Practice menjelaskan bahwa surfaktan dapat berinteraksi dengan komponen stratum corneum, termasuk lipid kulit. Interaksi tersebut dalam kondisi tertentu dapat mengganggu struktur dan fungsi barrier kulit.
Mengapa Kulit Bisa Terlihat Lebih Berminyak?

Ketika pembersih terlalu agresif, minyak alami di permukaan kulit dapat ikut terangkat secara berlebihan.
DermNet NZ menyebutkan bahwa mencuci secara berlebihan dapat menghilangkan lapisan sebum di permukaan kulit. Kondisi tersebut dapat meningkatkan kehilangan air dari epidermis dan membuat kulit menjadi terlalu kering atau mengalami iritasi.
American Academy of Dermatology (AAD) juga secara khusus mengingatkan pemilik kulit berminyak agar tidak menggunakan facial wash yang terlalu keras hanya untuk membuat kulit terasa kering.
AAD menyebutkan bahwa facial wash yang terlalu keras dapat mengiritasi kulit dan memicu peningkatan produksi minyak. Karena itu, untuk kulit berminyak, AAD justru merekomendasikan pembersih yang lembut.
Dengan kata lain, masalahnya bukan semata-mata karena “busa”. Yang perlu diperhatikan adalah formula di balik busa tersebut dan bagaimana kulit meresponsnya.
Skin Barrier yang Terganggu Bisa Membuat Kulit Terasa Tidak Seimbang
Skin barrier merupakan lapisan pelindung yang membantu mempertahankan kelembapan kulit sekaligus melindunginya dari berbagai faktor eksternal.