- Maudy Ayunda menuai kritik warganet karena konten kesehatan mentalnya dinilai tidak peka terhadap realitas sosial.
- Konten tersebut memicu kontroversi karena menyarankan pengabaian berita buruk, yang dianggap sebagai hak istimewa kalangan tertentu saja.
- Akibat kejadian tersebut, Maudy Ayunda ramai dicap sebagai sosok yang tidak peka atau tone deaf oleh publik.
Suara.com - Media sosial baru-baru ini dihebohkan dengan perbincangan hangat seputar Maudy Ayunda.
Maudy Ayunda menuai kritik pedas dari warganet lantaran konten YouTube yang diunggahnya dinilai kurang peka terhadap situasi nyata di Indonesia.
Dalam video berjudul Mindfulness in the Age of Bad News, Maudy Ayunda membahas cara menjaga kesehatan mental di tengah derasnya arus pemberitaan negatif.
Istilah tone deaf di media sosial memiliki makna yang jauh berbeda dari istilah medis.
Namun, pembahasan tersebut justru memicu kontroversi. Warganet menilai konten itu tidak "napak tanah" alias tidak sesuai dengan kondisi masyarakat yang sedang menghadapi berbagai kesulitan hidup dan krisis nyata, seperti masalah kekeringan serta bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Publik lantas menyoroti satu poin krusial dalam konten Youtube pelantun lagu Perahu Kertas, yakni kemampuan untuk mengambil jarak atau mengabaikan berita buruk adalah sebuah privilege (hak istimewa).
Kenyataannya, privilege ini sama sekali tidak dimiliki oleh mereka yang harus berjuang dan terdampak langsung secara ekonomi maupun sosial. Akibatnya, Maudy pun ramai dicap sebagai tone deaf.

Lantas, apa sebenarnya arti dari istilah tone deaf yang kini melekat pada kontroversi tersebut? Berikut penjelasannya.
Menyelami Arti Tone Deaf: dari Tuli Nada hingga Masalah Sosial
Secara harfiah dari bahasa Inggris, tone deaf memang berarti “tuli nada”. Dalam dunia medis, kondisi ketidakmampuan membedakan tinggi rendah nada, ritme, atau melodi ini dikenal sebagai amusia.
Amusia merupakan gangguan neurologis yang disebabkan oleh perbedaan struktur atau fungsi otak, di mana aktivitas di area pemrosesan musik mengalami penurunan.
Namun, penting dicatat bahwa penggunaan istilah tone deaf di media sosial memiliki makna yang jauh berbeda dari istilah medis tersebut.
Dalam konteks sosial dan digital saat ini, tone deaf digunakan secara metaforis untuk menggambarkan seseorang yang tidak peka terhadap situasi atau perasaan orang lain.
Orang yang tone deaf sering kali membuat pernyataan, komentar, atau tindakan yang tidak pantas dan tidak sensitif terhadap isu-isu hangat, seperti memamerkan barang mewah atau bersikap acuh tak acuh saat orang lain sedang tertimpa kesusahan.
Penyebab Seseorang Bisa Bersikap Tone Deaf
Ketidakpekaan sosial ini tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor utama yang membuat seseorang bisa bersikap tone deaf:
- Kurangnya Empati: Empati adalah kunci untuk merasakan apa yang dialami orang lain. Seseorang yang minim empati akan kesulitan memprediksi bagaimana reaksi publik terhadap tindakan atau ucapannya.
- Kurangnya Kesadaran Sosial: Gagal memahami norma, nilai, atau realitas yang sedang berlaku di masyarakat membuat seseorang kerap melontarkan hal-hal yang justru menyinggung.
- Perbedaan Perspektif: Latar belakang dan pengalaman hidup yang berbeda sering kali membuat seseorang gagal paham mengapa orang lain bisa merasa tersinggung atau sakit hati dengan konten yang mereka buat.
- Kurangnya Informasi: Ketidaktahuan atau minimnya wawasan mendalam mengenai suatu isu yang sedang diperbincangkan publik juga bisa menjerumuskan seseorang ke dalam tindakan yang dianggap tone deaf.
Kasus yang menimpa Maudy Ayunda menjadi pengingat bagi siapa saja, khususnya para figur publik, bahwa ruang digital menuntut kepekaan sosial yang tinggi.
Menjadi tone deaf bukan lagi sekadar urusan telinga yang salah menangkap nada, melainkan cerminan dari kompleksitas emosi, norma, dan empati di tengah realitas masyarakat yang beragam.
Dengan meningkatkan kesadaran diri, diharapkan kita bisa lebih bijak dalam bersikap dan membagikan konten agar tidak melukai perasaan sesama.