Suara.com - Minyak jelantah menjadi salah satu limbah rumah tangga yang jumlahnya terus bertambah seiring tingginya konsumsi minyak goreng di Indonesia. Kajian Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) bersama Traction Energy Asia memperkirakan produksi minyak jelantah nasional mencapai 3 juta ton per tahun, dengan 1,6 juta ton di antaranya berasal dari rumah tangga di kota-kota besar.
Sebagian besar limbah ini masih dibuang langsung ke saluran air atau tanah, padahal berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.
Dari persoalan itu, tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan solusi berupa cat ramah lingkungan berbahan dasar limbah minyak jelantah. Inovasi tersebut mengantarkan mereka meraih Juara 2 kategori House Related Innovation pada kompetisi BTN Housingpreuner 2025, Sabtu (31/1/2026).
Tim yang beranggotakan Roihan M. Iqbal (Teknik Material 2021), Muhammad Fadhlan Hamidy (Arsitektur 2024), dan Rashif Aulia Bahri (Teknik Kimia 2024) ini berhasil menyisihkan peserta lain di ajang yang berlangsung sejak Desember 2025 hingga babak final Januari 2026.
Malam penjurian besar digelar di Menara BTN, dilanjutkan pameran inovasi selama tiga hari di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan.
Jawab Dua Masalah Sekaligus
BTN Housingpreuner merupakan kompetisi yang mewadahi ide bisnis dan solusi inovatif di bidang perumahan dan properti. Dalam ajang ini, tim ITB mengangkat isu pencemaran lingkungan dan perubahan iklim yang kian relevan dengan sektor perumahan, dengan mengubah minyak bekas pakai menjadi bahan baku cat untuk industri hunian.
"Inovasi ini kami rancang bukan hanya sebagai produk, tetapi sebagai solusi yang menjawab dua isu sekaligus, yaitu pengelolaan limbah dan kebutuhan material ramah lingkungan di sektor perumahan," ujar Roihan dilansir dalam laman ITB.
Keberhasilan mengembangkan cat dari minyak jelantah ini tidak lepas dari kolaborasi lintas jurusan yang dijalankan sejak tahap riset awal.
Roihan dari sisi teknik material memastikan aspek teknis produk agar layak digunakan sebagai bahan pelapis dinding, Fadhlan dari arsitektur menilai relevansi aplikatifnya pada bangunan hunian, sementara Rashif dari teknik kimia menangani formulasi dan proses pengolahan bahan baku menjadi cat siap pakai.
Pembagian peran ini membuat tim dapat menelusuri persoalan dari berbagai sudut: karakteristik kimiawi minyak jelantah, potensi pengolahannya menjadi bahan turunan, hingga peluang mengintegrasikan bahan tersebut ke dalam rantai produksi industri cat yang sudah ada.
Tantangan terbesar justru muncul di tahap riset ini yakni, mengubah limbah dapur menjadi material bernilai tambah membutuhkan kajian matang, baik dari sisi teknis formulasi maupun kelayakan bisnisnya, agar produk yang dihasilkan tidak berhenti sebagai konsep di atas kertas, melainkan dapat diproduksi dan diterapkan dalam skala perumahan yang sesungguhnya.
Lebih dari Sekadar Gelar Juara

Bagi tim ini, keikutsertaan dalam BTN Housingpreuner tidak hanya bertujuan meraih gelar juara. Selain pendanaan, peserta juga berkesempatan memperluas jejaring dan mendapat pembinaan langsung dari para profesional di industri perumahan selama rangkaian kompetisi berlangsung, mulai dari tahap penyusunan proposal hingga presentasi di hadapan dewan juri di Menara BTN.
Roihan berpesan kepada mahasiswa lain yang tertarik pada industri perumahan agar mencoba ajang serupa. "Kalau tertarik dengan industri perumahan, ajang seperti ini sangat layak dicoba. Bukan cuma soal kompetisi, tapi juga kesempatan belajar langsung dari para profesional dan membangun jaringan yang bisa berdampak jangka panjang," katanya.
Inovasi cat dari minyak jelantah karya tim ITB ini menambah daftar riset mahasiswa di Indonesia yang mengarahkan limbah dapur rumah tangga menjadi bahan baku bernilai ekonomi, mulai dari biodiesel hingga produk perawatan rumah. Dengan potensi bahan baku yang melimpah dari konsumsi minyak goreng nasional, pengembangan lebih lanjut terhadap formulasi cat ini berpeluang membuka jalan bagi material konstruksi berbasis limbah yang lebih banyak diproduksi dalam skala industri.
Penulis: Inesia Dian