Tak Hanya Terumbu Karang, Pengerukan Pasir Laut Bisa Ganggu Kehidupan Kerapu Sunu

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 25 September 2026 | 12:55 WIB
Tak Hanya Terumbu Karang, Pengerukan Pasir Laut Bisa Ganggu Kehidupan Kerapu Sunu
Dua ekskavator beroperasi di lokasi konstruksi berpasir di tepi laut, memindahkan pasir dan batu. (dok.Pexels/Joao Guerreiro)

Suara.com - Aktivitas penambangan pasir laut di sekitar Pulau Numbing, Kepulauan Riau, berpotensi memicu dampak berantai terhadap ekosistem pesisir. Pengerukan dasar perairan dapat memperburuk kadar kejernihan sehingga mengganggu terumbu karang, lamun, hingga biota yang bergantung pada habitat tersebut.

Pakar biologi laut sekaligus dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University, Dr. Meutia Samira Ismet, menjelaskan bahwa dampak pengerukan tidak hanya terjadi di sekitar lokasi pembangunan.

“Dengan adanya pengerukan, tingkat partikel tersuspensi akan meningkat dan menyebabkan kekeruhan perairan. Ini tentu dapat berdampak terhadap keberlangsungan ekosistem pesisir, terutama terumbu karang dan lamun,” jelas Meutia.

Air Keruh Ganggu Kehidupan Terumbu Karang

Terjadinya peningkatan tersuspensi memengaruhi kondisi air laut menjadi lebih keruh. Konfisi itulah yang bisa mengurangi jumlah cahaya matahari untuk menembus perairan.

Bagi terumbu karang, kondisi ini menjadi permasalahan karena karang sangat erat kaitannya dengan alga Zooxanthellae yang membutuhkan cahaya untuk melakukan fotosintesis.

Berkurangnya penetrasi cahaya dapat mengganggu proses tersebut hingga pada akhirnya memengaruhi kondisi karang jadi kurang optimal.

Tak hanya mengurangi cahaya, materal hasil pengerukan pasir ini dapat melayang dengan bebas di dalam air, bahkan menempel juga di permukaan karang.

Meutia menilai pasir dan debu yang tersuspensi in berpotensi menutup polip karang sehingga menghambat kehidupan serta pertumbuhannya. Jika berlangsung secara intens, gangguan tersebut bisa berujung pada penurunan kualitas habitat tersebut.

baca juga

“Terumbu karang merupakan habitat bagi berbagai organisme laut yang saling berinteraksi dalam suatu ekosistem. Ketika kualitas habitat menurun, keanekaragaman dan kelimpahan organisme yang bergantung pada ekosistem tersebut juga berpotensi mengalami penurunan,” tuturnya.

Hal ini berarti dampak penambangan pasir laut tidak berhenti pada karang. Kerusakan atau penurunan kualitas terumbu karang ikut memengaruhi berbagai organisme yang telah menjadikan ekosistem tersebut sebagai tempat hidup.

Bahkan Kerapu Sunu Ikut Terdampak

Salah satu biota laut yang memiliki hubungan erat dengan terumbu karang adalah ikan kerapu sunu. Spesies ini merupakan ikan yang bersifat teritorial sehingga memiliki keterikatan tinggi dengan wilayah habitatnya.

"Ketika habitat terganggu, kehidupan dan pertumbuhannya juga dapat ikut terganggu,” ungkap Meutia.

Padahal kerapu sunu mengemban peran penting sebagai predator kelas atas dalam ekosistem. Ikan tersebut sangat membutukan ketersediaan mangsa untuk menopang keberlangsungan hidupnya.

Peningkatan kekeruhan perairan yang terjadi ini dapat menambah beban kelompok tersebut. Sebab, kondisi air yang keruh berpotensi mengganggu kemampuan visual ikan tersebut dalam memastikan ketersediaan makanan dan pertumbuhannya.

Dampak Bisa Berlangsung dalam Jangka Panjang

Gangguan terhadap ekosistem pesisir juga berkaitan dengan perubahan kondisi nutrisi perairan.

Meutia menerangkan bahwa peningkatan bahan organik akibat pengerukan berpotensi mendorong pertumbuhan makroalga secara berlebihan.

Makroalga yang tumbuh lebih cepat dibandingkan karang tanpa disadari bisa mengubah keseimbangan ekosistem. Bahkan entitas tersebut dapat menutupi terumbu sehingga kian menghambat kondisi karang.

Perubahan nutrisi perairan ini juga berpotensi menurunkan kadar oksigen dan mengganggu keseimbangan mikroorganisme. Kondisi tersebut turut memperburuk risiko berkembangnya bakteri oportunis seperti Vibrio.

Dampak ekologis itu dapat berlangsung dalam waktu yang lama ketika gangguan tersebut terjadi tanpa henti. Hal ini mengakibatkan terumbu karang yang telah mengalami degradasi membutuhkan waktu lebih lama untuk memulihkan kondisi alaminya.

“Ketika terumbu karang yang sehat mengalami degradasi, pemulihannya secara alami akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Kondisi ini pada akhirnya dapat memengaruhi keanekaragaman hayati, termasuk jumlah dan kesehatan kerapu sunu,” tuturnya.

Fenomena itulah yang membuktikan bahwa pengerukan pasir laut perlu ditinjau bukan hanya dari perubahan pada lokasi aktivitas itu berlangsung. 

Di baliknya ada potensi mengenai dampak yang terjadi terhadap korelasi ekosistem pesisir dengan berbagai biota laut yang bergantung padanya.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

IWIP-WBN Perluas Rehabilitasi Mangrove demi Ekosistem Laut Pesisir

IWIP-WBN Perluas Rehabilitasi Mangrove demi Ekosistem Laut Pesisir

Bisnis | Selasa, 22 September 2026 | 06:10 WIB

Prabowo Minta Bea Cukai Perketat Perbatasan dan Wilayah Pesisir

Prabowo Minta Bea Cukai Perketat Perbatasan dan Wilayah Pesisir

News | Selasa, 22 September 2026 | 17:39 WIB

Mengapa Suara Nelayan Penting dalam Pembangunan Giant Sea Wall di Teluk Jakarta?

Mengapa Suara Nelayan Penting dalam Pembangunan Giant Sea Wall di Teluk Jakarta?

News | Senin, 21 September 2026 | 12:30 WIB

Terkini

Mas Bechi Bebas Bersyarat, LPSK Minta Korban Tak Ragu Lapor Jika Kembali Dapat Ancaman

Mas Bechi Bebas Bersyarat, LPSK Minta Korban Tak Ragu Lapor Jika Kembali Dapat Ancaman

News | Jum'at, 25 September 2026 | 12:54 WIB

Iran Ancam Perluas Perang ke Samudra Hindia Jika AS dan Israel Kembali Menyerang

Iran Ancam Perluas Perang ke Samudra Hindia Jika AS dan Israel Kembali Menyerang

News | Jum'at, 25 September 2026 | 12:52 WIB

Denny Indrayana Tegaskan Gugatan di MK Bukan Sekadar Ijazah Gibran: Ini Political Corruption

Denny Indrayana Tegaskan Gugatan di MK Bukan Sekadar Ijazah Gibran: Ini Political Corruption

News | Jum'at, 25 September 2026 | 12:50 WIB

AI Mulai Masuk Pabrik UKM, Data Jadi Senjata Baru Dongkrak Produktivitas

AI Mulai Masuk Pabrik UKM, Data Jadi Senjata Baru Dongkrak Produktivitas

Tekno | Jum'at, 25 September 2026 | 12:49 WIB

7 Penyebab Pakaian Tetap Bau Apek meski Sudah Pakai Pelembut Saat Dijemur

7 Penyebab Pakaian Tetap Bau Apek meski Sudah Pakai Pelembut Saat Dijemur

Lifestyle | Jum'at, 25 September 2026 | 12:44 WIB

Jejak Ngeri F Alias Batak: Penggerak Pelajar Buat Rusuh, Bawa Sajam, hingga Incar Kantor Polisi

Jejak Ngeri F Alias Batak: Penggerak Pelajar Buat Rusuh, Bawa Sajam, hingga Incar Kantor Polisi

News | Jum'at, 25 September 2026 | 12:43 WIB

Lipstik Wardah Glasting Ada Berapa Shade? Cek Pilihan Warnanya untuk Wanita Indonesia

Lipstik Wardah Glasting Ada Berapa Shade? Cek Pilihan Warnanya untuk Wanita Indonesia

Lifestyle | Jum'at, 25 September 2026 | 12:36 WIB

Tak Cuma Hiburan, BagaimanaSeni Bisa Jadi Jalan untuk Menggerakkan Aksi Iklim

Tak Cuma Hiburan, BagaimanaSeni Bisa Jadi Jalan untuk Menggerakkan Aksi Iklim

Lifestyle | Jum'at, 25 September 2026 | 12:33 WIB

MediaTek C10 Max Bawa Performa AI 55 TOPS, Siap Jadi Penantang Snapdragon X

MediaTek C10 Max Bawa Performa AI 55 TOPS, Siap Jadi Penantang Snapdragon X

Your Say | Jum'at, 25 September 2026 | 12:33 WIB

Buku Hakim Sarmin Presiden Kita: Membaca Politik Lewat Tawa dalam Dua Lakon

Buku Hakim Sarmin Presiden Kita: Membaca Politik Lewat Tawa dalam Dua Lakon

Your Say | Jum'at, 25 September 2026 | 12:30 WIB

×