- Frans Seda Foundation bersama Unika Atma Jaya menyelenggarakan perayaan puncak satu abad kelahiran Frans Seda di Kampus Semanggi pada Jumat, 9 Oktober 2026.
- Acara ini bertujuan mengenang jasa Frans Seda sebagai negarawan dan pendiri Unika Atma Jaya sekaligus meneruskan nilai pengabdiannya kepada generasi muda.
- Rangkaian acara penutup tersebut diisi dengan Misa Syukur, pemanfaatan teknologi AI, bincang lintas generasi, dan pementasan drama musikal oleh Teater UTTA.
Suara.com - Frans Seda dikenal sebagai negarawan yang mengabdikan hidupnya untuk Tuhan dan tanah air. Kiprahnya tidak hanya tercatat dalam perjalanan politik dan pemerintahan Indonesia, tetapi juga dalam dunia pendidikan, salah satunya melalui perannya sebagai salah satu pendiri Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya pada 1960.
Seratus tahun setelah kelahirannya, warisan pemikiran dan pengabdian Frans Seda kembali diangkat melalui Frans Seda Centennial Celebration: Empowering the Next Generation. Perayaan yang digelar di Ballroom Gedung Yustinus Lantai 15, Kampus Semanggi, Unika Atma Jaya, Jumat (9/10/2026), ini menjadi momentum untuk mengenang sekaligus meneruskan nilai-nilai yang diwariskannya kepada generasi muda.
Diselenggarakan oleh Frans Seda Foundation bersama Yayasan Atma Jaya dan Unika Atma Jaya, dengan dukungan Yayasan Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (PPM) serta Kompas Gramedia Group, acara tersebut menutup rangkaian peringatan satu abad Frans Seda yang berlangsung sejak September 2026.
Frans Seda dan Warisan Pendidikan
Bagi Frans Seda, membangun bangsa bukan semata-mata melalui kebijakan dan kepemimpinan, melainkan juga dengan mengembangkan manusia melalui pendidikan. Komitmen itu salah satunya diwujudkan lewat pendirian Unika Atma Jaya pada 1960.
Warisan tersebut terus dilanjutkan melalui upaya membentuk generasi yang berilmu, berintegritas, dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat.
Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), mengajak hadirin menjadikan Frans Seda sebagai teladan dalam menghidupi semangat “Untuk Tuhan dan Tanah Air”.
Menurutnya, peringatan satu abad Frans Seda tidak seharusnya berhenti pada mengenang perjalanan masa lalu. Semangat pengabdian yang diwariskan perlu diterjemahkan ke dalam pilihan dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan serupa disampaikan Uskup Keuskupan Agung Jakarta sekaligus Ketua Pembina Yayasan Atma Jaya, Ignatius Kardinal Suharyo, dalam Misa Syukur di Kapel St. Albertus Magnus yang mengawali perayaan puncak.
Dalam homilinya, Kardinal Suharyo merefleksikan kesadaran Frans Seda sejak muda mengenai panggilan awam Katolik untuk menghadirkan nilai-nilai Injil di tengah kehidupan, termasuk dalam bidang politik, ekonomi, budaya, kesehatan, dan pendidikan.
Ia mengajak generasi muda untuk menjaga, merawat, sekaligus mengembangkan warisan Frans Seda dengan cara-cara baru yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Warisan ini diteruskan kepada kita untuk kita jaga, untuk kita rawat, dan untuk kita kembangkan dengan mencari jalan-jalan yang baru. Intinya sama, tujuannya sama, yaitu meresapi tata dunia yang semakin jauh dari nilai-nilai Injil,” ujar Kardinal Suharyo.
Managing Director Frans Seda Foundation, Stefanus Ginting, juga menyampaikan bahwa Frans Seda merupakan sosok panutan dengan kiprah dan pemikiran yang melampaui zamannya, baik sebagai negarawan, tokoh keagamaan, maupun tokoh pendidikan.
Karena itu, peringatan seratus tahun kelahirannya dikemas melalui pendekatan yang dekat dengan generasi muda, termasuk pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI), musik, dan drama musikal.
Mengenang Perjalanan Hidup Frans Seda Lewat Drama Musikal