- Desainer Vivi Mar'i Zubedi mengangkat tenun Sumba sebagai material utama koleksi VIVIZUBEDI di penutupan IN2MF 2026.
- Teknik draperi digunakan untuk menata kain tanpa mengguntingnya agar bentuk dan makna tenun tetap terjaga.
- Pendekatan ini menghadirkan wastra Nusantara dalam modest fashion modern sekaligus menjadikan kain tradisional sebagai elemen utama busana.
Suara.com - Tenun Sumba bukan sekadar kain, melainkan warisan budaya. Karena itu, memotong tenun untuk menyesuaikannya dengan pola busana berisiko mengubah bentuk kain sekaligus mengurangi nilai yang melekat padanya.
Pola pikir itu pula yang diterapkan desainer Vivi Mar'i Zubedi atau dikenal sebagai Vivi Zubedi saat menjadikan kain tenun Sumba sebagai material utama dalam koleksi terbaru VIVIZUBEDI yang ditampilkan pada penutupan Indonesia International Modest Fashion Festival atau IN2MF 2026.
Alih-alih menggunting kain untuk mengikuti pola pakaian, Vivi memanfaatkan teknik drapery atau draperi yang memungkinkan kain ditata dengan cara dilipat dan digerai sehingga karakter aslinya tetap terlihat.

"Teknik draperi itu untuk yang justru bukan bahan besarnya ya. Karena kan itu selendang-selendang yang udah jadi, yang justru kalau dia digunting, hilang maknanya," ujar Vivi usai peragaan busana kepada awak media di Jakarta International Convention Center (JICC), Minggu (18/10/2026).
Pendekatan ini digunakan Vivi untuk menerjemahkan wastra Nusantara ke dalam busana modest fashion kekinian.
Baginya, tenun daerah tidak harus selalu hadir sebagai aksen kecil atau material pelengkap. Kain tradisional bisa menjadi elemen utama yang membentuk keseluruhan tampilan busana.
"Karena kan selama ini kalau kain-kain daerah tuh paling dijadiin kombinasi, hanya kombinasi-kombinasi kecil. Tapi ini kita full pakai di badan," kata Vivi.

Vivi blak-blakan mengaku belum pernah mengeksplorasi tenun Sumba. Eksplorasi wastra dari Indonesia Timur ini juga menjadi bentuk persembahannya untuk Tanah Air.
Sebelumnya, ia lebih sering mengeksplorasi kain Sasirangan yang menjadi salah satu favoritnya.
"Kali ini dengan memadukan kekayaan tenun Sumba dan karakter bold serta edgy yang menjadi identitas kami," ungkap Vivi.
"Semoga persembahan ini dapat menumbuhkan kecintaan terhadap produk lokal sekaligus menginspirasi lebih banyak upaya untuk melestarikan wastra Indonesia," imbuhnya.
Eksplorasi tenun Sumba tidak sebatas persoalan memotong kain, tetapi juga mencakup penentuan palet warna.

Saat ia kerap memainkan warna-warna tegas dan gelap, tenun Sumba justru hadir dalam koleksi bernuansa pastel.
"Susah karena biasa saya suka yang bold-bold, yang dark gitu. Ini agak pastel gitu ya. Kombinasinya dengan styling-nya Fizu," pungkas Vivi.