Suara.com - Kesibukan kuliah dan pekerjaan membuat Nahda Syafitri tak lagi leluasa menekuni hobi menggambar yang disukainya sejak kecil. Keinginan untuk kembali berkarya membawanya bergabung dengan Klub Corat-Coret, komunitas yang menyediakan ruang bagi siapa saja untuk menggambar tanpa harus menjadi ahli.
Nahda mengenal seni sejak berusia tiga hingga lima tahun. Dengan dukungan orang tuanya, ia sempat mengikuti les menggambar dan melukis hingga berpartisipasi dalam sejumlah perlombaan.
Namun, seiring bertambahnya kesibukan, ia lebih sering menggambar secara sederhana. Keinginannya untuk kembali menekuni hobi tersebut tetap ada, tetapi ia membutuhkan lingkungan yang bisa mempertemukannya dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan serupa.
Ia kemudian menemukan Klub Corat-Coret melalui Instagram. Tertarik dengan kegiatan membuat sketsa dan jurnal, Nahda memutuskan mengikuti pertemuan komunitas tersebut sekitar September 2026.
Baginya, bergabung dengan komunitas bukan sekadar mencari kesempatan untuk menghasilkan gambar yang bagus, melainkan juga bertemu orang baru dan keluar dari zona nyaman.
Pengalaman pertamanya meninggalkan kesan positif. Meski datang terlambat, ia merasa diterima oleh anggota lain yang menghargai setiap karya tanpa membandingkan kemampuan menggambar pesertanya.
"Padahal pada saat itu aku kayaknya telat, tapi mereka sangat welcome. Baik-baik responsnya dan menghargai semua karya teman-teman yang lainnya, walaupun enggak jago gambar tuh juga enggak apa-apa," ujar Nahda saat mengikuti kegiatan Piknik Seru sambil Corat-Coret di Masjid Agung Sunda Kelapa, Minggu (25/10).
Nahda mengaku sempat minder melihat sketsa peserta lain yang menurutnya lebih bagus. Namun, perasaan itu perlahan berganti menjadi kekaguman dan keinginan untuk belajar.
Setiap peserta mendapat kesempatan menceritakan karya mereka, termasuk pengalaman atau gagasan yang melatarbelakanginya. Apresiasi yang diberikan membuat Nahda lebih percaya diri untuk kembali berkarya.
"Dari situ, aku jadi meningkatkan kepercayaan diri, sih. Karena setiap karya yang kita jelasin, setiap karya yang kita tuangin itu dihargai. Jadi, itu bikin kita jadi pede (percaya diri), jadi bagus semangatnya," katanya.
Pengalaman tersebut juga membuatnya menyadari bahwa ia tidak sendirian dalam mempertahankan hobi di tengah kesibukan.
"Ternyata, oh dunia itu luas banget ya, aku enggak merasa sendirian. Kita masih bisa nge-share apa yang kita punya dan tetap mempertahankan hobi kita. Jadi, jangan merasa kayak hobi itu terkubur," tutur Nahda.
Berawal dari Kebutuhan Ruang Berbagi
Pengalaman Nahda menggambarkan ruang yang ingin dihadirkan Klub Corat-Coret. Komunitas ini tidak menjadikan kemampuan menggambar sebagai syarat utama untuk bergabung.
Didirikan oleh Yohanes Sultan Bajas Ginting, yang akrab disapa Johan, pada Februari 2025, Klub Corat-Coret bermula dari kegiatan bertema Valentine di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Setelah mendapat respons positif, kegiatan menggambar bersama itu berkembang menjadi pertemuan rutin.
Johan melihat bahwa sebagian orang mungkin ragu bergabung dengan komunitas karena merasa harus memiliki keterampilan tertentu. Karena itu, Klub Corat-Coret berupaya membuka ruang bagi siapa saja untuk mencoba dan menemukan minatnya.
"Kalau di Klub Corat-Coret ini kita lebih ke komunitas inklusif. Jadi semua orang itu bisa join aja dulu. Nanti kita lihat di dalamnya mereka punya bakat apa, mereka punya ketertarikan di bidang apa. Biasanya kita mau akomodasi dari sana," ujar Johan.
Menurutnya, menggambar juga dapat menjadi cara untuk mengungkapkan pikiran dan keresahan yang sulit disampaikan lewat percakapan.
"Kadang-kadang ada orang yang udah buntu banget di kepalanya, dia tuh enggak bisa ngobrol, enggak bisa cerita. Tapi kadang-kadang digambar tuh perlahan-lahan, eh? Kok bisa, ya? Keresahannya itu mulai bisa digambarin," jelasnya.
Melalui karya dan cerita di baliknya, peserta juga berkesempatan memahami pengalaman serta sudut pandang orang lain.
Menggambar Tanpa Harus Menjadi Ahli
Kini, Klub Corat-Coret memiliki sekitar 500 anggota aktif di Jakarta. Komunitas ini mengadakan pertemuan rutin dua kali sebulan, yakni pada minggu kedua dan keempat, pukul 14.00–17.00 WIB di Taman Ismail Marzuki.
Kegiatan rutin tersebut tidak dipungut biaya pendaftaran, meski kegiatan kolaborasi tertentu dapat menerapkan ketentuan biaya tersendiri. Tema menggambar pun beragam, mulai dari isu yang sedang ramai diperbincangkan hingga peringatan hari tertentu.
Johan berharap pertemuan komunitas tidak sekadar menjadi ajang berkumpul, tetapi juga ruang untuk bertukar pengalaman dan membangun pertemanan.
"Bikin kegiatan yang sebenarnya bisa bermanfaat bagi para membernya, bukan cuma mereka kumpul-kumpul doang. Tapi ya, sebenarnya esensinya sharing-nya ini, networking juga itu yang paling penting," ungkapnya.
Bagi Nahda, kesempatan berkarya tanpa takut dibandingkan menjadi alasan untuk kembali memberi ruang bagi hobinya. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa seseorang tidak harus menjadi ahli untuk menikmati kegiatan yang disukai.
Terkadang, yang dibutuhkan bukan tuntutan untuk menghasilkan karya sempurna, melainkan lingkungan yang membuat seseorang berani mencoba lagi. Di Klub Corat-Coret, selembar kertas dan coretan sederhana menjadi awal untuk kembali menekuni hobi, berbagi cerita, dan menemukan teman dengan minat serupa.
Penulis: Chairiunisa