Akademisi bidang toksikologi dan biomolekuler Universitas Kristen Maranatha, Prof. Dr. Wahyu Widowati, M.Si., menjelaskan bahwa risiko kesehatan akibat merokok perlu dipahami dengan merunut sumber bahaya utamanya, yakni paparan senyawa berbahaya dari pembakaran tembakau. Ia menambahkan bahwa hal ini perlu dipisahkan dari nikotin.
“Penyebab risiko kesehatannya bukan nikotin, tetapi rokok yang dibakar. Meskipun nikotin memang memiliki efek adiktif,” tuturnya.
Ia menerangkan pembakaran rokok menghasilkan lebih dari 7 ribu senyawa berbahaya, termasuk karbon monoksida, nitrogen oksida, dan benzena.
“Dalam konteks pengurangan bahaya tembakau, produk-produk seperti produk tembakau yang dipanaskan maupun vape bisa menjadi alternatif solusi karena tidak melibatkan pembakaran. Namun, perbedaan tersebut tidak berarti produk alternatif bebas dari risiko kesehatan,” jelas Wahyu.
Pendekatan tobacco harm reduction dapat menjadi bahan pertimbangan bagi perokok dewasa yang belum berhasil berhenti merokok. Meski begitu, berhenti merokok tetap menjadi pilihan utama untuk menjaga kesehatan. Edukasi mengenai produk tembakau alternatif perlu disertai informasi yang seimbang tentang karakteristik, risiko, dan bukti ilmiah agar dapat menjadi pertimbangan bagi konsumen dewasa.****