Suara.com - Merokok yang berdampak bagi kesehatan sudah menjadi kebiasaan dari jutaan perokok di Indonesia. Banyak dari mereka yang sulit berhenti merokok, namun ingin mengurangi bahayanya. Bagi mereka, yang dibutuhkan adalah edukasi, pendampingan, serta opsi alternatif. Salah satu pendekatan yang kian banyak dibahas dan didukung berbagai pakar dalam dunia kesehatan adalah tobacco harm reduction (THR) atau pengurangan bahaya tembakau. Pendekatan ini mendorong perokok dewasa untuk mengurangi dampak kesehatan melalui peralihan ke produk tembakau alternatif seperti produk tembakau yang dipanaskan, vape, dan kantong nikotin.
Praktisi Kesehatan dr. Jeffrey Ariesta Putra, Sp.B. menyoroti kesenjangan antara jumlah perokok dan akses terhadap bantuan untuk berhenti merokok. Berdasarkan data 2021 yang dipaparkannya, Indonesia memiliki sedikitnya 70 juta perokok dan 63 persen di antaranya menyatakan keinginan untuk berhenti. Namun, hanya 38 persen perokok yang mendapatkan edukasi atau bantuan untuk menghentikan kebiasaan merokoknya saat mereka datang ke rumah sakit.
“Ada diskrepansi data, jumlah perokok tinggi, mereka datang ke rumah sakit, tetapi sayangnya tidak ditangani atau bahkan tidak teridentifikasi. Gap ini membuat saya bertanya apa yang bisa kita lakukan sebagai tenaga kesehatan. Padahal, edukasi pasien itu penting,” jelas Jeffrey dalam The 3rd Symposium of Indonesian Health Resilience Association (SIERA III) 2026 di Jakarta belum lama ini, dikutip Jumat (30/10/2026).
Menurutnya, tenaga kesehatan dapat memanfaatkan kesempatan ketika pasien menjalani pemeriksaan atau persiapan operasi untuk memberikan edukasi. Pendampingan dapat dilakukan melalui pendekatan 5A, yakni ask (menanyakan kebiasaan merokok), advise (memberikan saran untuk berhenti), assess (menilai kesiapan pasien), assist (membantu proses berhenti), dan arrange (mengatur tindak lanjut).
Menurutnya, THR atau pengurangan bahaya tembakau dapat diintegrasikan ke dalam pendekatan ini sebagai alternatif apabila pasien belum dapat berhenti merokok.
“Agar edukasi berjalan konsisten, kolaborasi lintas profesi itu penting. Kita ingin membentuk sebuah tim yang bisa bekerja sama menjalankan SOP agar pada akhirnya pasien diharapkan dapat mengurangi bahaya merokok,” ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, Guru Besar Periodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran (FKG Unpad), Prof. Dr. Amaliya, drg., M.Sc., Ph.D., memaparkan penelitian selama 90 hari terhadap personel marinir yang memiliki kebiasaan merokok.
Dalam kurun waktu tersebut, Amaliya dan tim membandingkan kelompok yang beralih sepenuhnya dari rokok ke produk tembakau alternatif dengan kelompok yang tetap merokok. Penelitian ini mengamati sejumlah indikator, termasuk aliran darah gusi, kondisi gusi, kemampuan mengenali rasa, dan kadar karbon monoksida dalam embusan napas.
“Hasilnya, setelah beralih selama tiga bulan dari rokok ke produk tembakau alternatif seperti produk tembakau yang dipanaskan dan vape atau e-cigarette, peredaran darah di gusinya menjadi lancar. Yang asalnya pembuluh darahnya menyempit, menjadi membaik,” katanya.
Menurutnya, kondisi gusi mereka yang beralih ke produk alternatif justru mendekati kondisi gusi orang-orang yang tidak merokok.
Amaliya menjelaskan, perbaikan aliran darah ini merupakan salah satu hasil yang ditemukan melalui penelitian ini. Di samping itu, kelompok personel marinir yang beralih juga menunjukkan perubahan pada kemampuan mengenali rasa dan kadar karbon monoksida dalam embusan napas yang turun dari 14 pada awal penelitian menjadi 5,22 setelah tiga bulan. Sementara itu, kelompok yang tetap merokok memiliki kadar karbon monoksida sekitar 16 pada akhir pengamatan.
“Hasil ini menunjukkan bahwa kadar karbon monoksida pada kelompok yang beralih menurun hingga mendekati tingkat pada orang yang tidak merokok,” tuturnya.
Temuan ini sangat penting karena menurutnya, konsumen dewasa perlu memperoleh edukasi berbasis bukti mengenai perbedaan risiko antara terus merokok dan beralih sepenuhnya ke produk tembakau alternatif.
Meski demikian, Amaliya menegaskan hasil pengamatan selama tiga bulan tersebut tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan dampak kesehatan jangka panjang.
Memahami perbedaan nikotin dan pembakaran tembakau
Akademisi bidang toksikologi dan biomolekuler Universitas Kristen Maranatha, Prof. Dr. Wahyu Widowati, M.Si., menjelaskan bahwa risiko kesehatan akibat merokok perlu dipahami dengan merunut sumber bahaya utamanya, yakni paparan senyawa berbahaya dari pembakaran tembakau. Ia menambahkan bahwa hal ini perlu dipisahkan dari nikotin.
“Penyebab risiko kesehatannya bukan nikotin, tetapi rokok yang dibakar. Meskipun nikotin memang memiliki efek adiktif,” tuturnya.
Ia menerangkan pembakaran rokok menghasilkan lebih dari 7 ribu senyawa berbahaya, termasuk karbon monoksida, nitrogen oksida, dan benzena.
“Dalam konteks pengurangan bahaya tembakau, produk-produk seperti produk tembakau yang dipanaskan maupun vape bisa menjadi alternatif solusi karena tidak melibatkan pembakaran. Namun, perbedaan tersebut tidak berarti produk alternatif bebas dari risiko kesehatan,” jelas Wahyu.
Pendekatan tobacco harm reduction dapat menjadi bahan pertimbangan bagi perokok dewasa yang belum berhasil berhenti merokok. Meski begitu, berhenti merokok tetap menjadi pilihan utama untuk menjaga kesehatan. Edukasi mengenai produk tembakau alternatif perlu disertai informasi yang seimbang tentang karakteristik, risiko, dan bukti ilmiah agar dapat menjadi pertimbangan bagi konsumen dewasa.****