- Otoritas Jasa Keuangan mencatat sekitar 64,5 persen dari 65,5 juta UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan.
- Sebanyak 30 pengusaha perempuan mengikuti pelatihan bisnis daring dan pendampingan intensif dari September hingga Oktober 2026.
- Sepuluh peserta terpilih menerima dana bantuan usaha dan dua peserta mengikuti pameran FinExpo OJK Bandung.
Materi disampaikan oleh praktisi kewirausahaan dan pemasaran digital, antara lain Perry Primanda dan Nugraha Andaf. Pembelajaran juga dilengkapi pendampingan melalui WhatsApp, konsultasi bisnis privat melalui Zoom, serta edukasi literasi keuangan.
Salah satu peserta, Soffariati Ummi Rosyidah, pemilik usaha Nyambelin dari Malang, Jawa Timur, mengaku mendapatkan perspektif baru dalam mengembangkan strategi pemasaran bisnisnya.
Menurut Soffariati, materi dan pendampingan yang diterima membantunya mengevaluasi strategi pemasaran digital, mengoptimalkan toko daring, serta menyusun konten yang lebih efektif.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendampingan yang tepat dapat membantu pelaku UMKM melihat kembali potensi bisnis sekaligus mengidentifikasi hal-hal yang perlu diperbaiki.
Dukungan Pengembangan Usaha dan Perluasan Pasar
Setelah menyelesaikan rangkaian pelatihan, 10 peserta terpilih memperoleh dana bantuan pengembangan usaha dengan total nilai lebih dari Rp30 juta. Bantuan diberikan berdasarkan evaluasi akhir program, termasuk kemampuan peserta menyusun rencana pengembangan bisnis yang konkret dan aplikatif.
Para penerima berasal dari berbagai daerah dengan bidang usaha yang beragam, mulai dari kuliner, produk perawatan rambut, fesyen, hingga minuman tradisional.
Mereka adalah Aleta Puling (Almerani) dari Kupang, Azzahra Putri Wahyudi (Wawind) dari Kabupaten Bandung, Kayla Jasmine Panataran (Wikrama) dari Sleman, Novi Risdayanti (Doyami) dari Palembang, Novita Wisudawati (Pak Ombak) dari Pekanbaru, Olya Widowati Putri (deLollie) dari Gunungkidul, Siti Nurul Hidayah (Dapoer Katuyung) dari Martapura, Soffariati Ummi Rosyidah (Nyambelin) dari Malang, Tiurlan Anne Frida S (GKN Jahe Merah) dari Medan, serta Umi Rohana (Rehana Melodi) dari Batu.
Selain bantuan pengembangan usaha, dua peserta, yakni Siti Nurul Hidayah dan Soffariati Ummi Rosyidah, juga memperoleh kesempatan memperkenalkan produknya melalui Pameran FinExpo dalam rangka Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026 yang diselenggarakan OJK di Bandung pada 29 Oktober hingga 1 November 2026.
Bagi pelaku UMKM, kesempatan mengikuti pameran dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan produk kepada calon konsumen, memperluas jaringan, sekaligus melihat peluang pasar di luar daerah asal.
Siti Nurul Hidayah mengatakan partisipasi dalam pameran tersebut menjadi pengalaman berharga bagi Dapoer Katuyung untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.
"Kesempatan mengikuti Pameran BIK OJK 2026 menjadi pengalaman berharga bagi Dapoer Katuyung untuk memperkenalkan produk kepada pasar yang lebih luas. Saya berharap kesempatan ini dapat membuka peluang baru dan membantu usaha kami terus berkembang," ujarnya.
Program Womenpreneurship Business Bootcamp 2026 merupakan bagian dari inisiatif GROW with RupiahCepat, program tanggung jawab sosial perusahaan yang berfokus pada literasi keuangan, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Direktur PT Kredit Utama Fintech Indonesia (RupiahCepat), Anna Maria Chosani, mengatakan penguatan kapasitas pelaku usaha perlu berjalan beriringan dengan dukungan untuk mengembangkan bisnis.
Melalui program tersebut, perusahaan berharap para peserta dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh, memperluas akses pasar, dan membangun usaha yang lebih berkelanjutan.