- Ashoka Indonesia mengumumkan dua belas inisiatif sosial terbaik dari ajang Gaharu Bumi Innovation Challenge pada Jumat, 6 November 2026, di Jakarta.
- Ke-12 inovator akar rumput tersebut terpilih dari 677 pendaftar lintas kategori untuk menghadirkan solusi nyata terhadap tantangan ekologi, ekonomi, serta inklusi sosial.
- Program ini bertujuan menjembatani para inovator lokal dengan berbagai sektor agar solusi di daerah dapat direplikasi secara nasional.
Suara.com - Di tengah ancaman krisis iklim yang kian nyata dan berbagai kegagalan sistem dalam menyediakan ruang hidup yang layak, secercah harapan justru menyala terang dari ruang-ruang yang kerap luput dari perhatian: dapur keluarga, kebun sekolah, hingga bengkel komunitas di pelosok daerah.
Melalui gelaran dua tahunan Gaharu Bumi Innovation Challenge (GBIC) 2026, Ashoka Indonesia resmi mengumumkan 12 inisiatif sosial terbaik.
Ke-12 inovator ini terpilih dari 677 pendaftar asal 250 kabupaten/kota di 21 provinsi di seluruh Indonesia, yang terbagi ke dalam empat kategori: Keluarga, Guru, Orang Muda, dan Komunitas.
Keberagaman para peserta membuktikan bahwa dorongan untuk menciptakan ruang hidup yang adil, inklusif, dan lestari bukan sekadar impian muluk di atas kertas, melainkan aksi nyata yang sedang bergulir di tingkat akar rumput.
Perubahan Tak Selalu Lahir dari Meja Kebijakan
Direktur Regional Ashoka Asia Tenggara, Nani Zulminarni, menegaskan bahwa inisiatif ini berpijak pada keyakinan dasar Ashoka: semua orang adalah pembuat perubahan (changemaker).
"Perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar atau institusi raksasa. Sering kali, perubahan justru berakar dari kepedulian seseorang terhadap masalah nyata yang ia saksikan setiap hari di depan matanya," kata Nani dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (6/11/2026).
Menurut Nani, antusiasme dan kualitas inovasi tahun ini memberikan suntikan optimisme luar biasa.
"Di berbagai pelosok, kita menyaksikan orang-orang yang menolak berpangku tangan menunggu bantuan datang. Mereka memilih menjadi bagian dari solusi, membuktikan bahwa masa depan sedang dirawat dari rumah, sekolah, dan komunitas terkecil kita."
Penjaringan inisiatif terbaik ini melalui proses kurasi yang ketat dalam tiga tahap. Dari ratusan pendaftar, tersaring 20 semifinalis, disusul 10 finalis di tiap kategori, hingga akhirnya melahirkan 12 tim terbaik.
Proses penilaian menitikberatkan pada lima kriteria fundamental: kedekatan dengan persoalan, kreativitas solusi, komitmen, kemampuan merangkul kolaborasi, serta ketepatan sasaran.
Ragam Solusi: Dari Restorasi Mata Air hingga Diplomasi Budaya
Kedua belas inisiatif terpilih ini memperlihatkan spektrum solusi yang kaya, menjawab tantangan ekologi, ekonomi, hingga inklusi sosial di tanah air. Berikut adalah 12 inisiatif terbaik GBIC 2026:
Kategori Keluarga
1. Kebon Tamantirto (DI Yogyakarta) – Majorie Jatining Surya
Bermula dari kepedulian keluarga, Majorie sukses merestorasi Sendang Putri di Bantul yang nyaris rusak. Langkah ini tidak hanya memulihkan sumber air bersih, tetapi juga merekatkan solidaritas warga untuk menjaga kelestarian lingkungan.
2. Timor Moringa (Nusa Tenggara Timur) – Meybi Agnesya Lomanledo
Mengangkat kelor sebagai tanaman emas NTT. Meybi memberdayakan petani lokal dan kelompok perempuan untuk mengolah kelor bernilai ekonomi tinggi demi kemandirian pangan keluarga.
3. Taman Baca Ersalrif (DKI Jakarta) – Erna Listiani & Salwa
Dimulai dari obrolan ibu dan anak, klub buku bersahaja ini bertransformasi menjadi simpul literasi warga yang inklusif, menggerakkan ribuan koleksi buku dan relawan lintas generasi.
Kategori Guru
1. SEMAI (Sulawesi Selatan) – Ridwan (SMAN 13 Wajo)
Mendobrak cara belajar konvensional dengan menyulap limbah pertanian menjadi pupuk organik dan sarana edukasi kewirausahaan kontekstual bagi anak-anak petani.
2. Kelas Kreatif Berbasis Alam Papua (Papua Pegunungan) – Refol Malimpu
Menjadikan kebun sekolah sebagai laboratorium hidup. Siswa diajak mengawinkan ilmu pertanian lokal, ekologi, dan kecakapan hidup demi masa depan tanah Papua.
3. Rumah Karya Ilmiah Sanggau (Kalimantan Barat) – Wiwin Asriningrum
Melalui metode Dengarkan, Hargai, dan Aktualisasikan (DHA), Wiwin menuntun anak-anak daerah terluar melahirkan riset-riset ilmiah aplikatif yang memenangi penghargaan nasional hingga dunia.
Kategori Orang Muda
1. Buta Digital (Jawa Timur) – Moch Yugo Dwi Satriyo & Jamilah
Meretas sekat digital bagi kelompok disabilitas netra dengan pelatihan teknologi asistif agar mereka berdaya, mandiri, dan setara dalam dunia kerja masa kini.
2. InvesKids (Jawa Tengah) – Calvin Jonathan Santoso & Sanitera Chrisfelice
Mengemas edukasi literasi finansial menjadi permainan menyenangkan bagi anak usia dini di puluhan sekolah untuk memutus rantai perilaku konsumtif sejak bangku dasar.
3. Welas: Seia Sekata Dalam Rasa (Jawa Tengah) – Affan Nararya Alghifari & Zahra
Menciptakan ruang pemulihan trauma (safe space) bagi anak muda korban kekerasan dan perundungan lewat terapi seni membatik yang merawat rasa percaya diri.
Kategori Komunitas
1. Yo'ra Hero (Nusa Tenggara Barat) – Nelda Hannia
Merajut kembali benang tradisi masyarakat adat Bayan melalui budidaya tanaman pangan lokal sekaligus memperkuat benteng ketahanan pangan berbasis kearifan leluhur.
2. Fantasi Tuli (DKI Jakarta) – Hasna Mufidah
Mendobrak stigma lewat bahasa gerak dan seni tari. Wadah ini membuka jalan bagi teman Tuli untuk berekspresi sekaligus mengedukasi publik luas tentang keindahan bahasa isyarat.
3. Ngawi Tekno (Jawa Timur) – Fris Frins Pionirissian
Membawa mimpi sains ke pelosok desa. Sejak 2018, Fris merakit ruang belajar robotika dari barang bekas demi memastikan anak-anak daerah tak tertinggal oleh kemajuan zaman.
Bukan Sekadar Trofi, Melainkan Titik Awal Kolaborasi
Ashoka Indonesia menegaskan bahwa penganugerahan ini bukan garis akhir, melainkan gerbang pembuka bagi jejaring aksi yang lebih masif. Para inovator akar rumput tidak bisa dibiarkan bertarung sendirian menghadapi kompleksitas masalah zaman.
"Para pembaru ini butuh ekosistem pendukung. GBIC hadir untuk menjembatani inovator lokal dengan pemerintah, filantropi, akademisi, hingga sektor swasta agar inovasi yang terbukti berdampak di pelosok desa dapat direplikasi dalam skala nasional," ucap Nani.
Di tengah rentetan kabar muram tentang kerusakan bumi dan keputusasaan sosial, 12 inisiatif ini menjadi cerminan optimisme bangsa.
Mereka adalah bukti nyata bahwa masa depan Indonesia yang lestari, inklusif, dan berkeadilan sedang ditenun hari ini, langkah demi langkah, tangan demi tangan.