Nilai Bambu, Pisang dan Kelapa Bagi Masyarakat Kolonis Jawa Di Landbouw Kolonisasi Metro

Metro | Suara.com

Jum'at, 09 Desember 2022 | 13:14 WIB
Nilai Bambu, Pisang dan Kelapa  Bagi Masyarakat Kolonis Jawa Di Landbouw Kolonisasi Metro
Anak-anak berfoto disalah satu bedeng di Kolonisasi Metro (KITLV)

Nilai tanaman Bambu, Pisang dan Kelapa  bagi masyarakat Jawa akan dibahas tentang program Landbouw-Kolonisatie dan hubungannya dengan tradisi budidaya tanaman. 3 tanaman ini sendiri adalah pisang, bambu, dan kelapa. Mengapa 3 tanaman ini sangat penting bagi masyarakat Jawa?, karena terkait dengan manfaat dari 3 tanaman tersebut.Ketiga tanaman ini  hampir selalu ada dalam aktivitas sehari-hari masyarakat Jawa di Provinsi Lampung.

Desain pemukiman cukup seragam di  Metro termasuk desain  tanaman Bambu, Pisang dan Kelapa  yang selalu tersedia di halaman belakang mereka. Oleh karena itu dapat menjadi bukti nilai dari ketiga tanaman ini sangat penting bagi masyarakat Jawa. Sepertinya mereka mendapat nilai-nilai dari nenek moyang mereka di pulau Jawa. Di hampir semua ritual adat Jawa, tanaman ini juga selalu ada. Masyarakat Jawa merupakan suku bangsa yang hidup dengan menggunakan filsafat dalam kehidupan sehari-hari.

Tulisan  ini adalah hasil dari studi literatur dan berdasarkan pengamatan, diskusi, dan bercerita dari generasi pertama dan kedua di lokasi. 

Tentang Landbouw-Kolonisatie dan Tradisinya

Landbouw-kolonisatie adalah pemukiman kembali. Ini merujuk pada migrasi orang dari pulau Jawa ke pulau lain. Program tersebut untuk mengurangi kepadatan penduduk di Pulau Jawa. Sekaligus juga meningkatkan produksi tanaman pangan. Program ini erat kaitannya dengan pembukaan kawasan pertanian baru, sehingga disebut Landbouw-Kolonisatie. 

Sebelum melaksanakan proyek tersebut, selain Lampung, ada beberapa provinsi yang menjadi kandidat. Sawah Lunto di Sumatera Barat, Kepahiang di Bengkulu, dan beberapa lokasi di Kalimantan dan Sulawesi. Lampung merupakan pilihan terbaik saat itu, karena Lampung memiliki kepadatan penduduk paling rendah di antara calon lokasi lainnya.

Migrasi dari Jawa ke Lampung di pulau Sumatera memiliki beberapa alasan. Pertama, distribusi penduduk. Pulau Jawa memiliki populasi yang lebih padat. Sedangkan Lampung masih “kosong”. Kedua, adalah kesejahteraan. Sebagian besar masyarakat Jawa adalah petani kecil dengan lahan yang terbatas. Dan banyak dari mereka juga hanya menjadi pekerja bagi petani yang lebih kaya. Ketiga, alasan ekonomi. Sumatera adalah hutan hujan dataran rendah dengan beberapa sungai besar dan memiliki tanah yang subur. Lahan yang menjanjikan untuk ditanami banyak tanaman. Keempat, Lampung memiliki kepadatan penduduk yang rendah dan masyarakat Lampung bersifat welcome terhadap penjajah (masyarakat yang tergabung dalam program kolonisatie).

Orang Jawa Datang Dalam Beberapa Gelombang

Dua gelombang pertama proyek kolonisatie diselesaikan pada tahun 1905 dan 1921. Pertama, pada tahun 1905, 155 orang dari Bagelen-Kedu Jawa Tengah tiba di Gedong Tataan-Pasawaran. Kedua, angkatan berikutnya dilaksanakan pada tahun 1921. Rombongan keluarga Jawa selanjutnya berlokasi di Wonosobo – Tangamus. Kedua batch ini menggunakan sistem anak perusahaan. Setiap keluarga yang bergabung, akan mendapatkan makanan dan logistik lainnya sambil mempersiapkan lahan untuk memproduksi kebutuhan mereka sendiri.

Gelombang ketiga dimulai pada tahun 1932. Proyek ini dilakukan setelah ada kesepakatan antara pemerintah dan dua kelompok keluarga (Marga Unyi dan Marga Buay Nuban). Rombongan masyarakat Jawa menuju lokasinya di Desa Gedong Dalam melalui Gunung Sugih. Mereka tinggal dekat dengan masyarakat Lampung di Gedong Dalam. Lokasi mereka sekarang bernama Jojog di Pekalongan Lampung Timur. Jojog berasal dari kata jujug atau jujugan (dalam bahasa jawa berarti tempat tujuan).

Setelah hutan bersih dan siap untuk ditanami, barulah mereka ditempatkan ke pemukiman mereka. Lokasi pemukiman sekarang disebut Rancang Purwo. Rancang Purwo adalah pemukiman pertama. Istilah ini kemudian dikenal dengan nama bedeng. Nomor bedeng masih populer hingga saat ini bagi masyarakat yang tinggal di Metro.

Angkatan Keempat

Gelombang keempat dilakukan pada tahun 1935 hingga 1941, ribuan orang Jawa secara bertahap tiba di Metro. Tempat persembunyian mereka merupakan hutan dataran rendah yang terbentang di antara 2 sungai besar (Way Sekampung dan Way Seputih). Di antara dua sungai besar ini terdapat 3 sungai kecil, Way Raman, Way Batanghari, dan Way Bunut. Hutan datar yang sangat luas ini merupakan cikal bakal kawasan yang kemudian populer dengan sebutan Metro.

Gelombang keempat ini adalah proyek yang paling sukses. Proyek Kolonisasi menjadi menarik bagi masyarakat Jawa lainnya untuk bergabung. Batch selanjutnya poplar karena menggunakan sistem Bawon. Bawon adalah istilah untuk gaji kerja setelah orang membantu proses panen padi dari penduduk yang datang lebih awal. Bawon biasanya 1/5 sampai 1/7 bagian dari hasil kerja mereka. Beberapa pencapaian terbesar dari batch ini adalah: sekitar 18 kilometer jalan antara Tegineneng dan Metro, bendungan Argoguruh, dan sistem irigasi yang mendistribusikan air dari sungai Way Sekampung ke lokasi budidaya baru.

Tradisi Menarik

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Pemanfaatan Pekarangan di Kawasan Landbouw Kolonisasi  Metro

Pemanfaatan Pekarangan di Kawasan Landbouw Kolonisasi Metro

| Jum'at, 09 Desember 2022 | 00:03 WIB

Terkini

Kawal Kasus di UI, Menteri Brian Tegaskan Tak Ada Toleransi bagi Pelaku Pelecehan Seksual

Kawal Kasus di UI, Menteri Brian Tegaskan Tak Ada Toleransi bagi Pelaku Pelecehan Seksual

News | Jum'at, 17 April 2026 | 13:25 WIB

Tangis Pecah di RS Bhayangkara! 8 Kantong Jenazah Korban Helikopter PK-CFX Datang Bersamaan

Tangis Pecah di RS Bhayangkara! 8 Kantong Jenazah Korban Helikopter PK-CFX Datang Bersamaan

Kalbar | Jum'at, 17 April 2026 | 13:24 WIB

Pilu Pelajar di Medan Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai Lewat Pipa Air demi Bisa Sekolah

Pilu Pelajar di Medan Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai Lewat Pipa Air demi Bisa Sekolah

Sumut | Jum'at, 17 April 2026 | 13:24 WIB

Menemukan Rasa Tenang dan Kedamaian saat Berziarah ke Makam Sunan Kudus

Menemukan Rasa Tenang dan Kedamaian saat Berziarah ke Makam Sunan Kudus

Your Say | Jum'at, 17 April 2026 | 13:21 WIB

41 Kode Redeem FC Mobile Aktif 17 April 2026, Klaim Hadiah OVR Tinggi dan Kompensasi Bug

41 Kode Redeem FC Mobile Aktif 17 April 2026, Klaim Hadiah OVR Tinggi dan Kompensasi Bug

Tekno | Jum'at, 17 April 2026 | 13:17 WIB

Krisis Pemain Jelang Derbi Suramadu, Persebaya Surabaya Siapkan Kejutan Taktik

Krisis Pemain Jelang Derbi Suramadu, Persebaya Surabaya Siapkan Kejutan Taktik

Bola | Jum'at, 17 April 2026 | 13:17 WIB

Kisi-kisi Negosiasi AS - Iran di Pakistan Putaran Kedua

Kisi-kisi Negosiasi AS - Iran di Pakistan Putaran Kedua

News | Jum'at, 17 April 2026 | 13:17 WIB

Kaos Band, Inklusivitas Kota, dan Ruang Aman Justifikasi Polisi Skena

Kaos Band, Inklusivitas Kota, dan Ruang Aman Justifikasi Polisi Skena

Your Say | Jum'at, 17 April 2026 | 13:15 WIB

Vespa 946 Horse Edisi Terbatas Masuk Indonesia, Harga Tembus Rp 288 Juta

Vespa 946 Horse Edisi Terbatas Masuk Indonesia, Harga Tembus Rp 288 Juta

Otomotif | Jum'at, 17 April 2026 | 13:15 WIB

Kalah Sengketa di MA, Inikah Nama Baru Mobil Listrik Denza di Indonesia?

Kalah Sengketa di MA, Inikah Nama Baru Mobil Listrik Denza di Indonesia?

Otomotif | Jum'at, 17 April 2026 | 13:14 WIB