Saiful Jamil merasa dibuat bangkrut imbas kasus pelecehan seksual yang menimpanya tahun 2016 lalu.
Kasus ini membuat dia dipenjara selama lima tahun. Dia kemudian bebas pada 2 September 2021.
Namun kasus ini membuat mantan suami Dewi Perssik itu kehilangan pekerjaannya di televisi. Lebih lagi muncul petisi untuk memboikot Saiful Jamil di TV.
Dia mengaku seperti dibedakan sendiri dari warga negara Indonesia (WNI) lain akibat kasus tersebut.
"Saya sebenarnya begini, mau dipakai tv atau tidak, tidak masalah. Yang saya permasalahkan adalah saya seperti orang yang dibedakan sendiri. Saya seperti bukan warga Negara Indonesia, enggak diberikan haknya," ungkap Saiful Jamil dalam video yang diunggah di Rasis Infotainment.
"Kalau saya dipakai enggak dipakai TV enggak apa-apa. Tapi saya jangan difitnah, saya enggak suka," lanjut dia, dikutip dari Mamagini - jaringan Suara.com, Jumat (5/5/2023).
Dia merasa kalau kasus ini seolah sengaja untuk membuatnya bangkrut karena tidak mendapatkan pekerjaan dari TV.
"Kalau saya natural enggak dipakai di tv ya enggak apa-apa. Tapi jangan seperti sekarang, ibaratnya saya sedang dibangkrutkan, bukan bangkrut sendiri," tuturnya.
Dia pun mengklaim kalau masalah pelecehan seksual ini sudah selesai dan saling memaafkan.
"Jadi ada bedanya ya. Saya bingung, saya cuma ada masalah sama satu orang dan sudah selesai, sudah saling memaafkan," aku Saiful Jamil.
Ia juga merasa dianaktirikan dengan artis lain yang memiliki kasus serupa tapi masih diberi kesempatan tampil di televisi.
Saiful menilai kalau hal itu tidak adil, mengingat dia juga sudah membayar pajak untuk negara.
"Di sini saya minta please, jangan terlalu berlebihan. Saya merasa enggak dapat keadilan dengan kasus yang sama, dengan profesi yang sama. Kok saya seperti dianaktirikan. Artinya saya nggak dapat keadilan. Padahal tiap tahun saya bayar pajak," tutur dia.
Lebih lanjut ia meminta publik untuk tidak menghalanginya dalam menyalurkan kreativitas maupun pekerjaannya.
"Saya menuntut pekerjaan saya, tolong jangan dihalang-halangi pekerjaan saya. Itu saya hanya minta satu, jangan menghalangi kreativitas saya, jangan menghalangi pekerjaan saya. Kalau sudah nyuruh enggak boleh artinya saya dihalangi dan itu melanggar hak asasi manusia," tegasnya.