Sosok Jonathan Latumahina yang perkasa bisa bersimbah air mata, ia berterima kasih kepada semua yang tulus mengawal penyelesaian kasus ini.
Hadir sebagai sosok tegar, tegas, dan lugas terutama saat menjadi saksi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk kasus penganiayaan brutal oleh Mario Dandy Satriyo, Jonathan Latumahina terlihat menyusut air mata saat bicara di podcast Deddy Corbuzier "Close The Door" serta Denny Sumargo "CURHAT BANG".
Putra sulungnya, Cristalino David Ozora Latumahina adalah korban aksi keji yang dilakukan Mario Dandy Satriyo, anak Rafael Alun Trisambodo, seorang pejabat Direktorat Pajak Departemen Keuangan--kini sudah mantan. Anak lelaki usia 17 tahun itu koma 56 hari dan kini berjuang agar bisa pulih fisik serta mental seperti sedia kala.
Dipantau Metro Suara.com dari dua podcast ini, Jonathan Latumahina menyatakan betapa hancur hatinya melihat kondisi David saat ditemui di rumah sakit. Wajah sebelah kanan meninggalkan luka parut, telinga berdarah, gigi patah, dahi luka, akan tetapi bagian perut mulus.
Kemudian ia didatangi pihak yang menyatakan keluarga pelaku, serta didorong untuk memindahkan putranya ke rumah sakit yang lebih baik dan biaya pengobatan berapa pun akan ditanggung. Tentu saja dengan pemutihan kasus atau tidak muncul di ranah hukum.
"Awalnya saya tidak tahu siapa pelaku, sampai saya didatangi pihak-pihak yang terlatih, cara bicaranya kita tahu berbeda, tetap di ruangan meski ada pihak Kepolisian, dan saat saya tanyakan apakah tahu siapa mereka: jawabnya tidak tahu," demikian papar Jonathan Latumahina, bisa ditemukan di kedua podcast ini.
Situasi yang dihadapi saat berada di rumah sakit dan ada pihak yang berwajib akan tetapi terjadi pembiaran ia didatangi pihak-pihak "tertentu" ini membuatnya bisa menarik kesimpulan bahwa ada sosok bermain dalam kejadian penganiayaan Cristalino David Ozora Latumahina.
"Di rumah sakit tempat anak saya dirawat, saya kumpulkan semua keluarga, saudara, teman-teman. Meminta mereka ikut mengawasi saya. Agar selalu mengingatkan supaya saya tidak mengambil tindakan tidak terkontrol," lanjutnya.
Berbagai kejanggalan termasuk barang bukti penganiayaan putranya mulai ditemui. Berdasar hasil pantauan keluarga, kerabat, sampai netizen.
Mulai Jeep Wrangler Rubicon yang raib sejenak dan ganti pelat nomor, klaim asuransi David yang awalnya ditolak pihak rumah sakit karena dalam berkas laporan untuk pengajuan klausul dituliskan David yang memulai perkelahian, para pelaku main gitar di kantor polisi, sampai konferensi pers pihak Kepolisian dengan hasil berubah-ubah. Pertama dipukul bagian perut dua kali, sampai diubah pemukulan enam kali.
"Sampai kasusnya ditarik ke Polda Metro Jaya, saat itu Irjen Fadil Imran masih menjabat sebagai Kapolda. Saya percaya masih ada Polisi baik di negeri ini," tandas Jonathan Latumahina.
Selanjutnya, ia menyatakan bahwa dunia media sosial juga tidak luput memberikan atensi. Membuatnya merasa tidak sendiri, dan semuanya memiliki tujuan senada: mengawal keadilan.
"Saya tidak tahu mereka dari mana, siapa, akan tetapi memberikan perhatian begitu besar, ikut mengawal kasus David. Suatu dukungan yang tidak mungkin saya sia-siakan bagi mereka yang mendambakan keadilan di negeri ini," ungkap Jonathan Latumahina tidak kuasa menahan rasa haru.
"Dan dengan harapan kelak tidak akan ada David-David yang lain," tegasnya.
Itulah salah satu faktor pendorong yang membuatnya terus maju mengikuti persidangan penganiayaan brutal atas putra sulungnya. Dan terus fokus, sampai antara lain mesti menunda berbicara di podcast Denny Sumargo dan Deddy Corbuzier.
Dan jangan disangka, meski mendapat dukungan netizen se-Indonesia berarti Jonathan Latumahina sekeluarga sudah bebas dari gangguan yang menginginkan peradilan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
"Ada, dalam bentuk pemberitaan. Antara lain yang menyatakan kini kami bankrut, untuk makan saja keluarga kami dibantu tetangga," tandasnya, tanpa menampik mungkin saja psy-war itu dilancarkan pihak pelaku dalam rangka menghadapi persidangan.
"Akan tetapi, saya menaruh harapan besar, terlebih Hakim Alimin Ribut Sujono yang dahulu menangani kasus Ferdy Sambo," tandas Jonathan Latumahina.