Marc Klok adalah salah satu pemain dwikewarganegaraan yang sudah malang-melintang di Timnas Indonesia.
Seperti disebutkan Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Erick Thohir, untuk menjadi bangsa yang memiliki para pemain sepak bola termasuk Timnas Indonesia tangguh, semuanya perlu proses. Tidak bisa instan.
Caranya adalah memperbaiki struktur organisasi, pembinaan, pencarian bibit baru, dan tentunya mengelola sumber daya manusia yang tersedia. Itu sebabnya, di lokasi Ibu Kota Negara (IKN) juga tengah dibangun Training Centre (TC) sepak bola dengan pendanaan didukung Federasi Sepak Bola Internasional atau FIFA.
Di salah satu topik bincang-bincangnya dalam podcast Sport77 Original yang disimak Metro Suara.com di kanal YouTube, Marc Klok, pemain Timnas Indonesia Senior yang secara pro merumput bersama Persib Bandung menyuarakan hal senada.
"Proses saya menjadi pemain bola sudah dimulai sejak usia empat tahun. Ikut serta dalam klub pembinaan sampai umur delapan tahun. Mulai usia itu sudah diajarkan passing, serta menjadi sebuah keunikan tersendiri, karena saya berada di klub multi-etnis, mungkin satu-satunya anak berkulit putih sedangkan lainnya berwarna," papar pemain posisi gelandang tengah atau midfielder, yang lahir di Amsterdam, Belanda, 20 April 1993 itu.
Pengalaman usia dini bersama klub sepak bola multi-etnis itulah yang membukakan wawasannya sedari kecil, begitu banyaknya suku bangsa di dunia, namun disatukan oleh minat sama: sepak bola.
Aktivitasnya sebagai atlet si kulit bundar membawa sosok dengan galur keluarga Makassar-Belanda ini bermain pro sampai ke Skotlandia di Britania Raya.
"Saat itu uang bukan menjadi motivasi utama. Saya lahir dari keluarga berkecukupan. Bukan kaya, namun keuangan selalu didukung orangtua, sehingga saya main bola murni karena keinginan," kenang pemilik banderol Rp 7,82 miliar yang pernah mencetak hits harga pasar di angka Rp 8,26 miliar pada Juni 2021.
![Marc Klok wefie bersama Coach Shin Tae-yong, Pratama Arhan, dan interpreter Jeje Jeong Seok-seo [[Instagram].]](https://media.suara.com/suara-partners/metro/thumbs/1200x675/2023/10/10/1-jeje-wefie-bersama-marc-klok-coach-shin-dan-pratama-arhan.jpg)
Dalam perjalanan berkarier itulah, seorang Marc Klok bertransformasi dari posisi penyerang menjadi gelandang.
"Seorang pelatih memanggil saya, dan menyatakan saya memiliki bakat nomor 6. Dicoba dan sejak itu mantap berada di nomor 6," tandas Marc Klok yang menyandang status Warga Negara Indonesia (WNI) per November 2020.
Menurut Marc Klok, kesempatan bermain sepak bola sejak dini, dengan diikutkan ke klub itu membuat dirinya bertumbuh menjadi pemain seperti sekarang. Lengkap dengan disiplin dan determinasi. Solid sebagai individu sekaligus insan sepak bola.
"Saya melihat, di Indonesia pemain sepak bola dilatih mulai usia antara 14 tahun atau 15 tahun, bila dibandingkan pengalaman saya, disayangkan bahwa mereka tidak lebih dini belajar main bola," ungkapnya.
Ditambahkannya, betapa sepak bola menjadi permainan yang disukai anak-anak. Ia sendiri mencontohkan, di tempat tinggalnya di Negeri Belanda, tanah atau luasan jalan sebidang kecil sudah bisa disulap menjadi tempat bermain bola yang seru.
Meski pun akan lebih mantap sekaligus tidak mengganggu situasi jalan bila dilakukan di ruang terbuka yang lebih aman.
Kembali kepada ujaran Ketua Umum PSSI Erick Thohir bahwa sepak bola Indonesia tengah berproses, semoga kelak negeri kita bisa membuka pintu bakat serta hobi sejak dini. Seperti pengalaman Marc Klok, sehingga keandalan pemain bisa dipantau sedari kecil, dengan pengembangan lebih maksimal karena cukup waktu pembinaan dan perkembangan.