Agustus 1945 ialah masa paling kelam dalam perjalanan sejarah umat manusia. Ribuan orang merenggang nyawa di Jepang setelah Amerika Serikat dan pihak Sekutu menjatuhkan dua bom atom di dua kota berbeda, Hirosima dan Nagasaki.
Jatuhnya bom atom di Hirosima dan Nagasaki juga berdampak pada perjuangan kemerdekaan Indonesia. Setelah dua kota itu luluh lantak, Jepang putuskan menyerah kepada Sekutu.
Selang 8 hari setelah kota Nagasaki dijatuhkan bom atom, Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Nagasaki jadi kota kedua yang di bom atom Sekutu beberapa hari setelah Hirosima dijatuhi bom atom dari pesawat B-29 Enola Gay dari 393d Bombardment Squadron.
Dikutip dari dokumen cia.gov, pukul 11:01 waktu Jepang tanggal 09 Agustus 1945, Kapten Kermit Beahan melepaskan Fat Man yang mengandung inti plutonium berbobot 64 kg (141 lb) dijatuhkan di lembah industri Nagasaki di 32,77372°LU 129,86325°BT.
Bom meledak 47 detik kemudian di ketinggian 1.650 ± 33 ft (503 ± 10 m) di atas lapangan tenis.
Kekinian fakta baru terungkap, Nagasaki ternyata bukan kota yang disepakati Sekutu untuk di bom atom setelah Hirosima.
Dikutip dari catatan sejarah bbc.uk, kota Kokura ialah target sebenarnya, pasalnya kota tersebut ialah salah satu gudang senjata Jepang.
Bom Fat Man kabarnya melenceng sejauh 2 mil dari target. Jarak antara Nagasaki dengan Kokura memang cukup dekat.
Baca Juga: Pelatih Asal Jepang Sebut Indonesia Sulit Tembus Peringkat 100 Dunia, Singgung Kebiasaan Pemain
Sekarang dua kota tersebut sudah aman dari radiasi nuklir, meski masih menyisakan trauma berkepanjangan. Aktifitas pun kembali bergeliat di Nagasaki serta Hirosima termasuk pembangunan infrastruktur, penopang sendi kehidupan masyarakatnya.
Jepang yang kalah dari Perang Duni II memang membangun negaranya dengan sangat sempurna, hampir di segala bidang pembangunan dilakukan dengan cara-cara yang profesional, pun di bidang sepak bola.
Sepak Bola di Kota Nagasaki
Sebagai salah satu kekuatan sepak bola di Asia, Jepang membangun klub dan liga mereka dengan sangat tertata.
Tak semua provinsi atau prefektur di Jepang bisa dengan mudah memiliki klub sepa kbola dengan standar profesional meski wilayah itu memiliki citra tersendiri.
Contohnya bisa kita lihat di wilayah Suzuka, kota yang jadi bagian dari prefektur Mie ini belum memiliki memiliki klub profesional, padahal Suzuka memiliki sirkuit mobil Formula 1.