Gempa Nepal, Produksi Apel di India Terancam

Pebriansyah Ariefana

Senin, 27 April 2015 | 11:17 WIB
Gempa Nepal, Produksi Apel di India Terancam
Proses evakuasi gempa Nepal. (Reuter)

Suara.com - Dampak gempa dahsyat di Nepal, Sabtu (25/4/2015) siang tidak berhenti pada makin bertambahnya jumlah korban jiwa. Namun salah satu kota di utara India terancam terjadi kemiskinan.

Kota itu adalah Himachal Pradesh, kota terbesar penghasil apel terbesar. India terancam kekurangan pasokan apel. Wilayah dekat Himalaya yang merupakan daratan subur.

Sebanyak 165 ribu warga Himachal Pradesh tergantung pada sektor pertanian. Sementara ada 500 ribu warga Nepal yang bekerja di sana. Karena gempa, mereka tidak bisa bekerja dan produksi apel terhenti.

Himachal Pradesh memang tergantung pada tenaga kerja asal Nepal. Mereka bertugas melakukan kerja kasar seperti memetik dan mengangkut apel dari kebun. Bisa dibayangkan jika tidak ada yang bekerja, kota-kota besar di sekitar India tidak bisa melihat apel lagi. Sebab 85 persen kawasan India bergantung pada pasokan apel asal Himachal Pradesh.

Bercerita soal Himachal Pradesh, pertanian apelnya terus meningkat sejak dibuka pada tahun 1950-an. Saat itu area perkebunan masih 400 hektar. Lalu di kurun waktu 1960 naik jadi 3.025 hektar. Sampai saat ini tercatat ada 1 juta hektar lahan apel. Dengan perkebunan apel itu, warga Himachal Pradesh bisa terlepas dari kemiskinan.

"Seperti anggota keluarga kita sendiri, kita menunggu kedatangan mereka setiap musim panas. Kali ini kami takut keterlibatan mereka dalam pekerjaan rekonstruksi di Nepal akan mengakibatkan krisis tenaga kerja di Himachal," kata seorang petani di Kullu. Naveen Tanwar.

Di Himachal Pradesh, terdapat banyak desa. Semua memproduksi apel. Salah satunya Shimla Ashutosh Chauhan. Perani apel dari Shimla Ashutosh Chauhan, Ratnari mengatakan kebanyakan warga Nepal bergantung pada pertanian apel. Terutama merka yang tinggal di perbukitan curam. Akses di sana juga berat, ditambah udara dingin menusuk.

"Di sini, sebagian besar petani tidak bekerja dan sangat bergantung pada Nepal dari memetik apel," kata dia.

Orang Nepal yang bekerja di Himachal Pradesh mendapatkan upah besar 500 rupee perhari. Dalam satu musim atau sekira 2,5 bulan, mereka mendapatkan uang sampai 50.000 rupee. Itu sangat cukup untuk hidup di Nepal dan bisa menyekolahkan anak-anak mereka.

"Tidak hanya tanaman apel, tetapi juga kacang hijau dan kentang di Kabupaten Lahaul," kata Surinder Thakur warga setempat.

Mereka berharap rekonsiliasi gempa Nepal cepat dilakukan. Sebab roda perekonomian India dan kawasan yang berhimpitan dengan Nepal terancam berhenti. (timesofindia)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Korban Tewas Gempa Nepal Kini Menjadi 2.500 Orang

Korban Tewas Gempa Nepal Kini Menjadi 2.500 Orang

News | Senin, 27 April 2015 | 06:54 WIB

Sebagai Sesama Negara Rawan Bencana, RI Kirim Bantuan ke Nepal

Sebagai Sesama Negara Rawan Bencana, RI Kirim Bantuan ke Nepal

News | Minggu, 26 April 2015 | 21:04 WIB

Jokowi:  Kita Siapkan Bantuan ke Nepal, Jangan Tergesa-gesa

Jokowi: Kita Siapkan Bantuan ke Nepal, Jangan Tergesa-gesa

News | Minggu, 26 April 2015 | 16:06 WIB

Terkini

Pramono Tegaskan Ancol dan Ragunan Tak Bisa Gratis untuk Semua: Biaya Perawatan Besar!

Pramono Tegaskan Ancol dan Ragunan Tak Bisa Gratis untuk Semua: Biaya Perawatan Besar!

News | Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:03 WIB

Pramono Minta Demo BEM UI di Bundaran HI Tak Anarkis: Happy-Happy Saja

Pramono Minta Demo BEM UI di Bundaran HI Tak Anarkis: Happy-Happy Saja

News | Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:57 WIB

Konsumsi Gas Alam Diprediksi Meroket 30 Persen, Apa Dampaknya?

Konsumsi Gas Alam Diprediksi Meroket 30 Persen, Apa Dampaknya?

Bisnis | Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:53 WIB

Kebakaran Landa Permukiman Padat di Menteng Jakpus, 16 Mobil Damkar Dikerahkan

Kebakaran Landa Permukiman Padat di Menteng Jakpus, 16 Mobil Damkar Dikerahkan

News | Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:51 WIB

Viral Audio 'Bare Minimum' dan Manga Veil: Benarkah Ekspektasi Hubungan Gen Z Ketinggian?

Viral Audio 'Bare Minimum' dan Manga Veil: Benarkah Ekspektasi Hubungan Gen Z Ketinggian?

Your Say | Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:45 WIB

Soroti Pernyataan Luhut Soal Kerugian Negara, Pakar: Penjelasan Kurang Lengkap Picu Reaksi Negatif

Soroti Pernyataan Luhut Soal Kerugian Negara, Pakar: Penjelasan Kurang Lengkap Picu Reaksi Negatif

News | Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:44 WIB

PHK Massal 8.000 Karyawan, Perusahaan Ini Beri Pesangon Rp13 Miliar

PHK Massal 8.000 Karyawan, Perusahaan Ini Beri Pesangon Rp13 Miliar

Bisnis | Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:38 WIB

Pertamina Patra Niaga Olah Minyak Jelantah Jadi Bioavtur, Perkuat Energi Berkelanjutan

Pertamina Patra Niaga Olah Minyak Jelantah Jadi Bioavtur, Perkuat Energi Berkelanjutan

Bisnis | Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:25 WIB

Laba Per Saham Naik, Emiten RATU Layak Dilirik?

Laba Per Saham Naik, Emiten RATU Layak Dilirik?

Bisnis | Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:19 WIB

Penyebab Utama Mobil Listrik China Jauh Lebih Murah Ketimbang Buatan Eropa

Penyebab Utama Mobil Listrik China Jauh Lebih Murah Ketimbang Buatan Eropa

Otomotif | Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:10 WIB

×