Mbah Jumpono, Pedagang Iwak Kali Yogya yang Sudah Langka

Siswanto

Minggu, 13 September 2015 | 14:33 WIB
Mbah Jumpono, Pedagang Iwak Kali Yogya yang Sudah Langka
Mbah Jumpono jual ikan sungai segar di kawasan Santren Gejayan Sleman, Yogya, Minggu (13/9/2015) [suara.com/Wita Ayodhyaputri]

Suara.com - Lelaki paruh baya yang akrab disapa Mbah Jumpono masih giat mengais rezeki, meski usianya tak muda lagi, 75 tahun. Mbah Jumpono sehari-hari berjualan ikan sungai atau yang biasa disebut iwak kali.

Mbah Jumpono menjual ikan di kawasan Santren, Gejayan, Sleman. Ciri khasnya, dia selalu membawa pecak dan kepis, dua alat tangkap ikan tradisional.

Untuk mencapai Santren, setiap hari, warga Nglaren Potorono, Bantul, Yogya itu, naik bus.

Ketika ditemui setelah turun dari bus kota, kepis Mbah Jumpono terlihat penuh ikan berukuran kecil.

"Niki namung angsal wader, kutuk, cedhul kalih urang (ini hanya dapat ikan wader, kutuk, cethul dan udang saja). Sekarang mendapat ikan sulit sekali," kata Mbah Jumpono.

Setelah turun dari bus dan beristirahat sejenak dia memisahkan ikan - ikan. Kemudian, dia menaruhnya di atas meja lipat yang memang sengaja dibawa dari rumah.

"Kalau yang agak besar ini harga satunya Rp15 Ribu, kalau yang ikan kecil-kecil sama urang ini harganya Rp5.000," kata Mbah Jumpono.

Mbah Jumpono menjelaskan takarannya bukan berdasarkan berat seperti lazimnya di pasar - pasar.

"Takaran saya pokoknya hanya kepis ini, jika penuh ya sudah segitu itu," ujar Mbah Jumpono.

Mbah Jumpono mengungkapkan sudah menjadi pencari ikan sungai sejak tahun 1940-an. Pada waktu itu itu, ukuran sungai - di Yogyakarta masih lebar dan airnya bersih.

"Dulu ikannya masih besar-besar, sekarang ikannya sudah habis, sudah susah di carinya," kata Mbah Jumpono.

Sekarang, kata dia, sungai-sungai di Yogya sudah menyempit, sudah begitu airnya kotor.

Berbagai sungai di wilayah DIY telah dijelajahi Mbah Jumpono. Namun, karena usia sekarang tak lagi muda, dia memilih mencari ikan di sungai yang tak begitu jauh dari rumah.

Ikan yang dijual hari itu, dia jaring dari sungai kawasan Pugeran, Sleman.

"Dapatnya di daerah Pugeran sana, terus langsung saya bawa kesini dan dijual, kulo mboten nate dodolan iwak bosok (saya tidak pernah jualan ikan busuk)," ujarnya.

Mbah Jumpono setiap hari jualan kawasan Santren dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB. Biasanya sebelum pukul 13.00 WIB, seluruh ikan sudah habis terjual.

Pembelinya umumnya orang-orang yang lewat di Santren. Kawasan Santren merupakan jalan alternatif menuju kawasan selokan Mataram.

"Biasanya di bus nanti juga masih ada yang mau beli jadi ya alhamdulillah pasti habis," ujar Mbah Jumpono.

Yosi, salah seorang mahasiswi UGM yang kebetulan melintas dan membeli ikan dari Mbah Jumpono mengaku jaman sekarang sudah susah memberli ikan sungai segar.

Oleh sebab itu, dia menyempatkan berhenti dan membeli ikan segar yang ditawarkan kakek lima anak tersebut.

"Saya sering lewat sini karena kebetulan kos saya di Seturan, nah pas lewat sini kebetulan pengen sekali makan ikan sungai ya beli saja. Rencananya nanti mau saya goreng kering dan dimakan pakai nasi hangat pasti enak sekali," kata Yosi. (Wita Ayodhyaputri)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Terkini

MotoGP Mandalika 2026 Target Rp5 Triliun, Intip Kesiapan Sirkuit dan Teknologi di Baliknya

MotoGP Mandalika 2026 Target Rp5 Triliun, Intip Kesiapan Sirkuit dan Teknologi di Baliknya

Otomotif | Minggu, 13 September 2026 | 12:02 WIB

Holding UMi 5 Tahun, dari Akses Menuju Kesejahteraan

Holding UMi 5 Tahun, dari Akses Menuju Kesejahteraan

Malang | Minggu, 13 September 2026 | 12:01 WIB

Pencarian 5 Jurnalis Masih Berlanjut, Tim SAR Gabungan Menyisir Lewat Laut, Darat, dan Udara

Pencarian 5 Jurnalis Masih Berlanjut, Tim SAR Gabungan Menyisir Lewat Laut, Darat, dan Udara

News | Minggu, 13 September 2026 | 11:57 WIB

Sinyal Darurat di Laut Jawa: Tim SAR Sisir Titik Koordinat Terakhir Kapal Virgo Transport 8

Sinyal Darurat di Laut Jawa: Tim SAR Sisir Titik Koordinat Terakhir Kapal Virgo Transport 8

News | Minggu, 13 September 2026 | 11:56 WIB

Lima Tahun Integrasi BRI, Pegadaian, dan PNM, UMKM Naik Kelas

Lima Tahun Integrasi BRI, Pegadaian, dan PNM, UMKM Naik Kelas

Lampung | Minggu, 13 September 2026 | 11:56 WIB

Cara PHE NSO Kembalikan Jalan Pulang Gajah Lewat Restorasi Lahan Kritis

Cara PHE NSO Kembalikan Jalan Pulang Gajah Lewat Restorasi Lahan Kritis

Riau | Minggu, 13 September 2026 | 11:55 WIB

5 Tahun Holding Ultra Mikro, Ekosistem UMKM Makin Kuat

5 Tahun Holding Ultra Mikro, Ekosistem UMKM Makin Kuat

Bekaci | Minggu, 13 September 2026 | 11:53 WIB

Gubsu Bobby Nasution Minta Publik Hentikan Komentar Negatif terhadap Korban MBG di Karo

Gubsu Bobby Nasution Minta Publik Hentikan Komentar Negatif terhadap Korban MBG di Karo

News | Minggu, 13 September 2026 | 11:53 WIB

Lima Tahun Holding Ultra Mikro, UMKM Makin Naik Kelas

Lima Tahun Holding Ultra Mikro, UMKM Makin Naik Kelas

Bogor | Minggu, 13 September 2026 | 11:50 WIB

Pepatah Lama Kini Dibantah Gen Z, Benarkah Nasihatnya Tak Lagi Relevan?

Pepatah Lama Kini Dibantah Gen Z, Benarkah Nasihatnya Tak Lagi Relevan?

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 11:50 WIB

×