Penyebab Banyak Petahana Menang di Pemilukada Serentak

Pebriansyah Ariefana

Rabu, 16 Desember 2015 | 03:01 WIB
Penyebab Banyak Petahana Menang di Pemilukada Serentak
Logistik pemilu kepala daerah (Pilkada) saat pendistribusian dari KPU Denpasar, Sabtu (5/12). (Antara)

Suara.com - Pengamat Politik menilai undang-undang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota lemah. Ini juga yang menyebabkan banyak petahana yang menang di pemilihan umum kepala daerah serentak 9 Desember lalu.

Ada hal-hal yang dinilai menguntungkan calon petahana yang maju pada Pilkada serentak tahun ini. Salah satunya adalah tidak diwajibkannya calon kepala daerah yang maju di daerah itu untuk mengundurkan diri dari jabatannya.

"Pada Pasal 7 UU tersebut, mereka yang wajib mengundurkan diri jika maju sebagai calon kepala daerah di daerah lain," kata Pengamat politik dan dosen FISIP Untad Darwis di Palu, Selasa (16/12/2015).

Kemenangan yang diraih petahana di sejumlah daerah, salah satunya akibat lemahnya undang-undang tersebut.

"Kita berharap, pada Pilkada selanjutnya, undang-undang ini direvisi, karena di situlah peran incumbent/petahana untuk mendapatkan peluang politik yang cukup baik," katanya.

Seharusnya, lanjut dia, bukan hanya pejabat PNS, pegawai BUMN/BUMD, TNI/Polri dan legislator yang diharuskan mengundurkan diri manakala sudah menjadi calon kepala daerah, melainkan kepala daerah yang ada saat itu, juga mesti mengundurkan diri.

"Sehingga demokrasi kita benar-benar berkualitas, artinya ada pertarungan yang bersih. Tidak seperti ini. incumbent terlalu mendapatkan peluang," tekannya.

Artinya, kata dia, incumbent yang mencalonkan diri masih bias berkedok dari program-program pemerintah yang dibawanya, sehingga mempermudah sosialisasi di tengah masyarakat, dan pastinya bertambah dikenal.

"Kalau begini terus, incumbent pasti terus diuntungkan, apalagi sekarang bisa dilihat dari naiknya dana bansos dan lainnya. Itulah yang sulit sekali kita deteksi, jadi kemenangan incumbent karena kelemahan undang-undang ini," katanya.

Padahal secara logika kata dia, incumbent sudah terlebih dahulu melakukan sosialisasi selama lima tahun menjabat melalui tugas pokoknya sebagai kepala daerah.

"Jadi kalau menang berangkat dari nol, maka pertarungan makin bagus dan berkualitas," tambahnya.

Dosen Sistem Kepartaian Indonesia itu juga menyinggung menurunnya tingkat partisipasi masyarakat dalam menyuarakan hak pilihnya. Menurut dia, hal itu lebih pada persoalan individu figur.

Selain itu kata dia, juga adanya kejenuhan masyarakat, karena yang selalu tampil adalah figure yang sama, tidak ada sirkulasi poitik yang melahirkan seorang pemimpin yang betul-betul ingin berjuang dan memiliki sifat negarawan.

Oleh karena itu, partai dan elit politik kita perlu mengintropeksi diri bahwa sebaiknya perlu membangun etika politik yang semakin bagus, ini juga berkaitan dengan sistem pengkaderan di tingkat partai.

"Saya kira kaderisasi sangat penting, namun etika politiklah yang paling penting. Elit politik yang bercokol di partai harus merekonstruksi kembali etika politik itu mencari figur yang memang layak dijual dan bermoral, menjunjung tinggi etika politik tanpa melihat ada uang atau tidak. Partai harus legowo mencari figur yang mengakar tanpa melihat adanya mahar, katanya.

Sistem mahar itulah kata dia yang menggerus kualitas demokrasi. Ada orang yang memiliki ketokohan tapi tidak miliki uang, maka tidak dipilih.

Selanjutnya, bagaimana melahirkan sistem desentralisasi politik, tidak mesti DPP partai di tingkat pusat yang menentukan calon siapa saja yang diusung. Karena yang ada saat ini siapa yang bermitra menjadi kewenangan DPP untuk menentukan, hanya karena persoalan mahar politik itu.

"Ini juga yang membuat masyakat kecewa dan menurunkan partisipasi itu, juga membuat konflik internal partai di tingkat bawah," katanya.

Intinya kata dia, kurangnya partsipasi adalah sebuah sikap politik masyarakat itu sendiri.

"Dan kita tidak bisa menyalahkan masyarakat, justru ini menjadi instrospeksi pemerintah, elit politik kita harus betul-betul menggerus politik pragmatis yang notabene melahirkan politik transaksional dan melahirkan pemimpin yang tidak amanah," imbuhnya. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Hanya 67,80 Persen Warga Jambi yang Mencoblos di Pemilukada

Hanya 67,80 Persen Warga Jambi yang Mencoblos di Pemilukada

News | Senin, 14 Desember 2015 | 01:01 WIB

Masih Banyak Golput, Ini Pembelaan KPUD Tangsel

Masih Banyak Golput, Ini Pembelaan KPUD Tangsel

News | Kamis, 10 Desember 2015 | 17:20 WIB

Di TPS-nya, Airin Kalah Suara dengan Pemilih Golput

Di TPS-nya, Airin Kalah Suara dengan Pemilih Golput

News | Rabu, 09 Desember 2015 | 15:18 WIB

Ini Pesan Nur Mahmudi Kepada Wali Kota Depok Baru

Ini Pesan Nur Mahmudi Kepada Wali Kota Depok Baru

News | Rabu, 09 Desember 2015 | 14:26 WIB

Kapolda Klaim Fak Fak, Papua Aman Meski Pemilukada Ditunda

Kapolda Klaim Fak Fak, Papua Aman Meski Pemilukada Ditunda

News | Rabu, 09 Desember 2015 | 13:08 WIB

DKPP Keliling TPS Depok Pantau Kerja Penyelenggara Pemilu

DKPP Keliling TPS Depok Pantau Kerja Penyelenggara Pemilu

News | Rabu, 09 Desember 2015 | 12:59 WIB

Menkopolhukam Pantau 4 TPS di Kecamatan Ciputat

Menkopolhukam Pantau 4 TPS di Kecamatan Ciputat

News | Rabu, 09 Desember 2015 | 12:46 WIB

TKI Tidak Bisa Mencoblos di Pemilukada Serentak 2015

TKI Tidak Bisa Mencoblos di Pemilukada Serentak 2015

News | Selasa, 29 September 2015 | 14:15 WIB

Jelang Pilkada, Dana Hibah Pemkot Tangsel Naik Berlipat

Jelang Pilkada, Dana Hibah Pemkot Tangsel Naik Berlipat

News | Selasa, 29 September 2015 | 10:09 WIB

Terkini

Pencarian 5 Jurnalis dan 3 Awak Kapal Masih Nihil akibat Cuaca Buruk di Lapangan

Pencarian 5 Jurnalis dan 3 Awak Kapal Masih Nihil akibat Cuaca Buruk di Lapangan

Banten | Minggu, 13 September 2026 | 01:36 WIB

Garudayaksa FC Dikalahkan Persik, Milos Joksic Malu

Garudayaksa FC Dikalahkan Persik, Milos Joksic Malu

Bola | Sabtu, 12 September 2026 | 23:50 WIB

Panglima TNI Cup 2026 Jadi Ajang Adu Nyali, Eks Menpora Dito Ariotedjo Ikut Pacu Jetski

Panglima TNI Cup 2026 Jadi Ajang Adu Nyali, Eks Menpora Dito Ariotedjo Ikut Pacu Jetski

Sport | Sabtu, 12 September 2026 | 23:24 WIB

Hari Ke-5 Pencarian Jurnalis Hilang, Tim SAR Temukan Helm dan Jerigen di Perairan Anyer

Hari Ke-5 Pencarian Jurnalis Hilang, Tim SAR Temukan Helm dan Jerigen di Perairan Anyer

News | Sabtu, 12 September 2026 | 22:11 WIB

Sindiran Pelatih Persib Usai Takluk di GBK: Persija Rayakan Kemenangan Seperti Juara Liga Champions

Sindiran Pelatih Persib Usai Takluk di GBK: Persija Rayakan Kemenangan Seperti Juara Liga Champions

Jabar | Sabtu, 12 September 2026 | 21:52 WIB

Titik Terang Hilangnya Jurnalis di Krakatau, Basarnas Temukan 4 Barang di Perairan Selat Sunda

Titik Terang Hilangnya Jurnalis di Krakatau, Basarnas Temukan 4 Barang di Perairan Selat Sunda

Banten | Sabtu, 12 September 2026 | 21:39 WIB

Laba Anjlok 19 Persen, Astra Jor-joran Akuisisi Tambang Emas di Awal 2026

Laba Anjlok 19 Persen, Astra Jor-joran Akuisisi Tambang Emas di Awal 2026

Bisnis | Sabtu, 12 September 2026 | 20:53 WIB

Kisah Perjuangan Tati Purwanti, Mantan PMI yang Sukses Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei

Kisah Perjuangan Tati Purwanti, Mantan PMI yang Sukses Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei

Bekaci | Sabtu, 12 September 2026 | 20:29 WIB

Dari Cirebon ke Taipei, Tati Purwanti Bawa Kuliner Lokal dan Tumbuh Bersama BRI

Dari Cirebon ke Taipei, Tati Purwanti Bawa Kuliner Lokal dan Tumbuh Bersama BRI

Jakarta | Sabtu, 12 September 2026 | 20:27 WIB

Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei

Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei

Jawa Tengah | Sabtu, 12 September 2026 | 20:25 WIB

×