- PT Astra International Tbk (ASII) merealisasikan belanja modal sebesar Rp11,7 triliun pada semester I 2026 untuk mengakuisisi tambang emas.
- Presiden Direktur Rudy Chen menyatakan Astra mengalokasikan anggaran belanja modal tahun buku 2026 sekitar Rp36 triliun untuk sektor strategis tersebut.
- Grup Astra mencatat penurunan laba bersih sebesar 19 persen pada semester I 2026.
Suara.com - PT Astra International Tbk (ASII) menghabiskan sebagian besar modalnya di awal 2026 untuk untuk mengakuisisi tambang emas PT Arafura Surya Alam melalui anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR).
Sementara di Semester I 2026 laba Astra turun 19 persen di saat terjadi penurunan kontribusi dari bisnis pertambangan dan alat beratnya.
ASII mencatat realisasi belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp16,9 triliun sepanjang semester I-2026 dan Rp11,7 triliun di antaranya digunakan untuk mengakuisisi PT Arafura Surya Alam. Sementara Rp5,2 triliun digunakan untuk pembelian alat berat yang mendukung bisnis kontraktor pertambangan.
Presiden Direktur Astra International Rudy Chen, dalam Public Expose Live 2026 di Jakarta, pekan ini mengatakan untuk tahun buku 2026, ASII mengalokasikan anggaran capex sekitar Rp36 triliun. Mayoritas anggaran tersebut dialokasikan untuk bisnis alat berat dan kontraktor pertambangan.
“Bisa dibilang mayoritas capex yang digunakan untuk maintenance itu dialokasikan di pilar alat berat kontraktor pertambangan, sedangkan untuk investasi itu masukin sektor-sektor strategis dengan melihat kondisi yang memungkinkan dan relevan dengan kami,” jelas Rudy.
Ia menambahkan, perseroan akan menggunakan anggaran capex secara hati-hati dengan mempertimbangkan kebutuhan bisnis, peluang pertumbuhan, serta penciptaan nilai jangka panjang bagi grup.
“Seperti biasanya kami melakukan ini secara prudent, sesuai dengan kebutuhan bisnis, peluang pertumbuhan dan tentunya penciptaan nilai jangka panjang untuk grup," tambahnya.
Tiga fokus
Lebih lanjut Rudy mengungkapkan Astra berfokus pada tiga bisnis inti, yakni otomotif, jasa keuangan, serta solusi pertambangan dan alat berat.
Ke depan, perseroan merancang kerangka alokasi modal yang lebih disiplin, termasuk dalam hal pembagian dividen dan pembelian kembali saham (share buyback), serta berkomitmen melakukan transformasi melalui penyelarasan kepemimpinan.
“Jadi kami juga punya rangka alokasi modal, kriteria investasi yang cukup jelas untuk mencerminkan penggunaan modal yang lebih disiplin ke depan,” kata Rudy.
Rudy mengatakan perusahaan akan lebih berhati-hati dalam melakukan investasi. Astra tetap akan berinvestasi, namun secara lebih selektif dengan mengutamakan area yang memiliki kesesuaian strategis dengan Astra, menghasilkan imbal hasil yang baik, serta memperkuat ekosistem perusahaan.
Laba turun tajam
Adapun pendapatan bersih konsolidasian Grup Astra pada Semester I 2026 tercatat sebesar Rp157,9 triliun, turun 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Laba bersih, tidak termasuk pos non-recurring items, tercatat Rp14,9 triliun atau turun 7 persen secara tahunan.