Lemhanas: Simposium Aryaduta Tak Hanya Bahas Soal Tragedi 1965

Tomi Tresnady | Suara.com

Rabu, 01 Juni 2016 | 22:43 WIB
Lemhanas: Simposium Aryaduta Tak Hanya Bahas Soal Tragedi 1965
Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri (kacamata hitam) di acara simposium Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI dan Ideologi di Balai Kartini, Rabu (1/6/2016). [suara.com/Ummi Hadyah Saleh]

Suara.com - Gubernur Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) Agus Widjojo menyatakan generasi pasca-peristiwa 1965 yang tidak mengalami masa-masa pergolakan dan juga tidak mendapatkan referensi yang memadai untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi baik sebelum 1965 dan setelahnya.

"Akibat kurangnya referensi, generasi yang lahir pasca-1965 jarang memahami sejarah pra 1965 sampai setelahnya, dan pembukaan tabir sejarah itu juga yang menjadi pembahasan dalam simposium membedah tragedi 1965 di Hotel Aryaduta beberapa waktu lalu," kata Agus selepas acara simposium bertajuk Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (1/6/2016).

Agus menegaskan, pembukaan tabir sejarah tersebut yang ingin diungkap oleh simposium Aryaduta yang menyandang tragedi 1965 itu, dengan melakukan pembedahan sejarah mulai dari yang terjadi sebelum tahun 1965.

"Jadi anggapan bahwa simposium Aryaduta itu hanya membahas soal 1965 sepenuhnya salah, karena kami bahas juga peristiwa sebelumnya," ujar Agus yang juga ketua panitia Simposium Aryaduta tersebut.

Dalam simposium tersebut, lanjut Agus, sama-sama diketahui oleh peserta bahwa tangan PKI juga berdarah dengan melakukan pembunuhan massal dan pemberontakan pada tahun 1948 di Madiun, Jawa Timur yang berakhir dengan pernyataan menteri kehakiman pada waktu itu bahwa PKI diterima kembali dalam sistem politik Indonesia.

Menurut Agus, hal tersebut untuk memberikan citra tentang demokrasi di Indonesia tahun 1950-an dan merekatkan kembali persatuan kesatuan Indonesia dalam menghadapi agresi militer kedua Belanda.

"Ini yang kita buka dalam simposium. Namun, meskipun ada yang menyertakan pemberontakan PKI tahun 1926, kami tidak memperhitungkannya karena waktu itu kolonial masih berkuasa," tutur Agus.

Atas kejadian tersebut dan beberapa yang terjadi sebelum 1965 seperti pemaksaan ideologi dan kebijakan melalui aksi sepihak terhadap penggarap tanah pada waktu itu dan peristiwa Bandar Besi yang memakan korban dari TNI AD, menjadikan semacam trauma yang akhirnya muncul istilah "bahaya laten PKI" di kalangan AD dan berkembang ke masyarakat.

"Jadi bahaya laten PKI itu bersumber pada catatan sejarah, dan lawan utama dari PKI ini TNI, terutama Angkatan Darat. Jadi TNI lah yang merasakan bahaya laten PKI dan muncul juga trauma akan berkembangnya lagi PKI sebagai akibatnya karena secara konsisten PKI itu membawa cara-cara tindakan kekerasan dalam memperjuangkan ideologinya," ucapnya.

Kendati demikian, dia menilai rekonsiliasi yang diupayakan pemerintah dengan tujuan mencari penyelesaian masalah sejarah bangsa yang berefek pada keturunan para pelaku sejarah dalam peristiwa tersebut, harus didukung demi tercapainya masa depan bangsa yang lebih baik dan tanpa ada beban masa lalu.

"Termasuk simposium di Balai Kartini saat ini, karena pada akhirnya baik simposium Aryaduta atau simposium ini menuju pada muara yang sama yaitu masukan untuk dijadikan bahan rekomendasi bagi pemerintah untuk merumuskan kebijakannya yang menurut pemerintah terbaik untuk berdamai dengan masa lalu dan berdamai dengan masa depan bangsa yang lebih baik," kata Agus.

Kendati demikian, Agus menjelaskan rekonsiliasi tidak bisa diartikan untuk meminta maaf pada korban PKI saja namun merupakan konsep yang luas dengan berbagai elemen yang terkait satu sama lain.

Dia juga mengharapkan rekomendasi hasil simposium di Aryaduta jangan dianggap memberi peluang bagi ideologi komunis untuk kembali karena ketentuan perundang-undangan masih tetap berlaku.

"Jadi rekonsiliasi harus dilihat sebagai konsep secara keseluruhan, jangan diartikan satu-persatu, titik rekomendasi itu bukan seperti ujian di sekolah, ya atau tidak. Jika dilihat ada gejala gagal paham terhadap sebuah konsep yang utuh, sehingga melihatnya hanya hitam-putih," katanya.

Agus hadir dalam kesempatan tersebut dengan kapasitas mewakili panitia Simposium Tragedi 1965 yang sebelumnya telah mendapat restu dari Menko Polhukam Luhut Pandjaitan.

Pada Mei lalu, Agus juga dikabarkan telah menyerahkan rekomendasi yang dihasilkan simposium yang digelar di Aryaduta. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

FPI Klaim Sejumlah Indikasi Kebangkitan PKI

FPI Klaim Sejumlah Indikasi Kebangkitan PKI

News | Rabu, 01 Juni 2016 | 21:55 WIB

Kiki Syahnakri Ingin Dipertemukan Panitia Simposium 65

Kiki Syahnakri Ingin Dipertemukan Panitia Simposium 65

News | Rabu, 01 Juni 2016 | 18:59 WIB

Fadli Zon Salahkan Pemerintah Atas Ribut-ribut Soal PKI

Fadli Zon Salahkan Pemerintah Atas Ribut-ribut Soal PKI

News | Rabu, 01 Juni 2016 | 18:00 WIB

Sebut PKI Bangkit, Kivlan Zein Dianggap Lebay

Sebut PKI Bangkit, Kivlan Zein Dianggap Lebay

News | Rabu, 01 Juni 2016 | 17:52 WIB

Kiki Bawa Aristoles-Plato Saat Jelaskan Marx, Lenin, dan Atheisme

Kiki Bawa Aristoles-Plato Saat Jelaskan Marx, Lenin, dan Atheisme

News | Rabu, 01 Juni 2016 | 17:35 WIB

Fadli Zon Nilai Simposium Anti-PKI Perlu Digelar untuk Pembanding

Fadli Zon Nilai Simposium Anti-PKI Perlu Digelar untuk Pembanding

News | Rabu, 01 Juni 2016 | 17:14 WIB

Takut Ada PKI, FPI akan Jihad Segel Patung-patung Bau Komunis

Takut Ada PKI, FPI akan Jihad Segel Patung-patung Bau Komunis

News | Rabu, 01 Juni 2016 | 16:56 WIB

Sindir Ahok, Lulung: Saya Anak Tentara, Pasukan Ada 37 Juta Orang

Sindir Ahok, Lulung: Saya Anak Tentara, Pasukan Ada 37 Juta Orang

News | Rabu, 01 Juni 2016 | 15:31 WIB

Ini Usul Rizieq Shihab Agar Anak Tak Bangga Pakai Kaos Palu Arit

Ini Usul Rizieq Shihab Agar Anak Tak Bangga Pakai Kaos Palu Arit

News | Rabu, 01 Juni 2016 | 14:59 WIB

Ada Apa Rizieq Shihab Ikut Datang ke Simposium Anti PKI?

Ada Apa Rizieq Shihab Ikut Datang ke Simposium Anti PKI?

News | Rabu, 01 Juni 2016 | 12:35 WIB

Terkini

Wamendagri Bima: Generasi Muda Harus Siap Pimpin Indonesia Menuju Negara Maju

Wamendagri Bima: Generasi Muda Harus Siap Pimpin Indonesia Menuju Negara Maju

News | Minggu, 03 Mei 2026 | 15:51 WIB

Wamendagri Bima Arya Nilai Pacitan Berpotensi Jadi Kota Wisata Unggulan

Wamendagri Bima Arya Nilai Pacitan Berpotensi Jadi Kota Wisata Unggulan

News | Minggu, 03 Mei 2026 | 15:34 WIB

Groundbreaking Mapolda DIY, Kapolri Dorong Pelayanan Polisi Berbasis AI dan Data

Groundbreaking Mapolda DIY, Kapolri Dorong Pelayanan Polisi Berbasis AI dan Data

News | Minggu, 03 Mei 2026 | 15:29 WIB

Siapa yang Salah? Polisi Periksa 31 Saksi Terkait Kecelakaan Beruntun KRL vs Argo Bromo

Siapa yang Salah? Polisi Periksa 31 Saksi Terkait Kecelakaan Beruntun KRL vs Argo Bromo

News | Minggu, 03 Mei 2026 | 15:10 WIB

Dukung Asta Cita Prabowo, TNI dan Masyarakat Tanami Jagung Lahan 2 Hektare di Cibeber

Dukung Asta Cita Prabowo, TNI dan Masyarakat Tanami Jagung Lahan 2 Hektare di Cibeber

News | Minggu, 03 Mei 2026 | 14:45 WIB

MBG Tak Boleh Anti Kritik, APPMBGI Usul BGN Bentuk Tim Independen Awasi Program

MBG Tak Boleh Anti Kritik, APPMBGI Usul BGN Bentuk Tim Independen Awasi Program

News | Minggu, 03 Mei 2026 | 14:41 WIB

Meski Masih Macet, Jakarta Dinobatkan Jadi Kota Teraman Nomor 2 di ASEAN

Meski Masih Macet, Jakarta Dinobatkan Jadi Kota Teraman Nomor 2 di ASEAN

News | Minggu, 03 Mei 2026 | 14:10 WIB

Bantargebang Dibatasi Mulai 1 Agustus, Pramono Segera Temui Menteri LH Bahas Sampah

Bantargebang Dibatasi Mulai 1 Agustus, Pramono Segera Temui Menteri LH Bahas Sampah

News | Minggu, 03 Mei 2026 | 13:10 WIB

Cuma Jadi Penyerap Dampak Konflik, Indonesia dan ASEAN Dinilai Tak Punya Daya Tawar

Cuma Jadi Penyerap Dampak Konflik, Indonesia dan ASEAN Dinilai Tak Punya Daya Tawar

News | Minggu, 03 Mei 2026 | 12:48 WIB

Geger Kabar Menkeu Purbaya Dirawat di RS, Wamenkeu Buka Suara Soal Kondisi Terkini

Geger Kabar Menkeu Purbaya Dirawat di RS, Wamenkeu Buka Suara Soal Kondisi Terkini

News | Minggu, 03 Mei 2026 | 12:32 WIB