Curhat Buwas Pernah Ditolak Anies Hingga Gatot Brajamusti

Madinah Suara.Com
Rabu, 26 Oktober 2016 | 20:37 WIB
Curhat Buwas Pernah Ditolak Anies Hingga Gatot Brajamusti
Kepala Badan Narkotika Nasional Komisaris Jendral Budi Waseso [suara.com/Welly Hidayat]

Suara.com - Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Budi Waseso (Buwas) mengaku pernah mengajukan program sosialisasi bahaya narkoba lewat kurikulum SD, SMP, SMA, namun tak direalisasikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat dijabat Anies Bawesdan.

"Produk saya banyak. Mohon izin pak (Menko Polhukam Wiranto) sudah membuat buku untuk dimasukkan ke kurikulum SD, SMP, SMA. Sudah jadi semenjak saya tiga bulan jadi kepala BNN dan sudah saya serahkan pada Menteri Pendidikan lama (Anies Bawesdan) dan Menteri PMK (Puan Maharani), tapi 2016 tidak masuk kurikulum," kata Buwas saat acara diskusi di Kantor Staf Presiden Jakarta, Rabu (26/10/2016).

Acara diskusi capaian dua tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo-Wakil Presiden Jusuf Kalla (Jokowi-JK) bidang politik, hukum dan keamanan ini dihadiri Kepala Staf Presiden Teten Masduki, Menko Polhukam Wiranto, Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian, Kepala BNN Buwas, Kepala BNPT Suhardi Alius.

Buwas mengatakan sosialisasi terhadap anak didik ini sangat penting dan berharap 2017 bisa masuk ke kurikulum. Sosialisasi antinarkoba, kata dia, sedini mungkin sangat penting karena bandar narkoba sudah mulai meregenerasi pasarnya dengan menyasar anak TK dan SD.

"Sekarang yang sangat miris adalah kegiatan jaringan narkoba itu sudah meregenerasi pasar. Korbannya sudah anak TK, anak SD. Kami temukan kasus itu dibiayai oleh jaringan (narkoba). Setelah pangsa pasarnya saat ini habis, mereka menciptakan pasar selanjutnya, ini jahat," ungkapnya.

Buwas juga menjelaskan banyak pemakai barang haram ini karena ketidaktahun masyarakat bahwa yang dikonsumsinya itu narkoba.

"Jadi kita belajar dari (kasus) AA Gatot (Bradjamusti), murid-muridnya tidak tahu kalau aspat itu adalah sabu, yang diplesetkan bahwa itu makanan jin yang harus dipakai," kata Buwas.

Kejadian di pesantren lain para santrinya menggunakan pil ekstasi yang dianggap vitamin yang bisa menambah kuat untuk berdzikir semalam suntuk.

"Ekstasi dianggap sebagai obat kuat untuk dzikir. Mereka tak mengerti kalau itu ekstasi, bahkan muridnya bilang ke kyainya bahwa ada vitamin kalau tahan dzikir sampai pagi dan celakanya kyainya pakai karena tidak tahu juga," kata Buwas.

Menurut Buwas, ketidaktahuan masyarakat ini karena kurangnya sosialisasi dan ini menjadi tanggung jawab dirinya dan instansi lain yang terkait serta masyarakat.

"Sebenarnya (BNN) sudah membuat website untuk sosialisasi bahaya narkoba, tetapi ini dianggap tidak menarik," katanya. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Ekstrovert, Introvert, Ambivert, atau Otrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI