Presiden Filipina akan Bantai ISIS kalau Masuk Negaranya

Ardi Mandiri

Selasa, 15 November 2016 | 06:03 WIB
Presiden Filipina akan Bantai ISIS kalau Masuk Negaranya
Ilustrasi ISIS [shutterstock]

Suara.com - Presiden Filipina Rodrigo Duterte, Senin, memperingatkan bahwa IS, yang terusir dari Suriah dan Irak, bisa beraksi di negaranya dan jika itu terjadi, ia akan mengorbankan kewajiban hak asasi manusia untuk memastikan rakyatnya aman.

Duterte mengatakan provinsi Mindanao, Filipina selatan, sudah menjadi sarang pemberontakan dan bandit dan ia khawatir "dengan ancaman terorisme" dan perusuh masuk, yang bisa memanfaatkan rasa tidak aman.

"Setelah teroris dari Timur Tengah, yang terusir dari kawasan itu. Mereka akan mengembara ke tempat lain dan akan datang ke sini dan kita harus menyiapkan diri untuk itu," katanya saat pidato di hadapan lembaga penegak hukum.

"Ingat, mereka tidak memiliki sedikit pun penghargaan pada hak asasi manusia, percayalah. Saya tidak akan membiarkan rakyat saya dibunuh demi hak asasi manusia, itu omong kosong," katanya.

Hak asasi manusia menjadi topik peka bagi Duterte, yang rutin menyampaikan kemarahan pada aktivis dan pemerintah Barat yang telah menunjukkan kekhawatiran atas perang terhadap narkoba dan tingginya angka kematian di Filipina.

Warga asli Mindanao dan walikota Davao City selama 22 tahun, Duterte mengatakan ada pemberontakan "sangat kuat" di sana dan pemberontak Abu Sayyaf yang melakukan penyanderaan hampir setiap hari.

Abu Sayyaf saat ini menyandera 21 tawanan, sebagian besar dari mereka warga asing, dan meskipun serangan militer sedang berlangsung untuk memusnahkan mereka, pembajakan dan penculikan terus berlanjut.

Duterte mengatakan Filipina, Indonesia dan Malaysia bekerja sama untuk menjauhkan ekstrimis asing dari kawasan mereka.

Pada Jumat, ia memperingatkan bahwa ia mungkin menggunakan kekuasaan eksekutif untuk mengatasi pelanggaran hukum di Filipina dengan menunda harbeas corpus atau sebuah upaya perlindungan hukum terhadap penangkapan sewenang-wenang dan penahanan.

konstitusi yang memungkinkan 60-hari penundaan "dalam kasus invasi atau pemberontakan, ketika keselamatan publik memerlukan itu" dan akan mengizinkan penangkapan tanpa surat perintah dan penahanan tanpa tuduhan selama tiga hari.

Duterte menyebut habeas corpus pada Jumat dalam konteks dua hal yaitu kerusuhan selatan dan perang terhadap narkoba dan mengatakan membangun kasus untuk menangkap tersangka memerlukan terlalu banyak waktu dan sumber daya.

Kantor presiden pada Senin mengeluarkan pernyataan, yang mengatakan Duterte memberi peringatan keras kepada mereka di balik kekerasan dan ia bisa mengambil tindakan lebih keras untuk menghentikan mereka. [Antara]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

ISIS Klaim Ledakan Tempat Suci di Pakistan, 52 Orang Tewas

ISIS Klaim Ledakan Tempat Suci di Pakistan, 52 Orang Tewas

News | Minggu, 13 November 2016 | 11:52 WIB

ISIS Hukum Warga Mosul, Mulai Dijatuhkan dari Gedung Hingga...

ISIS Hukum Warga Mosul, Mulai Dijatuhkan dari Gedung Hingga...

News | Jum'at, 11 November 2016 | 19:40 WIB

Terkini

Kejagung Sita 38 Aset Tanah dan Bangunan Senilai Rp846 Miliar di Kasus Febrie Adriansyah

Kejagung Sita 38 Aset Tanah dan Bangunan Senilai Rp846 Miliar di Kasus Febrie Adriansyah

News | Selasa, 15 September 2026 | 17:43 WIB

Takut ke Dokter Gigi? Cara Ini Bantu Pasien Lebih Rileks saat Perawatan

Takut ke Dokter Gigi? Cara Ini Bantu Pasien Lebih Rileks saat Perawatan

Health | Selasa, 15 September 2026 | 17:43 WIB

AC LG 1/2PK Diklaim Cuma Rp912 Sehari, Ini Teknologi yang Bikin Hemat Listrik

AC LG 1/2PK Diklaim Cuma Rp912 Sehari, Ini Teknologi yang Bikin Hemat Listrik

Tekno | Selasa, 15 September 2026 | 17:40 WIB

Lagi, Viral Oknum Jual Kartu Gratis Transjakarta Rp500 Ribu di Medsos

Lagi, Viral Oknum Jual Kartu Gratis Transjakarta Rp500 Ribu di Medsos

News | Selasa, 15 September 2026 | 17:40 WIB

UU Ketenagakerjaan Dikejar Deadline, Akademisi Soroti Minimnya Riset Empiris

UU Ketenagakerjaan Dikejar Deadline, Akademisi Soroti Minimnya Riset Empiris

Jawa Tengah | Selasa, 15 September 2026 | 17:37 WIB

Menelisik Penyebab Tragedi KM Virgo, Guru Besar ITS Duga Muatan Bergeser atau Air Masuk

Menelisik Penyebab Tragedi KM Virgo, Guru Besar ITS Duga Muatan Bergeser atau Air Masuk

News | Selasa, 15 September 2026 | 17:37 WIB

4 Aktivitas Atasi Rasa Jenuh Sederhana untuk Anak Muda

4 Aktivitas Atasi Rasa Jenuh Sederhana untuk Anak Muda

Lifestyle | Selasa, 15 September 2026 | 17:36 WIB

Bukan Sekadar Belajar Bahasa Inggris, Ini Cerita Dua Ibu Merawat Kewarasan di Tengah Kesibukan

Bukan Sekadar Belajar Bahasa Inggris, Ini Cerita Dua Ibu Merawat Kewarasan di Tengah Kesibukan

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 17:35 WIB

Mendaki Gunung Everest Makin Susah, Duit Bukan Lagi Segalanya di Sana

Mendaki Gunung Everest Makin Susah, Duit Bukan Lagi Segalanya di Sana

News | Selasa, 15 September 2026 | 17:34 WIB

Penyidikan Rampung, Kasus Febrie Adriansyah Segera Dilimpahkan ke Pengadilan

Penyidikan Rampung, Kasus Febrie Adriansyah Segera Dilimpahkan ke Pengadilan

News | Selasa, 15 September 2026 | 17:32 WIB

×