Dia menambahkan, orang tersebut kemudian meninggal dunia. Ketika meninggal, lanjutnya, tidak ada satupun orang yang mau dan berani menangani jenazah ini.
"Kebetulan hanya ayah saya yang berani. Jenazahnya dirawat dan dimakamkan. Semua takut khawatir ini bukan Islam yang sejati dan itu diangkat Gus Dur jadi tema bahwa siapapun tetangga kita, faktor kemnausian itu yang nomor 1 untuk ditolong. Tidak memandang dia agama apa," kata dia.
Nilai yang bisa menjadi pelajaran selanjutnya adalah soal keadilan. Gus Dur lahir dan besar di Denayar, menjadi guru dan pendidik di Tambak Beras, dan meninggal di Tebu Ireng.
"Jadi dibagi. Sehingga 3 pesantren itu istilahnya dapat nama besar Gus Dur," kata dia.
"Ini nilai-nilai yang diajarkan dan Insya Allah terus jadi pilar PKB," tuturnya.