Keluarga Korban Malpraktik Falya Raafani Blegur Mengadu ke KY

Pebriansyah Ariefana, Ummi Hadyah Saleh

Jum'at, 03 Februari 2017 | 14:06 WIB
Keluarga Korban Malpraktik Falya Raafani Blegur Mengadu ke KY
Kuasa Hukum keluarga dari mendiang Falya Raafani Blegur (14 bulan) korban dugaan malpraktik, M Ihsan dan Ayah dari Falya, Ibrahim Blegur menyambangi Komisi Yudisial, Jakarta Pusat, Jumat (3/2/2017). (suara.com/Ummi Hadyah Saleh)

Suara.com - Kuasa Hukum keluarga dari mendiang Falya Raafani Blegur (14 bulan) korban dugaan malpraktik, M Ihsan dan Ayah dari Falya, Ibrahim Blegur menyambangi Komisi Yudisial, Jakarta Pusat, Jumat (3/2/2017). Mereka menduga ada main mata antara Majelis Kehormatan Dewan Kedokteran Indonesia (MK DKI) dengan hakim banding Pengadilan Tinggi Jawa Barat.

Hal ini menyusul putusan Pengadilan Tinggi Jawa Barat yang membenarkan putusan PN Bekasi dan menyatakan NO (niet on vankelijke verklard) karena perkara belum disidang oleh Majelis Kehormatan Kedokteran pada 30 November 2016.

"Kami menduga antara Mahkamah Kode Etik Kedokteran dengan hakim pengadilan tinggi itu, ada hubungan yang cukup serius dalam membuat keputusan, "ujar Ihsan di Komisi Yudisial, Jakarta Pusat, Jumat (3/2/2017).

Pihaknya telah melaporkan perkara dugaan malpraktik tersebut Polda Metro Jaya dan mengajukan gugatan ke pengadilan dan kemudian melaporkan kepada Mahkamah Kehormatan Dewan Kedokteran Indonesia pada November 2015 dan belum mendapatkan respon hingga November 2016 dari MK DKI.

"Sampai November 2016 November putusan perkara di Pengadilan Negeri (Bekasi) itu nggak ada respon dari MK DKI, sampai kemudian naik banding. Tiba-tiba hakim banding nggak tahu bagaimana prosesnya meminta ke MKD DKI didukung dengan proses persidangan di MK DKI, nah dibuktikan dengan surat yang diberitahukan oleh MK DKI untuk sidang. Kemudian putus, mengatakan putusan kami itu tergesa-gesa mengajukan ke Pengadilan Bekasi," kata dia

Ihsan mencontohkan kasus dugaan malpraktik yang dilakukan oleh dokter spesialis kebidanan dan kandungan, Dewa Ayu Sasiary Prawani dalam kasus malapraktik terhadap korban Julia Fransiska Makatey (25) di Makassar. Kasus tersebut mengikuti putusan MK nomor 14/PUU-XII/2014 tentang pengujian UU nomor 29/2004 tentang praktek Kedokteran yang amar putusannya menolak permohonan uji materi tentang proses hukum perdata dan pidana menunggu putusan dewan kehormatan.

"Anehnya, padahal di MK memutuskan ketika kasus Ayu di Makassar tidak ada kewajiban dari proses pidana perdata untu menunggu Mahkamah kedokteran," ucap Ihsan.

Maka dari itu ia mempertanyakan hakim banding di Pengadilan Tinggi yang memutuskan NO atas kasus dugaan malpraktik yang dilakukan RS Awal Bross.

"Pertanyaannya bagaimana bisa hakim banding tidak baca norma hukum yang ada. Ko dia nggak tau MK, sudah putuskan bahwa tidak punya kekuatan hukum sama sekali ketika prosses hukum berjalan di NO - kan, karena alasanya MK DKI belum memutuskan ini, "tuturnya.

"Apakah kurang cermat atau sengaja tidak cermat apa hakimnya sengaja menutupi atau kemudian ada permainan dibelakang itu," sambungnya.

Lebih lanjut, ia meminta Komisi Yudisial untuk memeriksa hakim yang melakukan permainan dalam memutuskan perkara kasus Falya. Hal tersebut kata Ihsan jika hakim tersebut tidak ditindak, dapat merugikan pihak lain.

"Ini yang kemudian kita akan minta periksa sama Komisi Yudisial . Kalau tidak cermat, dia nggak layak jadi hakim. Kalau dia tidak tahu MK DKI sudah memutuskan, MK sudah memutuskan seperti itu. Berarti dia nggak layak jadi hakim. Nah perbuatan dia itu itu merugikan banyak pihak. Kami nggak mau hakim seperti ini berada di PN dan dia merusak sistem peradilan kita," katanya.

Di kesempatan yang sama, Ibrahim Blegur mengaku kecewa dengan putusan Pengadilan Tinggi Jawa Barat yang memutuskan kasus dugaan malpraktik terhadap mendiang putrinya di NO-kan.

"Anak saya meninggal saya ikhlas, tapi bukan berarti saya berhenti mencari keadilan, sampai peradilan terakhir akan saya laksanakan termasuk tingkat kasasi. Saya kecewa dengan putusan PT ini, yang menyatakan bahwa keputusan pengadilan perdata harus menunggu putusan dari sidang MK DKI , padahal sudah ada putusan dari MK bahwa tidak perlu menunggu sidang MK DKI untuk melakukan gugatan," kata Ibrahim.

Ia mengaku curiga dengan keputusan Pengadilan Tinggi Jawa Barat yang menyatakan NO (niet on vankelijke verklard) karena perkara belum disidang oleh Majelis Kehormatan Kedokteran.

"Saya curiga kenapa ketika satu tahun pelaporan saya ke MK DKI, nggak ada tindakan, tapi ketika sudah akan diputus di pengadilan tinggi, mereka tiba tiba undang saya dengan tempo yang sangat singkat, satu hari untuk datang melakukan sidang. Setelah satu tahun menunggu nggak ada putusan sama sekali nggak ada itikad baik dari MK DKI, tapi ketika putus sidang di PT, mereka baru mengadakan rapat ke saya. Satu tahun lalu kemana mereka..

Ia berharap adanya keadilan bagi kasus dugaan malapraktik yang menimpa mendiang putrinya.

"Saya minta keadilan. Supaya semua yang mnjdi korban di RS nggak usah takut melawan RS. Banyak yang bilang, melawan RS susah tapi kalau selama kita mau mencoba yang penting berjuang dulu," paparnya.

Pengadilan Negeri Bekasi akhir Juni 2016 lalu memutuskan bahwa Rumah Sakit Awal Bross terbukti bersalah akibat kelalaiannya Falya meninggal dunia di Rumah Sakit Awal Bross pada 1 November 2015.

Tim Kuasa Hukum keluarga mengajukan gugatan Perbuatan Melawan Hukum ke PN Bekasi dan diputuskan bahwa Dokter Yenny dan Rumah Sakit Awal Bross terbukti lalai dan dinyatakan bersalah dihukum membayar kerugian sebesar Rp205.500.000

Rumah Sakit Awal Bross mengajukan banding dan Hakim Banding memutuskan bahwa membenarkan putusan PN Bekasi dan menyatakan NO (niet on vankelijke verklard) karena perkara belum disidang oleh Majelis Kehormatan Kedokteran.

keluarga almarhumah Falya melaporkan dokter berinisial YWA yang berpraktik di Rumah Sakit Awal Bros ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu Polda Metro Jaya. Keluarga menduga Falya menjadi korban malpraktik setelah dirawat di rumah sakit yang terletak di Jalan KH. Noer Ali.

Falya dirawat di rumah sakit mulai Rabu (28/10/2015). Dia meninggal di RS Awal Bros pada Minggu (1/11/2015). Keluarga mengatakan sebelum diberi antibiotik oleh dokter, Falya sudah mulai sehat. Keluarga Falya menduga pemberian antibiotik tersebut tidak sesuai prosedur.

Dokter YWA dilaporkan atas dugaan pelanggaran Pasal 359 KUHP dan UU Kesehatan yang mengakibatkan orang meninggal dunia. Nomor laporan Polda Metro Jaya LP/4829/X/2015/PMJ/Ditreskrimsus.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Keluarga Raafani Blegur Minta Dokter YWA Dijadikan Tersangka

Keluarga Raafani Blegur Minta Dokter YWA Dijadikan Tersangka

News | Jum'at, 01 Juli 2016 | 12:53 WIB

Datangi Polda Metro, Keluarga Minta Kasus Awal Bros Dipercepat

Datangi Polda Metro, Keluarga Minta Kasus Awal Bros Dipercepat

News | Selasa, 12 Januari 2016 | 19:04 WIB

Keluarga Publikasikan Dokumen Dugaan Malpraktik RS Awal Bros

Keluarga Publikasikan Dokumen Dugaan Malpraktik RS Awal Bros

News | Selasa, 15 Desember 2015 | 19:50 WIB

Polda Metro Masih Tunggu Hasil Autopsi Falya

Polda Metro Masih Tunggu Hasil Autopsi Falya

News | Sabtu, 28 November 2015 | 14:53 WIB

Dugaan Malpraktik, Dinkes Kota Bekasi Konpres Pekan Depan

Dugaan Malpraktik, Dinkes Kota Bekasi Konpres Pekan Depan

News | Jum'at, 27 November 2015 | 20:23 WIB

Autopsi Selesai, Beberapa Organ Tubuh Bayi Falya Diambil

Autopsi Selesai, Beberapa Organ Tubuh Bayi Falya Diambil

News | Jum'at, 27 November 2015 | 12:18 WIB

Wali Kota Bekasi Jangan Diam Saja Lihat Kasus Dugaan Malpraktik

Wali Kota Bekasi Jangan Diam Saja Lihat Kasus Dugaan Malpraktik

News | Kamis, 26 November 2015 | 19:52 WIB

Mediasi Kasus RS Awal Bros Tak Pengaruhi Polda Metro

Mediasi Kasus RS Awal Bros Tak Pengaruhi Polda Metro

News | Kamis, 26 November 2015 | 18:30 WIB

RS Awal Bros Digugat Ortu Pasien, Ayah Falya Blegur Dihadirkan

RS Awal Bros Digugat Ortu Pasien, Ayah Falya Blegur Dihadirkan

News | Kamis, 26 November 2015 | 15:36 WIB

Dugaan Malpraktik Bayi, DPRD Tetap Tunggu Penyelidikan Polisi

Dugaan Malpraktik Bayi, DPRD Tetap Tunggu Penyelidikan Polisi

News | Rabu, 25 November 2015 | 20:54 WIB

Terkini

BRI Salurkan Sembako bagi Member Merah Indogrosir yang Adopsi QRIS

BRI Salurkan Sembako bagi Member Merah Indogrosir yang Adopsi QRIS

Bri | Selasa, 06 Oktober 2026 | 17:45 WIB

Kajari di Sultra Diamankan Usai Dilaporkan Warga soal Dugaan Penyalahgunaan Wewenang

Kajari di Sultra Diamankan Usai Dilaporkan Warga soal Dugaan Penyalahgunaan Wewenang

News | Selasa, 06 Oktober 2026 | 17:45 WIB

Nama BNN Mau Diubah Jadi BNPN, Prabowo Ungkap Nyawa Petugas Melayang di Kampung Narkoba

Nama BNN Mau Diubah Jadi BNPN, Prabowo Ungkap Nyawa Petugas Melayang di Kampung Narkoba

News | Selasa, 06 Oktober 2026 | 17:45 WIB

Hilirisasi Tambang RI Tersandung Serapan Dalam Negeri

Hilirisasi Tambang RI Tersandung Serapan Dalam Negeri

Bisnis | Selasa, 06 Oktober 2026 | 17:35 WIB

4 Brightening Serum Tanpa Pewangi Solusi Aman Mencerahkan Kulit Sensitif

4 Brightening Serum Tanpa Pewangi Solusi Aman Mencerahkan Kulit Sensitif

Your Say | Selasa, 06 Oktober 2026 | 17:35 WIB

RUU Hak Cipta Ditargetkan Rampung 17 Desember 2026

RUU Hak Cipta Ditargetkan Rampung 17 Desember 2026

News | Selasa, 06 Oktober 2026 | 17:34 WIB

Satgas PKH Setor Rp 13,2 Triliun ke Negara, Total 6,2 Juta Hektare Hutan Dikuasai Kembali

Satgas PKH Setor Rp 13,2 Triliun ke Negara, Total 6,2 Juta Hektare Hutan Dikuasai Kembali

News | Selasa, 06 Oktober 2026 | 17:29 WIB

Wamensos Agus Jabo Tekankan Pentingnya Legalitas Lahan Sekolah Rakyat di Boven Digoel

Wamensos Agus Jabo Tekankan Pentingnya Legalitas Lahan Sekolah Rakyat di Boven Digoel

News | Selasa, 06 Oktober 2026 | 17:21 WIB

Koar-koar Timnas Indonesia Curang, Ini Statistik Suram Tetangga Berisik Malaysia

Koar-koar Timnas Indonesia Curang, Ini Statistik Suram Tetangga Berisik Malaysia

Bola | Selasa, 06 Oktober 2026 | 17:21 WIB

Bikin Resah! Warga Minta Lokalisasi di Belakang Kantor Kejari Bangka Selatan Ditutup

Bikin Resah! Warga Minta Lokalisasi di Belakang Kantor Kejari Bangka Selatan Ditutup

News | Selasa, 06 Oktober 2026 | 17:21 WIB

×