Jawa Barat, Palagan Selanjutnya si 'Banteng Ketaton'

Reza Gunadha

Sabtu, 22 April 2017 | 06:30 WIB
Jawa Barat, Palagan Selanjutnya si 'Banteng Ketaton'
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri didampingi calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan calon Wakil Gubernur Djarot Saiful Hidayat memberikan intruksi dan pidato politik kepada relawan di Posko Rumah Lembang, Menteng, Jakarta, Rabu (15/3).

Suara.com - Air muka Megawati mendadak berubah, ia tampak kaget sekaligus meradang karena mendapat pertanyaan dari seorang jurnalis yang dianggapkan menyudutkan, seusai mencoblos di Tempat Pemungutan Suara 027 Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (19/4/2017).

"Iya nih, selalu, belum apa-apa sudah tendensius, nggak jadi (ngomong), nggak boleh gitu dong. Betul nggak, seharusnya tanya dengan baik dong," katanya, ketus.

Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu tersinggung, saat seorang wartawan stasiun televisi swasta melontarkan pertanyaan mengenai Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Basuki Tjahja Purnama-Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot) diprediksi kalah berdasarkan exit poll putaran kedua Pilkada DKI.

Menurutnya, hasil survei, exit poll, ataupun hitung cepat, yang digelar sejumlah lembaga survei tidak bisa menjadi acuan untuk menentukan pemenang putaran final Pilkada DKI 2017: Ahok-Djarot atau Anies Baswedan-Sandiaga Uno (Anies-Sandi).

"Yang menentukan itu masayarakat, masyarakat DKI pada dewasa ini, jadi monggo, silahkan, pilih siapa yang mau dipilih, dan jangan dengan terintimidasi, jangan dengan teror," tegasnya lagi.

Namun, Rabu sore, kalimat-kalimat yang tertutur dari bibir putri Bung Karno tersebut kehilangan makna. Ahok-Djarot, di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, memberikan pidato yang mengakui kekalahannya dari pasangan kandidat Anies-Sandi.

Kekalahan Ahok-Djarot di putaran kedua Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta, kegagalan partai berlambang kepala banteng bermoncong putih itu untuk kali keempat dalam pilkada serentak tahun ini.

Berdasarkan data yang terhimpun, PDIP hanya mampu menang di tiga pilkada dari total tujuh pemilihan tingkat provinsi, yang digelar 15 Februari 2017.

Selain di Jakarta, PDIP mengalami kekalahan di Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Bangka Belitung. Rustam Effendi-M Irwansyah yang diusung PDIP, keok dari kandidat Erzaldi-Abdul Rohman.

baca juga

Selanjutnya, PDIP juga menjadi "banteng ketaton" (terluka) di Banten setelah pasangan Rano Karno-Embay Mulya Syarief dibekuk Wahidin Halim-Andika Hazrumy.

Begitu pula di Pilgub Gorontalo, Hana Hasanah Fadel Muhammad-Tonny S Junus yang diusung PDIP keok.

Praktis, PDIP hanya mampu menang di Pilkada Sulawesi  Barat, Papua Barat, dan Nangroe Aceh Darussalam.

PDIP di tiga pilkada itu, secara berurutan mengantarkan Ali Baal Masdar-Enny Anggraeni Anwar; Dominggus Mandacan-Muhammad Lakotani; dan, Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah ke tampuk kekuasaan.

Namun, kekalahan tampak paling menyakitkan adalah di ibu kota. Sebab, banyak pihak mengamini, Pilkada DKI bisa menjadi parameter kemajuan kekuatan setiap partai politik sebelum Pemilihan Umum (Pemilu) legislatif maupun pemilihan presiden dan wakil presiden tahun 2019.

Bagi PDIP, tentu kekalahan Ahok-Djarot mengindikasikan kemunduran kekuatan mereka. Pasalnya, pada pilkada sebelumnya, tahun 2012, pasangan Joko Widodo-Ahok sukses mengalahkan calon petahana Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli yang diusung Partai Demokrat.

Kala itu, PDIP dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) masih mesra. Pun Megawati dan Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto, masih “lengket”.

Setelah pecah kongsi, pamor Gerindra besutan Prabowo justru melesat naik. Anies-Sandi yang mengalahkan Ahok-Djarot, adalah kandidat yang diusung Gerindra.

Seusai Anies-Sandi kuat diprediksi menjadi pemenang pilkada menurut hitung manual Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat, desakan kader-kader Gerindra agar Prabowo maju sebagai calon presiden (capres) pada tahun 2019 semakin menguat.

Jadi Pensiun Bu?

Saat merasakan kekalahan dalam pilkada serentak, PDIP juga memunyai persoalan internal yang harus disikapi, yakni regenerasi kader serta elite partai. Itu setelah Megawati memberikan sinyal ingin “pensiun” dan mau turun dari panggung politik.

"Saya sendiri suka berkata pada diri sendiri, mereka itu kok nggak kapok-kapokya. Sebetulnya, sudah dari tahun lalu berpikir pensiun. Karena tidak mudah, apalagi bagi seorang wanita untuk menjadi ketua umum partai di republik ini," ujar Megawati saat acara puncak ulang tahun ke-17 Banteng Muda Indonesia dan peresmian kantor ormas underbouw PDIP tersebut, di Jalan Cianjur, nomor 4, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (30/3).

Tapi, tampaknya, Megawati bakal menunda niatnya kalau benar-benar ingin pensiun dari politik. Setidaknya, niat itu belum bakal dilakukan dalam waktu dekat.

Sebabnya, Megawati sendiri ingin seluruh kader partai besutannya solid dan militan sebelum tahun 2019. Tidak main-main, Mega mempersilakan kader-kader PDIP yang tak menyukai kepemimpinannya untuk segera hengkang.

”Kalau nggak suka dengan PDIP, monggo, baik-baik saja mengembalikan kartu anggota. Lalu ya keluar saja," ucapnya.

Pertaruhan Terakhir

Kekalahan demi kekalahan yang dicecap, tak ayal membuat elite PDIP didesak segera berbenah. Apalagi, mereka masih bakal diuji dalam kancah pertarungan pilkada di satu lagi wilayah besar dan signifikan untuk dimenangkan sebagai bekal politik elektoral tahun 2019: Jawa Barat.

"Tiap pilkada mempunyai tantangan dan karakter yang berbeda, baik dari segi luas (wilayah), cakupan isu maupun tantangannya pasti berbeda. Tapi, tentu setiap kekalahan harus selalu diwaspadai dan dievaluasi untuk perbaikan ke depan," tutur Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira kepada Suara.com, Jumat (21/4).

Khusus kekalahan di Jakarta, Andreas menilai tidak ada yang salah dari kinerja mesin partai. Bahkan dia menyebut, partainya merupakan partai yang paling total untuk memenangkan pilkada.

“Mesin partai bekerja all out, militan, kompak, dan gotong royong. Ini terbukti dari hasil survei maupun exit poll, lebih dari 90 persen pemilih PDIP memilih Ahok-Djarot," kata dia.

Andreas mengungkapkan, terdapat faktor luar yang juga turut andil dalam kekalahan Ahok-Djarot, sehingga tak sepenuhnya bisa menjustifikasi PDIP tak lagi mengakar di kalangan masyarakat.

"Semua juga tahu, kemenangan pilkada ditentukan oleh kombinasi banyak faktor. Selain mesin partai, figur kandidat, serta manajemen kampanye, dan isu, serta lainnya juga turut menentukan," terang anggota Komisi I DPR itu.

Dosen Politik Universitas Padjadjaran Firman Manan memprediksi, PDIP bakal serius membenani “dapurnya” setelah kali keempat mengenyam kekalahan pada pilkada serentak. Ia juga menakwilkan Megawati bakal mendesak seluruh kadernya all-out di Pilkada Jabar yang termasuk strategis.

"Mereka akan all out di Jabar setelah kekalahan di Jakarta dan sebelumnya di Banten. Saya melihat PDIP berpeluang turut mendukung Kang Emil (Ridwan Kamil; Wali Kota bandung) sebagai calon,” tutur Firman, Kami (20/4).

 

 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Ridwan Kamil Tak Punya Duit karena Tak Pernah Minta Pengusaha

Ridwan Kamil Tak Punya Duit karena Tak Pernah Minta Pengusaha

News | Jum'at, 21 April 2017 | 20:42 WIB

Ridwan Kamil Tak Mau Pilgub Jabar Sadis seperti di Jakarta

Ridwan Kamil Tak Mau Pilgub Jabar Sadis seperti di Jakarta

News | Jum'at, 21 April 2017 | 20:23 WIB

Gerindra: Pintu Sudah Tertutup bagi Ridwan Kamil

Gerindra: Pintu Sudah Tertutup bagi Ridwan Kamil

News | Kamis, 20 April 2017 | 17:58 WIB

Usai Mencoblos, Ahok dan Djarot Bakal Sambangi Rumah Megawati

Usai Mencoblos, Ahok dan Djarot Bakal Sambangi Rumah Megawati

News | Rabu, 19 April 2017 | 13:00 WIB

Usai Nyoblos, Mega dan Puan Makan Kerak Telor Ditonton Warga

Usai Nyoblos, Mega dan Puan Makan Kerak Telor Ditonton Warga

News | Rabu, 19 April 2017 | 12:59 WIB

Menuju TPS, Megawati dan Keluarga Diiringi Pasukan Marawis

Menuju TPS, Megawati dan Keluarga Diiringi Pasukan Marawis

News | Rabu, 19 April 2017 | 12:17 WIB

Rumah Megawati Dijadikan Markas Ahok-Djarot Pantau Pencoblosan

Rumah Megawati Dijadikan Markas Ahok-Djarot Pantau Pencoblosan

News | Rabu, 19 April 2017 | 10:40 WIB

Pesan Penting Megawati Buat Pendukung Ahok - Djarot Jelang Hari H

Pesan Penting Megawati Buat Pendukung Ahok - Djarot Jelang Hari H

News | Selasa, 18 April 2017 | 19:05 WIB

Megawati Serukan Konferensi Asia Afrika yang Kedua

Megawati Serukan Konferensi Asia Afrika yang Kedua

News | Selasa, 18 April 2017 | 16:05 WIB

Ketemu Ridwan Kamil, Kenapa Ekspresi Chelsea Islan Begini Yah?

Ketemu Ridwan Kamil, Kenapa Ekspresi Chelsea Islan Begini Yah?

Entertainment | Senin, 17 April 2017 | 19:37 WIB

Terkini

Fakta Mengerikan di Balik Tato 'Love Topik TH' Korban Penyekapan Bandung

Fakta Mengerikan di Balik Tato 'Love Topik TH' Korban Penyekapan Bandung

News | Selasa, 30 Juni 2026 | 15:35 WIB

Alasan Meringankan Vonis 10 Tahun Penjara Nadiem: Jadi Tokoh Inovasi Pendidikan dan Teknologi

Alasan Meringankan Vonis 10 Tahun Penjara Nadiem: Jadi Tokoh Inovasi Pendidikan dan Teknologi

News | Selasa, 30 Juni 2026 | 15:33 WIB

Update Perdamaian AS - Iran, Kapan Berunding Lagi?

Update Perdamaian AS - Iran, Kapan Berunding Lagi?

News | Selasa, 30 Juni 2026 | 15:26 WIB

Selain 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Wajib Bayar Uang Pengganti Rp809,59 Miliar

Selain 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Wajib Bayar Uang Pengganti Rp809,59 Miliar

News | Selasa, 30 Juni 2026 | 15:22 WIB

Sengketa Lahan 2,4 Hektare Memanas di Jakarta, Massa Desak Dugaan Mafia Tanah Diusut

Sengketa Lahan 2,4 Hektare Memanas di Jakarta, Massa Desak Dugaan Mafia Tanah Diusut

News | Selasa, 30 Juni 2026 | 15:22 WIB

Ada Tato Wajah Taufik di Tubuh Yuvita, Polisi Cium Siasat Love Bombing Sebelum Disiksa

Ada Tato Wajah Taufik di Tubuh Yuvita, Polisi Cium Siasat Love Bombing Sebelum Disiksa

News | Selasa, 30 Juni 2026 | 15:17 WIB

Real Madrid Kirim Bantuan Rp 20,3 Miliar ke Korban Gempa Bumi Venezuela

Real Madrid Kirim Bantuan Rp 20,3 Miliar ke Korban Gempa Bumi Venezuela

News | Selasa, 30 Juni 2026 | 15:14 WIB

Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara!

Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara!

News | Selasa, 30 Juni 2026 | 15:04 WIB

PKB Tak Ambil Pusing Safari Politik Jokowi: Mau Gabung PSI Pun Itu Hak Beliau

PKB Tak Ambil Pusing Safari Politik Jokowi: Mau Gabung PSI Pun Itu Hak Beliau

News | Selasa, 30 Juni 2026 | 14:46 WIB

Viral PMI Asal Cianjur Diduga Disiksa di Libya, Kemlu Ungkap Kondisinya

Viral PMI Asal Cianjur Diduga Disiksa di Libya, Kemlu Ungkap Kondisinya

News | Selasa, 30 Juni 2026 | 14:35 WIB

×