Riwayat Berita Hoaks, dari Tiongkok Kuno hingga Era Internet

Reza Gunadha

Jum'at, 01 Desember 2017 | 13:07 WIB
Riwayat Berita Hoaks, dari Tiongkok Kuno hingga Era Internet
Salah satu foto yang dipamerkan dalam eksibisi "sejarah hoaks" di National Science and Media Museum, Bradford, Inggris, sejak November 2017 hingga 28 Januari 2018. [National Science and Media Museum / SSPL/Independent]

Suara.com - Berita-berita hoaks bertebaran di media massa daring (online) maupun media-media sosial pada era internet. Namun, siapa sangka bahwa berita-berita bohong tersebut sudah ada sejak era pra-internet.

Ihwal berita hoaks bisa dilacak hingga pada awal abad ke-20. Persisnya ketika kapal RMS Titanic menabrak gunung es di perairan Samudera Atlantik Utara, 14 April 1912.

Ketika itu, anak buah kapal Titanic menggunakan teknologi telegrafi untuk tidak hanya meminta bantuan, tapi juga memberikan kabar terbaru mengenai situasi di sana.

Telegram yang belum diverifikasi dan tidak ditandatangani itu dikirim ke Fleet Street, wilayah tempat mayoritas kantor-kantor berita terkenal dunia bermarkas hingga era 1980-an.

Oleh banyak surat kabar, telegram-telegram tersebut dijadikan sumber informasi untuk mengolah berita bahwa "Titanic tidak bakal tenggelam dan bakal bertahan setelah menabrak gunung es." Tapi, tak lama, kapal itu justru tenggelam.

Analis media dan sejarawan menilai, pemberitaan mengenai insiden Titanic itulah yang bisa dikatakan sebagai tonggak pertama berita hoaks.

Hal itulah yang diangkat sebagai tema utama pameran mengenai "Sejarah berita hoaks", yang digelar di National Science and Media Museum, Bradford, Inggris, sejak November 2017 hingga 28 Januari 2018.

baca juga

"Ini adalah pameran tak biasa yang digelar museum, yakni mengangkat tema eksibisi yang masih hangat atau berlangsung kekinian," kata John O'Shea, manajer pameran itu, seperti dilansir Independent.

"Kami selalu memikirkan mengenai pengunjung kami dan pemahaman mereka mengenai subjek yang dipamerkan. Kami juga berusaha untuk memberikan informasi dan merangsang mereka untuk ikut memikirkan subjek tentang hoaks ini," tambahnya.

O'Shea menuturkan, pameran ini digelar pada November juga untuk memperingati kali pertama diksi "fake news/hoax" masuk dalam Kamus Bahasa Inggris (Collins Dictionary).

Dalam kamus itu, "fake news" diartikan sebagai berita "salah, seringkali sensasional, dan penyebaran informasi di balik kedok sebagai berita hasil peliputan".

"Tapi, melalui pameran ini, kami ingin mereferensikan bahwa apa yang kekinian kita sebut sebagai 'fake news' atau hoaks sebenarnya sudah lama terjadi di banyak negara. Bahkan, bisa dilacak hingga pada masa manusia kali pertama berkomunikasi," tutur O'Shea.

Ia mengatakan, pada peradaban kuno Tiongkok misalnya, sudah ditemukan "bisikan" atau desas-desus yang pada era kontemporer termasuk hoaks.

Cerita atau hikayat-hikayat kuno juga mengalami distorsi setelah kali berulang dikisahkan lintas generasi.

"Atau cerita anjing shaggy misalnya, selalu mendapat penambahan atau dibesar-besarkan. Cerita selalu dihias dengan cara tertentu untuk mendorong agenda tertentu," jelasnya.

Tapi, kata dia, pemahaman modern tentang berita palsu lebih banyak berhubungan dengan teknologi yang ada di balik media.

"Ada perubahan mendasar pada era kekinian, kemunculan internet. Di dalamnya ada infrastruktur seperti Facebook, Twitter, Buzzfeed, yang menjelma sebagai media massa berbeda dari awal abad ke-20. Hal itu bersinggungan dengan peristiwa sosial dan politik, sehingga menciptakan 'badai berita bohong' maha dahsyat," tuturnya.

O'Shea lantas mengungkapkan lima hal yang berkontribusi terhadap maraknya peredaran informasi ataupun berita hoaks di media sosial maupun media massa.

Kelima aspek tersebut ialah: keuntungan politik; kesalahan pelaporan; informasi viral; keuntungan finansial; dan, kecenderungan orang untuk tidak membiarkan suatu kebenaran menghalangi alur cerita yang dianggapnya bagus.

Menurutnya, tragedi Titanic menjadi contoh terbaik penyebaran hoaks lantaran adanya kesalahan pelaporan informasi.

Pola yang sama terjadi pada era medsos kekinian, di mana banyak warganet menyebar informasi yang terjadi sudah salah sejak awal.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Cekcok Mulut soal Anti Muslim, Trump Batal Kunker Bareng PM May

Cekcok Mulut soal Anti Muslim, Trump Batal Kunker Bareng PM May

News | Jum'at, 01 Desember 2017 | 11:14 WIB

Trump Ikut Sebarkan Video Anti-Islam, Inggris Marah

Trump Ikut Sebarkan Video Anti-Islam, Inggris Marah

News | Jum'at, 01 Desember 2017 | 03:31 WIB

Deretan Nama Bayi yang Bakal Populer di 2018

Deretan Nama Bayi yang Bakal Populer di 2018

Health | Minggu, 26 November 2017 | 12:38 WIB

Festival Media AJI: Banyak Media Online Sebar Hoaks

Festival Media AJI: Banyak Media Online Sebar Hoaks

News | Minggu, 26 November 2017 | 12:23 WIB

Ustazah di Bekasi Dikeroyok karena Ceramah soal PKI? Hoaks

Ustazah di Bekasi Dikeroyok karena Ceramah soal PKI? Hoaks

News | Minggu, 26 November 2017 | 10:29 WIB

Terkini

Hindari Iritasi, Ini Cara Memilih Krim Malam Berdasarkan Jenis Kulit dan Usia

Hindari Iritasi, Ini Cara Memilih Krim Malam Berdasarkan Jenis Kulit dan Usia

Lifestyle | Rabu, 04 November 2026 | 08:09 WIB

Profil Herri Pras, Konten Kreator Dipolisikan usai Diduga Serang UAS dan UAH

Profil Herri Pras, Konten Kreator Dipolisikan usai Diduga Serang UAS dan UAH

Riau | Rabu, 04 November 2026 | 08:06 WIB

Rupiah Tertekan ke Rp18.145 per Dolar AS, BI Ungkap Tiga Biang Kerok Utamanya

Rupiah Tertekan ke Rp18.145 per Dolar AS, BI Ungkap Tiga Biang Kerok Utamanya

Bisnis | Rabu, 04 November 2026 | 07:55 WIB

Heboh Isu Pengerahan Pasukan Skala Besar ke Jakarta usai Listyo Tersangka, Ini Penjelasan TNI

Heboh Isu Pengerahan Pasukan Skala Besar ke Jakarta usai Listyo Tersangka, Ini Penjelasan TNI

News | Rabu, 04 November 2026 | 07:55 WIB

Singgung Pasal Makar Sadap Prabowo, Mahfud: Produk Final Sampai ke Solo untuk Ganggu Pemerintah

Singgung Pasal Makar Sadap Prabowo, Mahfud: Produk Final Sampai ke Solo untuk Ganggu Pemerintah

News | Rabu, 04 November 2026 | 07:50 WIB

Auto-Kenyal! 5 Rekomendasi Plumping Cream untuk Skin Barrier Sehat

Auto-Kenyal! 5 Rekomendasi Plumping Cream untuk Skin Barrier Sehat

Your Say | Rabu, 04 November 2026 | 07:50 WIB

Sindir Raksasa Sawit, Koalisi Sipil Siap Gelar Aksi di Dekat Pertemuan RSPO Terkait Bencana Karhutla

Sindir Raksasa Sawit, Koalisi Sipil Siap Gelar Aksi di Dekat Pertemuan RSPO Terkait Bencana Karhutla

News | Rabu, 04 November 2026 | 07:45 WIB

OJK Mendadak Turun Tangan Atasi Masalah MNC Bank, Ada Apa?

OJK Mendadak Turun Tangan Atasi Masalah MNC Bank, Ada Apa?

Bisnis | Rabu, 04 November 2026 | 07:32 WIB

Jenderal Listyo Tersangka Kasus Penyadapan, Siapa Pengganti Kepala Staf Presiden?

Jenderal Listyo Tersangka Kasus Penyadapan, Siapa Pengganti Kepala Staf Presiden?

Riau | Rabu, 04 November 2026 | 07:28 WIB

Raffi Ahmad Batal, Ndarboy Genk dan Bayu Skak Putuskan Mundur, GSI Youth Fest  di Solo Tetap Digelar

Raffi Ahmad Batal, Ndarboy Genk dan Bayu Skak Putuskan Mundur, GSI Youth Fest di Solo Tetap Digelar

Surakarta | Rabu, 04 November 2026 | 07:26 WIB

×