Saat Para Ketua Umum Parpol Antri Berebut Jadi Cawapres

Adhitya Himawan Suara.Com
Minggu, 29 April 2018 | 05:25 WIB
Saat Para Ketua Umum Parpol Antri Berebut Jadi Cawapres
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta. [Suara.com/Dian Kusumo Hapsari]

Dengan demikian menjadi sangat aneh ketika seseorang terjun ke dunia politik tanpa mendambakan kekuasaan. Ini juga berlaku bagi ketua umum partai yang ingin meraih posisi sebagai presiden atau setidaknya wakil presiden.

Namun, tentu untuk mewujudkan keinginan itu banyak faktor yang harus diperhitungkan. Paling tidak berapa perolehan suara partainya dalam pemilu, berita kursi yang dimiliki di parlemen, berapa tingkat keterpilihannya, modal sosial dan modal kapital yang dimilikinya.

Mengacu pada prasyarat itu apakah berarti para ketua umum yang mengincar posisi cawapres itu merasa telah memenuhinya? Belum tentu.

Bisa jadi mereka, terutama ketua umum papol papan sedang "nekat" ingin menjadi cawapres, baik terang-terangan maupun malu-malu, punya sasaran lain yang lebih mendesak. Kalaupun kemudian terpilih sebagai cawapres dan menang, ya alhamdulillah.

Sasaran lain itu adalah mengangkat moral dan semangat jajaran pengurus dan simpatisan partainya untuk bekerja lebih keras guna meraih suara dan kursi parlemen sebanyak-banyaknya.

Target tinggi dipatok untuk menggerakkan mesin partai agar berlari lebih kuat dan kencang. Ini bagian dari konsolidasi.

Apalagi ambang batas parlemen (parliamentary threshold) pada Pemilu 2019 ditetapkan empat persen, naik 0,5 dari Pemilu 2014 yang 3,5 persen.

Berikutnya adalah coattail effect. Definisi paling sederhana adalah seorang calon presiden yang populer akan memberikan efek positif kepada partai pengusungnya.

Mengacu pada beberapa hasil survei, tingkat popularitas dan elektabilitas Jokowi paling tinggi dibandingkan dengan kandidat yang lain.

Karena itu, wajar bila kehebohan soal cawapres ini ada pada pihak Jokowi daripada yang lain.

Akan tetapi, pada pemilu presiden yang lalu coattail effect ini ternyata tak seperti yang diharapkan.

Pada Pemilu Legislatif 2009, partai pengusung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Pilpres 2004 yang menikmati SBY effect hanya Partai Demokrat. PD meraih 20,85 persen suara, melompat tinggi dibandingkan hasil Pemilu 2004 yang "hanya" 7,45 persen.

PKS yang juga sebagai partai pengusung SBY pada Pilpres 2004, pada Pemilu 2009 mendapat suara 8,18 persen, naik sedikit dari Pemilu 2004 yang sebesar 7,34 persen.

Hasil berbagai survei belakangan ini juga menunjukkan di antara partai-partai pengusung dan pendukung Jokowi, hanya PDI Perjuangan yang mendapat kenikmatan besar dari Jokowi effect. Demikian juga dengan Prabowo effect yang membawa berkah paling besar pada Gerindra.

Pemilu 2019 adalah pemilu serentak. Pada 17 April 2019 rakyat akan memilih anggota legislatif sekaligus memilih presiden dan wakil presiden.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Bisa Ganti Pekerjaan, Apa Profesi Paling Pas Buat Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Tipe Traveler Macam Apa Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Member CORTIS yang Akan Kasih Kamu Cokelat Valentine?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Jodoh Motor, Kuda Besi Mana yang Paling Pas Buat Gaya Hidup Lo?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Jika Kamu adalah Mobil, Kepribadianmu seperti Merek Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI