“Raden Mas Tirtoadisoerjo//Nama kecilnya Djokomono//Keturunan Tirtonoto, Bupati Bodjonegoro. Pelajar Stovia di Jakarta//Penulis pembela bangsa//Membasmi sifat penjajah Belanda dengan tulisan yang sangat tajam penanya.”
“Membuka sejarah jurnalistika//’Medan Prijaji’ warta hariannya//’Soeloeh Keadilan’ dan ‘Poetri Hindia’ Ada dalam pegangan redaksinya//Tiap perbuatan dari penjajah yang akan membuat lemah terhadap nusa dan bangsa kita/diserang dan dibasmi dengan senjata penanya.”
“Akibat dari sangat tajamnya senjata penanya//Penjajah dengan kuasanya menjatuhkan hukumannya//Marhum Tirtoadisoerjo diasingkan dari tempat kediamannya.”
“Lampung adalah tempat tujuannya//Setibanya di pengasingan terus berjuang//Tak ada tempo yang terluang//Untuk membela nusa dan bangsanya//Pelopor jurnalistik Indonesia//Tahun 1875 adalah tahun lahirnya//Pada tahun 1917 wafatnya//Manggadua di Jakarta beliau dimakamkannya.”
Pramoedya, dalam buku “Sang Pemula”, mengungkapkan, syair itu menunjukkan rekam jejak Raden TAS meski terdapat sejumlah hal yang tak akurat, semisal tahun lahir dan kematiannya. Menurut Pram, Tirto lahir pada tahun 1880 dan wafat pada 1918.
Bagi Pramoedya, Tirto adalah tipologi komplet “manusia pemula” di Indonesia. Sebab, ia adalah bangsawan Jawa pertama yang secara sadar memasuki dunia perniagaan dengan jurnalistik sebagai sarana. Demi cita-cita kebangsaannya, Tirto tercatat tiga kali menolak tawaran menggiurkan menjadi pejabat di pemerintah Hindia Belanda.
“Dia secara terang-terangan menolak kecenderungan umum untuk menjadi pegawai negeri dengan kehormatan semu,” tulis Pramoedya.
Sebelum membangun surat kabarnya sendiri dan mengawali kiprah pers pribumi, Tirto adalah orang Indonesia pertama yang menjadi pemimpin redaksi sekaligus penanggungjawab pers Melayu milik asing.
Ia juga tergolong angkatan pertama penulis fiksi dalam bahasa Melayu Indonesia. Tirto merupakan pendiri organisasi modern pertama, Sarikat Prijaji pada tahun 1906. Tirto pula yang mendirikan Sarikat Dagang Islamiyah pada 1909, yakni cikal bakal Sarikat Islam sebagai organisasi perlawanan terbesar pertama terhadap kolonial Belanda.
Baca Juga: Juli, Jembatan Musi IV Palembang Mulai Terhubung Hilir ke Hulu
”Ia adalah juga salah seorang motor gerakan emansipasi, peseru untuk berdirinya perhimpunan wanita, yang semua kegiatannya berkisar di sekeliling ’Poetri Hindia’ mulai 1908. Melalui terbitan berkala itu, dilahirkan tidak kurang 35 pengarang wanita, tersebar di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi, yang setelah kepergiannya sebagian mandiri dengan berkala wanitanya sendiri. Sedang ’Poetri Hindia’ sebagai berkala wanita pribumi pertama pernah mendapat hadiah penghargaan dari Ibu Suri Emma, 1909,” catat Pramoedya pada halaman 9.
Dalam dunia jurnalistik, nama Tirto Adhi Soerjo kali pertama populer ketika ia berhasil membongkar ”Skandal Donner”. Skandal itu adalah konspirasi Residen Madiun bernama JJ Donner yang berkomplot dengan seluruh pejabat untuk menggulingkan Bupati Madiun Brotodiningrat.
Sejumlah artikel jurnalisik lainnya karya Tirto Adhi Soerjo, juga kental bernuansa edukasi serta pembelaan terhadap rakyat kecil yang ditekan oleh kebijakan-kebijakan kolonial.
Misalnya, dalam artikel ”Geraknya Bangsa Cina di Surabaya memusuh Handelsvereniging Amsterdam”(Soenda Berita no.16 Th.II, 19 Juni 1904, hlm 2-3), Tirto menceritakan seluk-beluk aksi boikot pedagang-pedagang pribumi sebagai aksi protes.
Tulisan ”Bangsa Cina di Priangan” (Soenda Berita no.17 Th II, 26 Juni 1904), Tirto membeberkan bahwa praktik lintah darat yang banyak membuat rakyat semakin miskin tidak berhubungan dengan ras. Sebab, praktik lintah darat juga dilakukan oleh orang Eropa, Arab, bahkan kaum pribumi sendiri.
Pada artikel ”Pelajaran buat Perempuan Bumiputera” (Soenda Berita no. 20, 21, 22, 23 Th II 1904), Tirto menyiarkan gagasan tentang kedudukan perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Meski masih ”ternoda” dengan nilai-nilai pragmatis, tulisannya ini menjadi pendorong banyak penulis perempuan kala itu untuk menggerakkan proyek emansipasi.